04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Atas Nama Moderasi, Korbankan Generasi

Ummu Qutuz
Ummahat dan Member AMK

Kebijakkan kontroversial kembali muncul dari Kementrian Agama. Berita seorang CPNS yang beragama nasrani bernama Eti Kurniawati ditempatkan di Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan. Inilah kali pertama seorang guru nonmuslim diangkat menjadi guru di madrasah, sekolah dengan ciri khas Islam.

Dilansir dari cnnindonesia.com, 1/2/21, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementrian Agama, Muhammad Zain menyebutkan, tidak ada masalah guru nonmuslim di madrasah karena hal itu sudah sejalan dengan sistem merit. Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen SDM yang berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar. Kebijakan itu juga tak membedakan latar belakang politik, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan.

Demikian pula menurut Andi Syaifullah, Analisis Kepegawaian Kementrian Agama Sulsel mengatakan bahwa guru nonmuslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajar mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Jadi menurutnya tidak masalah. Bahkan ini adalah satu manifestasi dari moderasi beragama ketika Islam tidak menjadi eksklusif bagi agama lainnya (cnnindonesia.com. 1/2/21).

Lagi-lagi moderasi beragama menjadi alasan dari kebijakan Kemenag ini. Kampanye moderasi beragama terus ditancapkan di negeri-negeri Islam termasuk di Indonesia. Di lingkungan sekolah, nilai-nilai moderasi beragama diwujudkan oleh Kemenag melalui program TOT guru dan dosen, penyusunan modul membangun karakter moderat serta madrasah ramah anak.

Salah satu bentuk aksi yang dilakukan dalam moderasi beragama di sekolah adalah dengan mengganti pengisi kegiatan Rohis dengan mentor-mentor dari organisasi yang mainstream dan moderat serta memfungsikan guru pendidikan agama Islam sendiri. Sekolah juga menghentikan kerjasama dengan organisasi-organisasi yang dinilai membawa paham radikal.

Berbagai program moderasi beragama terus diluncurkan dalam rangka memoderatkan generasi muslim negeri ini. Moderasi yang dimaksud adalah cara memandang dalam beragama secara moderat yaitu dengan tidak ekstrem memandang dan mengamalkan ajaran agama.

Kampanye moderasi beragama hakikatnya adalah usaha agar Islam tidak tampil sebagai kekuatan nyata dalam memberikan solusi terhadap seluruh permasalahan umat manusia, seperti apa yang diungkapkan oleh Ustadz Yuana Ryan Tresna (muslimahnews.co. 29/1/21). Dengan moderasi beragama ini generasi muslim dipaksa agar tidak memiliki identitas muslim sejati atas nama toleransi.

Generasi muda muslim saat ini sedang dibidik, karena mereka adalah sebagai pelanjut estafet negeri ini dalam penguatan moderasi beragama. Maka generasi Z ini dalam arus moderasi beragama, diarahkan menjadi generasi sekuler, yang inklusif/terbuka dan sangat toleran. Mereka dicetak untuk menjadi generasi muda muslim berkarakter barat pemuja kebebasan. Sehingga tak tampak lagi jati diri muslimnya. Na’udzubillahi min dzalik

Agar generasi tak terus tergerus arus moderasi beragama, maka peran guru sangatlah penting. Dalam Islam, guru tidak sekedar mengajar dan menyampaikan materi pelajaran. Melainkan juga mendidik dan mencetak kepribadian pada anak didiknya. Guru bukan saja digugu dan ditiru perkataannya, namun ia juga sebagai suri teladan. Teladan adalah unsur penting dalam penilaian baik dan buruknya seorang guru. Peran teladan inilah yang sangat penting pada seorang guru dalam rangka membentuk kepribadian muridnya. Guru harus menjadi panutan dalam kepribadian, penampilan, karakter, daya pengaruh serta akhlak. Maka seorang guru harus memiliki sifat jujur, amanah, mulia, berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik agar murid-muridnya pun mengikutinya.

Guru wajib mengajarkan metode berfikir yang benar, tidak rida terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syari’at dan terus menyampaikan kebenaran. Kewajiban guru yang tak kalah penting adalah menampakkan kerusakan kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme, juga keburukan demokrasi. Mereka harus berperan dalam memerangi ide-ide kufur tersebut berikut menjelaskan kepalsuan dan bahayanya.

Berkaitan dengan penempatan guru nasrani di madrasah, tampak jelas bahwa yang menjadi dasar keputusan tersebut adalah terkait tujuan menyukseskan agenda moderasi Islam. Tentu keputusan ini akan membawa kemudaratan bagi generasi Islam. Bayangkan jika tenaga pendidik yang direkrut dalam pendidikan Islam tidak sama akidahnya, maka suatu hal yang mustahil akan diperoleh output pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

Moderasi Islam hakikatnya adalah agenda pesanan Barat yang terus diaruskan untuk menjauhkan umat dari Islam ideologi. Barat merasa terancam keberadaannya oleh geliat kebangkitan Islam. Fakta ini tentu tak boleh dianggap remeh. Walaupun baru satu kasus yang terungkap kepermukaan, umat Islam harus lebih waspada. Boleh jadi kasus ini sebagai kunci pembuka bagi legitimasi proyek pendangkalan akidah generasi dari dalam satuan pendidikan Islam. Salah satunya dengan membuka ruang untuk guru-guru nonmuslim mengajar di sekolah-sekolah Islam.

Maka sudah saatnya umat sadar, bahwa mereka membutuhkan tegaknya sistem Islam yang akan mengembalikan pendidikan pada tujuan hakikinya yaitu membangun generasi cemerlang sebagai pemimpin peradaban Islam di masa depan. Sistem ini tidak lain adalah sistem khilafah yang telah berkuasa selama tiga belas abad lebih. Mari bersama-sama kita berjuang untuk mewujudkan kembali Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwah.

Wallahu’alam Bishshawwab

About Post Author