29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Masalah Covid-19 tak Kunjung Usai, Islam Solusinya


Oleh Lailah Albarokah
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat dakwah
Pandemi Covid-19 masih belum usai, bahkan hingga kini masih terus memakan korban. Angka kematian juga semakin bertambah. Walaupun jumlah yang sembuh juga meningkat, namun hal tersebut tidak dapat menutupi kecemasan masyarakat.
Satgas Covid-19 merilis, total kasus Covid-19 atau pasien positif corona di Indonesia per Rabu sore, 10 Februari 2021 mencapai 1.183.555 orang. Angka ini didapat setelah penambahan pasien corona sebanyak 8.776 orang dalam 24 jam terakhir.
Demikian pula halnya yang terjadi di kabupaten Bandung, kasus penyebaran terus bertambah. Baru-baru ini kabar mengejutkan datang dari wilayah Bandung Timur ketika Kepala Desa Cinunuk, H.Sesep Ruhiat menjadi salah satu korban yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis 4 Februari 2021 setelah 3 hari dirawat di Rumah Sakit AMC. (jabarekspres.com Kamis 4/2/2021).
Sejak pertama kali kemunculan covid-19 diumumkan, yaitu pada tanggal 2 Maret 2020, semua pihak menunggu upaya pemerintah untuk melakukan penanganan secara efektif dan efisien. Namun sayang sampai saat ini kebijakan yang dibuat untuk menanganinya masih belum membuahkan hasil yang maksimal, bahkan tidak sedikit yang menyimpulkan gagal.
Kebijakan penerapan PSBB, kemudian PSBM, dan yang terbaru PPKM skala mikro hanyalah berganti istilah yang diragukan keberhasilannya.
Penanganan dengan mendudukan kesehatan dan ekonomi sama-sama penting, nyatanya kesehatan kian memburuk, ekonomi terpuruk. Penyebaran virus corona semakin tak terkendali, gelombang PHK tak mampu berhenti.
Ada dua ketakutan menghinggapi masyarakat, terutama masyarakat kecil, takut mati terjangkit virus corona dan takut mati karena kelaparan. Kalau sudah seperti ini, semestinya bantuan ekonomi bagi masyarakat terdampak menjadi prioritas utama agar mereka mampu bertahan, disamping tetap fokus atasi pandemi. Namun alih-alih menyelamatkan, pemerintah justru menetapkan kebijakan yang minim empati terhadap rakyatnya. Bayangkan saja, dalam keadaan sulit menghimpit pemerintah mengabarkan pembangunan Ibu Kota akan tetap terus berjalan.
Kemana hati nurani mereka, dimana ketika kampanye selalu mengatasnamakan rakya?. Tidakkah mereka berfikir untuk mengalihkan biaya pembangunan ibu kota kepada kebutuhan yang sangat mendesak? Tidak sedikit yang sudah memberikan pandangannya kepada penguasa agar fokus tangani pandemi beserta dampaknya. Kepentingan rakyat secara keseluruhan mesti menjadi perhatian utama di bawah tanggung jawabnya.
Harapan hanyalah sebatas angan, sebab selama sistem yang diterapkan di negeri ini adalah sistem yang mengedepankan keuntungan, meminggirkan kepentingan rakyat yaitu kapitalisme sekular sampai kapanpun akan selalu berpihak kepada para kapital/pemilik modal. Pembangunan ibu kota adalah proyek para kapital sehingga tidak bisa diberhentikan walaupun menelan modal yang fantastis.
Kapitalisme sangat jauh berbeda dengan prinsip-prinsip yang ada pada sistem Islam, khususnya ketika mengalami musibah wabah. Penguasa akan memprioritaskan penyelamatan nyawa rakyat di atas kepentingan lainnya, baik ekonomi, pembangunan, politik ataupun pribadi.
Seorang pemimpin dalam pemerintahan Islam akan bersegera mencegah penyebaran, dengan cara melakukan isolasi pada orang-orang yang terjangkit penyakit, agar tidak terjadi penularan. Kebijakan demikian dicontohkan oleh Rasulullah saw. serta diikuti para khalifah sesudahnya. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw.:
“Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu. Dan apabila terjadi wabah kamu sedang berada ditempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR lmam Muslim)
Tercatat dalam sejarah, bagaimana tindakan Khalifah Umar bin Khaththab dalam menyelesaikan serangan wabah yang menimpa rakyatnya. Umar menghentikan seluruh program yang tadinya dianggap strategis dialihkan ke penanganan wabah. Ujian wabah Thaun pernah melanda wilayah Syam dan konon telah menyebabkan kematian lebih dari 30 ribu rakyat, termasuk di dalamnya beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang harus meregang nyawa akibat wabah.
Melakukan isolasi dalam menanggulangi wabah nyatanya efektif menghentikan laju penyebaran wabah. Saat daerah yang terkena wabah penyakit, wilayah yang tidak terpapar wabah bisa melakukan aktivitas seperti biasa sehingga perekonomian tidak akan terpengaruh besar, sehingga wilayah yang aman dapat memasok kebutuhan pada wilayah yang terkena dampak. Itulah tuntunan Rasulullah dalam mengatasi wabah.
Kesempurnaan Islam tergambar dari aspek akidah yakni keimanan terhadap Allah dan RasulNya. Keimanan ini tidak hanya terukir dalam hati, bukan sebatas diucapkan dengan lisan, namun ditampakan dalam wujud pengaturan sebagai bukti kepatuhan terhadap syariat yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah saw., termasuk dalam menghadapi serangan wabah yang mengancam jiwa.
Maka dari itu kita harus sesegera mungkin kembali kepada sistem Islam/khilafah yang memiliki aturan sempurna bagi seluruh umat manusia.
Wallahu a’lam bishshawwab.

About Post Author