04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

AS Era Biden: A New Sick Man ?

Oleh: Rahmawati Ayu Kartini S.Pd
Pendidik

Joe Biden resmi menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) menggantikan Donald Trump setelah dilantik di halaman Gedung Capitol, Rabu, 20 Januari 2021 waktu setempat. Pengambilan sumpah Joe Biden dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts. 

Sejumlah pengamat politik internasional menganggap hingga hari terakhir Trump menjabat di Gedung Putih, ia mewariskan dunia yang lebih berbahaya bersama setumpuk masalah bagi AS. Masalah tersebut termasuk warga AS yang dinilai semakin terpecah, gerakan ekstremisme yang dipicu kerusuhan di Capitol Hill, hingga ancaman perang nuklir yang semakin signifikan setelah Iran kembali menaikkan tingkat pengayaan uranium.

Beban utang nasional AS saat ini sudah mencapai lebih dari US$ 27 triliun atau setara Rp 378 kuadriliun. Angka yang teramat tinggi bagi tingkat beban utang nasional. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa nasib ekonomi AS kian di tepi jurang krisis terhebat setelah perang dunia II.

Diakui jumlah kematian di AS akibat pandemi Covid-19 yang telah melampaui 400 ribu jiwa, Biden mencatat bahwa hanya sedikit orang dalam sejarah AS yang lebih tertantang untuk menghadapi masa-masa sulit tersebut.

Sementara PHK sedang berlangsung dengan kecepatan tinggi. Departemen Keuangan AS bahkan mencatat kondisi pengangguran saat ini jauh melampaui krisis keuangan global di AS pada periode 2008-2010, di mana saat itu Joe Biden menjabat sebagai Wakil Presiden Barack Obama.

Aksi kriminalitas dan diskriminasi secara terbuka meningkat di AS dengan sasaran penduduk keturunan Asia, seiring makin ganasnya serangan COVID-19 di sana.

Isu kemerosotan moral di Amerika Serikat, semakin mencuat setelah hasil jajak pendapat terbaru dirilis beberapa waktu lalu oleh lembaga polling Amerika, Gallup. Dalam hasil jajak pendapat tersebut, 77 persen responden percaya, nilai-nilai moral di tengah masyarakat Amerika jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya.
Individualisme ekstrem di Amerika turut berperan dalam kemerosotan moral di negara itu. Berdasarkan sebuah jajak pendapat, 93 persen warga Amerika yakin bahwa individu sendirilah yang menentukan perbuatan benar atau salah. 75 persen warga Amerika percaya, tidak ada satu standar pun yang bisa menjadi tolok ukur benar-salah dan 83 persen remaja Amerika memiliki keyakinan ini.

A New Sick Man ?

Tumpukan masalah dalam negeri menunjukkan AS dalam kondisi ‘A New Sick Man’. AS terancam bangkrut, akibat besarnya tanggungan utang yang berakibat pada negara gagal atau bangkrut. Kondisi demikian juga sekaligus menggambarkan bahwa, rezim kapitalisme yang selama ini dikomandani AS, terancam gagal total dalam menunjukkan kemampuannya dalam memperkuat ekonomi suatu negara serta mengatasi masalah sosial. Banyak generasi muda AS saat ini mengalami keraguan dengan nilai-nilai AS itu sendiri. Akhirnya nadi ideologis negara tersebut makin terkikis. Bahkan AS terlihat sempoyongan menghadapi wabah Covid-19 dan gelombang demonstrasi George Floyd dan rusuh Capitol Hill.

Di luar negeri, dominasi AS di kawasan Timur Tengah pun kian melemah seiring mengendurnya kekuatan Arab Saudi di Timur Tengah. Tindakan ala polisi dunia AS juga tidak memberi hasil yang memuaskan. Saudi selama ini menjadi mitra AS di Timur Tengah, namun posisi Saudi semakin terancam dengan kekuatan Iran. Cina yang kekuatan ekonominya makin mendunia, tak hanya menjadi kekuatan ekonomi dunia baru, tetapi juga menjadi ‘jagoan’ militer global menyaingi AS sebagai sherrif-nya dunia. Kini Negeri Tirai Bambu itu disebut mengembangkan senjata hipersonik yang bisa mengalahkan rudal balistik canggih Paman Sam. 

