26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Radikalisme Alat Propaganda Barat


Oleh : Ummi Nissa
Komunitas Muslimah Rindu Surga

Jargon perang melawan radikalisme masih menjadi isu sentral yang terus digaungkan Barat dalam rangka menghentikan laju kebangkitan Islam. Pemerintah dalam hal ini pun nampaknya sejalan dengan keinginan mereka. Dalam mewaspadai adanya gerakan radikal, berbagai kebijakan dikeluarkan sebagai bentuk keseriusan dalam memerangi isu ini. Diantaranya pembersihan pegawai pemerintah di berbagai intansi dari mulai tahap seleksi pencalonan ASN sampai yang sudah resmi terus diawasi agar tidak terpapar radikalisme ini.
Seperti yang dilansir oleh timeindonesia.com Bandung (23/1/2021) Anggota Komisi III DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat radikalisme harus dipecat. Hal itu menurutnya perlu dilakukan untuk memberikan punishment dan efek jera, dalam rangka memberantas radikalisme di kalangan ASN, termasuk pada lingkungan kampus, seperti mahasiswa dan pejabat rektorat.
Menurutnya, semua tindakan pencegahan dini itu harus dilakukan agar Indonesia mendapat thrust (kepercayaan) internasional untuk berinvestasi melalui kepastian hukum. Termasuk bagi warga sendiri bisa aman nyaman dalam hidup bernegara dan berdemokrasi.
Narasi Islam radikal menjadi istilah yang tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Namum sayangnya kosa kata ini dimaknai dengan pengertian yang bias dari makna sebenarnya dan lebih diidentikkan pada makna negatif melalui berbagai upaya penyesatan opini. Pada dasarnya, radikal dalam makna luas lebih mengacu pada hal-hal mendasar, pokok, dan esensial. Hanya saja, Barat telah menciptakan makna Islam radikal dengan interpretasi yang mengarah pada hal negatif, berdarah-darah, “fanatik”, dan cenderung tak mengenal kompromi atas keberagaman/intoleran, tidak pancasilais dan anti Barat serta berjuang untuk menegakkan syari’ah secara kaffah.
Masyarakat digiring dengan propaganda ini untuk melawan radikalisme. Tak ayal Istilah Islam radikal menjelma menjadi alat yang digunakan untuk memusuhi siapa saja yang berseberangan dengan kepentingan Barat. Dalam balutan kapitalisme sekuler dan rezim yang menjadi anteknya, julukan ini secara sistematis disematkan pada pihak-pihak yang menentang ideologi mereka, termasuk syariah Islam kaffah yang berkehendak mengeliminasi hegemoni penjajah.
Rupa-rupanya geliat kebangkitan Islam menjadi hal yang paling menakutkan bagi pengusung paham kufur, Islam dianggap akan menghambat kepentingan para kapitalis yang saat ini menguasai negeri-negeri muslim termasuk Indonesia. Apalagi semenjak dunia menghadapi pandemi global seperti sekarang kondisi perekonomian semakin terpuruk.
Berbagai kebijakan yang dikeluarkan sebagai upaya memerangi radikalisme, sejatinya merupakan usaha mempertahankan kepentingan neo imperialisme dalam menguasai kaum muslimin. Akibatnya masyarakat yang kritis tidak mampu bersuara. Padahal saat ini sistem kaptalis sekuler yang mereka agung-agungkan tengah berada dalam kondisi colaps yang tinggal menunggu ajal kematiannya.
Jika kita kembali pada makna sebenarnya, Islam radikal artinya, kembali pada Islam secara mendasar dalam hal ini kembali pada akidah. Pondasi yang paling dasar pada diri seorang muslim adalah keyakinannya pada Allah Swt. Yang Mahapencipta sekaligus Mahapengatur Sehingga konsekuensi dari keyakinan ini mewajibkan setiap muslim tunduk dan taat kepada aturan Allah Swt. secara menyeluruh sebagaimana firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Islam radikal yang diinterpretasikan Barat saat ini identik dengan tindakan negatif, sungguh tak memiliki fakta. Jadi tampaklah bahwa Istilah isu radikalisme hanyalah alat propaganda Barat untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya, termasuk mengkampanyekan islamophobia pada diri kaum muslimin. Sejatinya Islam radikal dengan makna kapitalisme Barat hanyalah bualan, propaganda ciptaan yang tujuannya jelas, menghalangi bangkitnya Islam kaffah.
Dengan demikian umat Islam wajib terikat pada aturan Allah secara kaffah termasuk dalam aktivitas amar ma,ruf nahyi mungkar. Maka wajib menyampaikan Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda nabi Muhamad saw. Beliau mendakwahkan Islam dengan lemah lembut tanpa paksaan dan juga kekerasan.
Wallahu a’lam bishawab

About Post Author