26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Ajarannya Dijegal, Wakafnya Diambil

Oleh : Adibah NF
Komunitas Rindu Syariah

Kondisi negeri ini sungguh luar biasa. Berbagai problem yang muncul terus berganti tanpa henti. Kebijakan demi kebijakan pun dibuat hanya untuk mengelabui rakyat yang dianggap selalu menuruti. Tak kenal apakah kebijakannya bertentangan dengan hati nurani, mempertahankan posisi atau hanya terbawa emosi. Semuanya akan dipertahankan demi kemaslahatan sendiri. Yang penting sejalan dengan keinginan dan kepentingan para korporat yang menjadi tuannya.

Sejalan dengan kepentingan berbagai pihak, apa yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo yang dilansir oleh Kompas.com pada Senin (25/1/2021) mengenai Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) di Istana Negara. Saat itu presiden mengatakan pemanfaatan wakaf uang tak hanya terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi juga sosial dan ekonomi. Harapannya untuk bisa mengurangi angka kemiskinan serta ketimpangan sosial di masyarakat. Dengan memperluas cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah akan tetapi dikembangkan untuk sosial ekonomi.

Demikian pula Sri Mulyani, sebagai Menteri Keuangan, mengajak masyarakat untuk berinvestasi di sukuk wakaf yang dinilainya ada potensi yang sangat besar. Bernilai sekitar Rp217 triliun atau setara 314 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dimana hal itu berasal dari 74 juta penduduk dari kelas menengah. Hal ini disampaikan pada saat konferensi pers virtual Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia sebagaimana dilansir oleh Republika.co.id pada Sabtu (24/10/2020).

Selaku Wakil Presiden, Ma’ruf Amin pun menambahkan apa yang dikatakan Sri Mulyani. Bahwa pemerintah berencana membuat gerakan nasional untuk pengumpulan wakaf tunai, yang selama ini hanya digunakan untuk kegiatan masjid, madrasah atau pemakaman. Tapi bisa dikembangkan melalui penguatan dan perluasan dana sosial syariah yang mencakup zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF). Dari wakaf bisa melalui Gerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT) untuk perluasan partisipasi seluruh masyarakat.

Gerakan ini pun melahirkan pro dan kontra. Banyak penolakan dari masyarakat. Terutama karena ketidak percayaan masyarakat pada sikap amanah penguasa di tengah ramainya korupsi Bansos, Jiwasraya hingga Asabri. Rekam jejak penguasa selama ini pula yang sering memojokkan ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan syariah yang mengatur wilayah publik dan negara. Label radikalisme pada para aktivis Islam yang konsen terhadap Islam kaffah, kriminalisasi ulama yang tidak sepaham dengan penguasa juga sering terjadi.

Inilah wajah buruk sistem kapitalisme, dalam kaitannya dengan umat Islam mereka bersikap zalim. Namun giliran dana yang dimilikinya, umat didorong mengeluarkan dananya untuk menutupi borok kelemahan sistem kapitalisme. Sementara aspirasi umat untuk melaksanakan ajaran Islam secara kaffah justru dicampakkan bahkan didiskriminasi.

Pandangan Islam terhadap Hukum Wakaf Uang

Wakaf tunai (waqf an-Nuqud, cah waqf) adalah wakaf dalam bentuk uang. Caranya dengan menjadikan uang wakaf sebagai modal dalam akad mudharabah, yang keuntungannya disalurkan sebagai wakaf, atau dengan meminjamkan uang dalam akad pinjaman (qard). (Abu Su’ud Muhammad, Risalah bi waqf al-Nuqud, hlm.20-21; Fiqh al-Waqf fi al-Syariah al-Islamiyah, 2/239)

Berkaitan dengan wakaf uang di Indonesia sendiri sudah difatwakan kebolehannya oleh Komisi Fatwa MUI Pusat tanggal 11 Mei 2002 dan telah mendapat legalitas berdasarkan UU No 41/2004 tentang wakaf.

Mengenai wakaf uang ini ada beberapa perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan wakaf tunai tidak sah, ada juga yang membolehkan wakaf tunai dengan alasan berbeda. Namun perbedaan tersebut berkaitan dengan uang sebagai barang wakaf. Apakah bendanya akan lenyap atau tetap sebagaimana arti dari wakaf itu sendiri yakni menahan harta pokok menurut yang tidak membolehkan. Kalau lenyap tidak sah. Bagi yang membolehkan alasannya karena uang yang diwakafkan tidak lenyap karena disediakan pengganti uang yang senilai.

Mencermati masalah wakaf uang ini, semakin memperjelas bagaimana sikap pemerintah. Mereka akan ramah pada hukum Islam yang satu dan mewaspadai hukum Islam yang lain. Jika ada hukum yang berkaitan dengan masalah individu dan keluarga namun bernilai dan berpotensi bisa dimanfaatkan seperti dana haji, zakat, dan wakaf, maka diambil. Di sisi lain tidak mau menerima bahkan cenderung memusuhi hukum Islam yang berkaitan dengan penerapan syariah dalam bidang sosial, politik, hukum dan pemerintahan. Dakwah Islam yang menyerukan syariah secara kaffah dianggap intoleran dan radikal.

Dalam Islam wakaf merupakan ibadah sebagaimana zakat. Bukan semata-mata sumber ekonomi dan pembangunan. Akan tetapi kebaikannya telah turut andil dalam membangun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Terlebih jika diterapkannya dalam sistem yang baik seperti masa keemasan Islam, di masa Kekhilafahan masa lalu.

Dalam sejarah dikenal bagaimana sumber air (sumur), pasar, rumah sakit hingga sekolah-universitas dibangun dengan skema wakaf oleh umat Islam. Perbuatan ini terus dipelihara dan dilanjutkan oleh generasi Muslim pasca Sahabat (Tabi’in), pasca Tabi’in (Tabi’at Tabi’in) dan setelah mereka sepanjang sejarah kekhilafahan Islam. Salah satu wakaf terbesar dan terkenal khususnya di bidang pendidikan, adalah pusat pendidikan Islam sekaligus universitas Al-Azhar di Mesir. Yang memberikan pendidikan gratis kepada para pelajar dan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia, yang melahirkan ratusan ribu ulama terkemuka di dunia hingga kini.

Semestinya bisa belajar dari apa yang Allah Swt. perintahkan kepada hamba-Nya. Yakni bentuk totalitas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang bisa dirasakan dengan mengamalkan semua syariah-Nya. Tanpa memilih.

Allah Swt. berfirman,

“Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab (Taurat) dan mengingkari sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat.” (TQS. al-Baqarah [2]: 85)

Wallahu a’lam bishawwab.

About Post Author