04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Penjara tak Membuat Jera, Narkoba kian Menggurita

Oleh Sartinah
Relawan Media, Member AMK

Gurita narkoba telah mencapai level mengkhawatirkan. Di tengah merebaknya pandemi yang masih belum melandai, narkoba menjadi momok lain yang juga mengancam nyawa manusia. Bahkan beberapa daerah di negeri ini terkategori sebagai zona merah peredaran narkoba. Salah satunya di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Hal ini berdasarkan pemetaan sepanjang tahun 2020 oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menyebut, terdapat enam belas kelurahan di tujuh kecamatan yang masuk kategori zona merah bahaya narkoba di Kota Kendari. Ke-7 kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kendari, Kendari Barat, Mandonga, Kadia, Puuwatu, Wua-wua, dan Kambu. (antaranews.com, 28/1/2021)

Penyuluh Narkoba Ahli Madya BNNP Sultra Harmawati di Kendari menyebut, ada delapan indikator suatu daerah dikatakan rawan narkoba yaitu adanya kasus kejahatan narkoba, angka kriminalitas, adanya bandar/pengedar narkoba, kegiatan produksi narkoba, angka penggunaan narkoba, barang bukti, pintu masuk, dan adanya kurir narkoba. Sedangkan indikator pendukung yaitu adanya tempat hiburan, rumah indekos dan hunian privasi tinggi, angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik, dan rendahnya interaksi sosial,

Mirisnya, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan daerah zona merah rawan narkoba di Kendari. Pada tahun 2018 ada sembilan daerah di lima kecamatan. Sedangkan di tahun 2020 meningkat menjadi enam belas daerah di tujuh kecamatan. Meski terdapat peningkatan daerah rawan narkoba di tahun 2020, tetapi hasil tangkapan barang bukti dan pengungkapan kasusnya justru mengalami penurunan sebanyak lima puluh persen. Pada 2018 BNNP berhasil mengungkap lebih 10 kg, sementara barang bukti yang berhasil diamankan di tahun 2020 hanya 4 kg lebih.

Kondisi ini layak menjadi perhatian semua pihak, mengapa narkoba terus merajalela dan sulit diberantas. Maraknya peredaran narkoba menjadi fakta miris di tengah degradasi moral yang terus terjadi. Meski jeruji besi menanti, seolah tidak ada kata jera terhadap narkoba. Para penikmat dan pengedar narkoba tetap saja meningkat. Bahkan rehabilitasi pun tidak mampu melepas ketergantungan dari lingkaran setan narkoba.

Sanksi pidana yang tidak memberi efek jera menjadi salah satu penyebab semakin maraknya peredaran narkoba. Penyebab lainnya adalah problem kesejahteraan yang masih belum mampu diselesaikan hingga kini. Himpitan ekonomi sering kali membuat banyak orang rela menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di samping itu, penerapan sistem kapitalisme sekuler membuat peredaran narkoba kian eksis. Sekularisme yang melahirkan paham kebebasan menjadikan setiap orang bebas melakukan tindakan apa pun tanpa peduli halal dan haram. Maka tidak heran jika aktivitas mengonsumsi dan mengedarkan narkoba menjadi hal lumrah di tengah masyarakat yang sekuler.

Sejatinya, penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu jenis kejahatan. Sebagaimana kejahatan lainnya, siapa pun yang terkait dengan narkoba akan dikenai hukuman berat. Baik terhadap para pengguna, pembuat, pengedar, maupun bandar.

Narkoba dan berbagai kejahatan lainnya akan mudah diminimalisasi bahkan dihilangkan, jika menggunakan sistem rancangan ilahi, yakni Islam sebagai solusi. Sebab, Islam adalah sistem paripurna yang mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan, termasuk narkoba. Islam telah mengharamkan narkoba, sebagaimana halnya mengharamkan minuman beralkohol.

Islam menerapkan beberapa hal untuk memberantas kejahatan narkoba hingga ke akarnya. Pertama, mewajibkan ketakwaan setiap individu kepada Allah Swt. Selain itu, memahamkan masyarakat bahwa mengonsumsi barang haram akan dimurkai Allah, apalagi memproduksi dan mengedarkannya. Sebab, kelak di akhirat akan diminta pertanggungjawaban terkait perbuatannya.

Kedua, penegakan hukum pidana Islam oleh negara. Hukum pidana Islam berfungsi sebagai penebus dan pencegah. Di samping membuat jera, hukum pidana Islam bersifat ruhiah. Para pengguna akan dikenakan hukuman berat berupa penjara sampai lima belas tahun ataupun denda yang besarnya diserahkan kepada qadhi (hakim). (al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât, hlm. 189)

Ketiga, konsistensi dalam menegakkan hukum. Siapa saja yang mengonsumsi serta kecanduan narkoba harus dihukum berat Demikian juga bagi semua yang terlibat dalam pembuatan dan peredarannya.

Keempat, adanya aparat penegak hukum yang bertakwa. Sistem pidana Islam yang berasal dari Allah Swt. meniscayakan lahirnya para penegak hukum yang bertakwa. Di atas dasar takwanya, hukum tidak akan mudah diperjualbelikan.

Demikianlah, narkoba hanya mungkin diputus peredarannya jika terjadi sinergi antara ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan penerapan hukum oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan. Di bawah naungan Islam, harapan terbebas dari belenggu narkoba bukanlah sebuah khayalan.
Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author