Trend politik internasional AS cenderung menurun walaupun masih memiliki kekuatan signifikan. Dengan bangkitnya kekuatan lain seperti Cina juga akan menggeser kepentingan strategis negara-negara satelit AS yang biasanya manut pada kepentingan AS.

Joe Biden mungkin akan membuat sejumlah kebijakan untuk politik dan ekonominya. Namun, efektifitas kebijakan dalam negeri dan luar negeri Biden pun masih harus diuji di tengah kemerosotan yang saat ini dialami AS.

Peluang Menggantikan AS

Untuk menggantikan kedudukan AS sebagai negara adidaya, perlu kekuatan yang dapat menandinginya. Karena AS adalah negara ideologis, maka yang bisa mengalahkannya adalah negara ideologis pula. Namun tentu bukanlah negara ideologi sosialisme komunis. Sebab walau pernah jadi lawan AS, pengemban utama sosialisme yakni Uni Soviet akhirnya runtuh juga. Juga bukan Cina. Sebab walaupun sempat mengkhawatirkan AS, semua ambisi Cina hanya untuk meluaskan pengaruh ekonominya saja, bukan ideologinya. Bagaimanapun pengaruh komunisme Cina hanya berhenti di internal negaranya dan tak meluas seperti Uni Soviet. Cina hanya mampu berpengaruh secara politik di wilayah-wilayah di sekitar garis perbatasannya.

Lalu, negara ideologi mana yang mampu menandingi AS? Dalam salah satu prediksi lembaga intelijen AS National Intelligence Council (NIC) tahun 2004 disebutkan kemungkinan di tahun 2020 munculnya sebuah entitas global baru yang bertajuk A New Caliphate, sebuah negara yang berideologi Islam. Saat ini kita telah memasuki masa yang yang dibicarakan NIC. Sebagaimana yang kita saksikan, kita mendapati kejadian luar biasa berskala global dan berpotensi merombak tatanan dunia. Isu khilafah dalam kajian NIC adalah perkiraan mereka terkait perkembangan “Islam Radikal”. Islam Radikal akan menyerukan muslim kembali kepada akar ajaran Islam kaffah.

Fakta yang menggembirakan saat ini umat Islam di belahan dunia mana pun, sedang berada pada kesadaran yang mengagumkan tentang persaudaraan mereka, serta pentingnya untuk bersatu dalam satu kepemimpinan berdasarkan syariah. Fakta-fakta terhampar di depan mata. Penindasan makin menjadi terhadap umat Islam di Suriah, Rohingya, Uyghur, dan lain-lain, sehingga membuka mata umat. Adanya wabah Covid-19 pun membuat banyak orang makin sadar akan kesalahannya yang tidak taat kepada syariat. Bahkan makin tampak nyata kejahatan ideologi kapitalisme yang menilai segala sesuatu dengan materi. Kesadaran umat untuk bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah makin besar.

Tercatat dalam tinta emas sejarah, bahwa umat ini pernah menjadi negara adidaya selama 1300 tahun. Saat itu umat Islam ditakuti dan disegani oleh umat dan bangsa-bangsa lainnya. Tidak seperti AS yang menyebarkan ideologinya dengan penjajahan dan kekejaman, Khilafah Islamiyah justru menyebarkan Islam dengan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Seperti yang disebut Will Durant, dalam bukunya yang berjudul, “ The Story of Civilization” mengakuinya:
“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.

Karena itu, bila faktanya sekarang umat Islam tidak memimpin tapi dipimpin, adalah keadaan yang tidak sesuai dengan nature umat ini. Jika melihat segala potensinya, umat ini mampu untuk bangkit dari tidurnya dan memiliki peluang kembali mewujudkan kegemilangan sejarahnya. Umat Islam harus menyadari bahwa jika segala potensi disatukan, maka mereka akan memiliki kekuatan yang lebih besar dari AS.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author