04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Waspadai, Pendangkalan Akidah Mengancam Generasi!

Oleh Ummu Mubarak
Ibu Rumah Tangga

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Peribahasa di atas sudah familiar di tengah-tengah masyarakat. Sosok guru, digugu dan ditiru. Dia memiliki arti dan peran penting. Tanggung jawab yang besar ada di pundaknya, karena gurulah yang akan mendidik dan membina generasi agar mempunyai kepribadian Islam yang mumpuni. Tetapi, di sistem sekarang makna guru sudah ternodai dengan dibolehkannya guru Kristen mengajar di madrasah.

Sebelumnya beredar kabar, Eti Kurniawati, calon pegawai negeri sipil (CPNS) kaget ketika melihat SK pengangkatan sebagai guru CPNS, karena dia diterima di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanah Toraja. Eti yang mengaku alumni Geografi Universitas Negeri Makassar (UNM) beragama Kristen. Kontan, pro dan kontra pun muncul atas kebijakan kemenag tersebut.

Dilansir oleh SuaraSulsel.id, (30/1/2021). Andi syaifullah, Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah sudah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia. Tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30. Di pasal tersebut, dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khusus pada poin a), yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam.” terang Andi Syaifullah.

Terlihat, ada upaya sistematis melalui Kemenag ketika mengeluarkan kebijakan tersebut. Ini sejalan dengan arus moderasi yang sedang digencarkan oleh pemerintah, baik terkait kurikulum sekolah atau tata cara pengangkatan guru.

“Kan guru nonmuslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Jadi saya pikir tidak ada masalah. Bahkan ini salah satu manifestasi dan moderasi beragama, di mana Islam tidak menjadi eksklusif bagi agama lainnya,” ungkapnya lagi.

Dalam Laporan Rand Corporation berjudul Building Moderate Muslim Network yang terbit tahun 2007, menyebutkan karakter muslim moderat adalah: muslim yang mendukung demokrasi dan pengakuan internasional atas hak asasi manusia, kesetaraan gender, kebebasan beribadah, menghargai keberagaman. Termasuk mengusung ide pluralisme, yaitu mengakui bahwa semua agama benar. Mereka mengambil pasal 30 poin a, sebagai dalil bolehnya mengangkat guru nonmuslim di sekolah-sekolah Islam.

Saatnya, kita menolak moderasi dengan mencampakkan kapitalisme demokrasi sebagai induk dari segala kerusakan yang terjadi. Karena dengan memberikan peluang guru nonmuslim mengajar di madrasah sama artinya dengan membuka pintu pendangkalan akidah bagi generasi Islam. Kalau dibiarkan virus ini akan mengancam anak-anak didik sebagai penerus di masa depan. Mereka akan mendapatkan pengajaran dari sosok guru yang mempunyai kepribadian sekuler.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya secara sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia. Sehingga dari pendidikan tadi akan melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan tehnologi/PITEK), dan memiliki kepribadian yang tepat guna dan berdaya guna.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, keberadaan peranan guru sangat penting. Karena sosoknya bukan hanya sebagai penyampai mata pelajaran (transfer of knowledge), tetapi sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan (uswah) yang baik. Guru harus memiliki kekuatan akhlak yang baik agar menjadi panutan sekaligus profesional.

Islam memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Negara bukan hanya mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khilafah satu-satunya institusi yang bisa menjaga generasi dari upaya pendangkalan akidah oleh musuh-musuh Islam. Saatnya, umat Islam bersatu untuk memperjuangkan tegaknya kembali khilafah Islam. Karena mengembalikan khilafah Islam yang terakhir adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author