25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Demi Investasi, Keamanan Transportasi Hanya Ilusi

Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku)

Berita duka terus melanda negeri tercinta kita. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air memberi sebuah sentilan keras terhadap kredibilitas penerbangan Indonesia. Hal ini terjadi bukan sekali saja kecelakaan pesawat terbang di Indonesia. Ada beberapa faktor penyebab kecelakaan pesawat terbang, salah satunya kondisi pesawat itu sendiri laik terbang ataupun tidak. Hal yang paling menyedihkan banyak para ibu dan anak yang menjadi korban. Di sela mobilitas yang tinggi seharusnya dtunjang dengan kualitas terbaik alat dan pelayanan transportasi.

Menurut narasumber MMC terkait telaah dan analisis, Iin Eka Setiawati mengatakan terjadinya insiden kecelakaan pesawat di rentang tahun 1979–1997 sekitar 18 tahun ada 23 insiden. Dari 2002–2021 selama 13 tahun ada 13 insiden. Insiden meningkat membuktikan kualitas transportasi udara yang kian memburuk. Penyebab insiden ada dua faktor. Faktor pertama adalah faktor alam terlebih Indonesia punya karakteristik secara geografis, berpulau-pulau dengan jarak yang panjang, rentan berbenturan dengan kendala dari faktor alam seperti gunung merapi, cuaca buruk, dan lain-lain. Ini termasuk di luar kendali manusia. Namun, masih bisa dimaksimalkan oleh upaya, terlebih di zaman modern, cuaca masih bisa dideteksi dengan prakiraan. Bahkan tanda-tanda itu bisa diindra secara kasatmata.
Hal kedua adalah faktor human error, seperti halnya kesalahan dalam menceklis prosedur persiapan peralatan, faktor mekanik juga sangat berpengaruh karena tentu akan membahayakan kelancaran laju pesawat. Faktor yang tak kalah penting adalah minimnya SDM yang berkualitas. Standardisasi SDM cenderung seleksinya tidak serumit dahulu. (Muslimah Media Center: https://youtube.be/tM89oYUvWbg)

Menurut laporan dari KOMPAS.com, terjadi lagi kejadian nahas terjatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang bernomor seri Boeing 737-500 rute Jakarta-Pontianak, di wilayah perairan Kepulauan Seribu, dan usia pesawat sudah 26 tahun. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu, 9/1/2021. Menurut Suryanto Cahyono sebagai Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), usia pesawat 26 tahun, tetapi itu tidak berpengaruh besar pada kelaikan pesawat selama dirawat dengan baik sesuai aturan.
Begitu pun menurut Jeff Jauwena sebagai Dirut Sriwijaya Air menyatakan jika pesawat tersebut saat terbang dalam kondisi yang baik. Pesawat sempat menunda keberangkatan selama 30 menit dikarenakan cuaca buruk yang terjadi karena hujan deras. (KOMPAS.com,10/1/2021).
Menurut laporan Bisnis.com, Kemenhub sudah mencabut aturan lama dan menggantinya dengan aturan baru, bahwa batas usia pesawat angkutan niaga disesuaikan dengan aturan pabrikan. Menurut Dadun Kohar sebagai Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) mengatakan pencabutan aturan Permenhub No. 115/2016 karena diganti dengan Kepmenhub No. 115/2020, jadi pembatasan dikembalikan kepada aturan pabrikan yang tidak ada pembatasan usia pesawat. Menurutnya juga, regulasi yang baru ini akan memberi motivasi iklim investasi yang lebih menguntungkan. (Bisnis.com,10/7/2020).

Masyarakat tentunya sangat mendambakan transportasi yang memiliki jaminan keamanan, baik darat, laut, maupun udara. Namun, harapan itu saat ini sulit terwujud karena jumlah kecelakaan setiap tahunnya menempati jumlah yang signifikan.Tengok saja bagaimana penguasa saat ini masih saja abai dalam menjamin keamanan dalam transportasi. Banyak pesawat yang masih diperbolehkan terbang padahal usia pesawat tersebut sudah lebih tua enam tahun dari batas aturan usia terbang.

Inilah bukti sistem kapitalisme yang memiliki anggapan transportasi adalah bagian dari produk industri untuk menghasilkan keuntungan yang berupa materi dengan sebanyak-banyaknya. Transportasi menjadi bagian penting untuk diswastakan dan orientasinya hanya untuk bisnis, tidak lagi berfungsi sebagai pelayanan publik oleh negara.

Namun, seperti monster yang siap menyergap kondisi keselamatan terutama ibu dan anak. Negara hanya berfungsi maksimal untuk kepentingan komersial, bukan badan utama yang mampu mengendalikan semua dan memberikan jaminan dengan upaya maksimal.

Bagaimana dengan cara kerja sistem Islam dalam menjamin keselamatan bertransportasi untuk warga negara? Jawabannya tentu berbeda cara dan tujuan dengan sistem kapitalisme sekuler. Islam memandang bahwa negara harus memberikan pelayanan yang sepenuh hati, tidak menyerahkan kepada swasta, apalagi hanya mengejar nilai bisnis semata. Tujuan pelayanan publik terealisasi dengan baik.
Kemudian, negara mengatur dengan maksimal penataan kota, seperti halnya pemilihan ibu kota negara yang dirancang sedemikian rupa karena Islam memiliki pandangan bahwa pengelolaan pelayanan publik termasuk membangun infrastruktur adalah kewajiban negara. Penduduk dalam satu wilayah diatur dengan jumlah tertentu sehingga sarana dan prasarana yang ada memadai.
Kebijakan seperti itu akan mengurangi kebutuhan warga dalam menggunakan alat transportasi. Setiap kebutuhan warga dialokasikan dengan proporsional. Seperti tempat-tempat umum yang dibangun dengan jarak yang tidak jauh. Itu membuktikan keseriusan negara dalam mengurusi kebutuhan warga sehingga tidak membutuhkan akses besar ke luar wilayah yang jauh.

Salah satu contoh keberhasilan Islam membuktikan prinsip ini ketika membangun Baghdad sebagai ibu kota. Di mana penduduk tidak perlu menempuh rute yang memakan waktu agar terpenuhi semua kebutuhan, seperti menuntut ilmu, berobat, bekerja, belanja, ataupun bertamasya. Semua efektif dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Negara harus menjamin dan menyediakan jalur-jalur transportasi yang memadai dan aman bagi warga negara. Tidak melulu harus disandingkan dengan harga tiket yang melambung tinggi, seharusnya penghargaan untuk nyawa manusia adalah nilai pencapaian yang hakiki. Tidak boleh asal jadi dan sekadar ada. Tarif harus bisa dijangkau dan tidak menyulitkan, moda atau fasilitas yang harus senantiasa prima dan baru. Pijakan utama adalah pelayanan yang aman, nyaman, dan menyelamatkan. Bukan hanya mengejar keuntungan beberapa pihak, tetapi mengorbankan masyarakat secara sepihak.
Ilmu pengetahuan serta pengembangan teknologi pun ditingkatkan kualitasnya agar lebih mutakhir. Ilmuwan muslim dari Andalusia bernama Abbas Ibn Firnas bin Wirdas at-Takurini al-Andalusi al-Qurthubi, yang hidup di sekitar abad kesembilan. Ia menjadi pilot pertama di dunia.

Sistem Islam terbukti memberikan jaminan yang aman dan nyaman dalam bidang transportasi kepada warganya hingga abad ke-19 dalam naungan Khilafah Utsmaniyah. Islam pun sangat konsisten dalam menerapkan ekonomi Islam yang memiliki sinergi mumpuni dengan sistem transportasi, karena seyogianya pengaruh sistem ekonomi begitu besar pada kondisi transportasi dalam satu negara. Masihkah kita mau diperalat sebagai korban kapitalisasi dari wajah negeri ini? Bahkan demi investasi yang menggiurkan, keselamatan nyawa warga dikesampingkan.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author