30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pandemi Belum Berakhir WNA Tak Henti Hadir


Oleh: Oom Rohmawati
Ibu Rumah Tangga dan Member AMK

Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. Peribahasa yang memberi peringatan ini wajib untuk direnungkan. Masih segar dalam ingatan kita, tatkala pertama kali pemerintah China mengumumkan munculnya virus Corona di kota Wuhan pada bulan Desember 2019. Tak lama kemudian, beberapa negara satu persatu mengumumkan bahwa virus Corona sudah terdeteksi menginfeksi warga negaranya. Namun, pemerintah Indonesia saat itu masih bersikap tenang-tenang saja. Para pejabat negara dengan santai dan nada guyon melontarkan berbagai statement yang justru terkesan meremehkan. Hingga akhirnya di awal Maret 2020, pemerintah mengumumkan kasus pertama virus Corona dilaporkan sudah ada di Indonesia. Meskipun demikian, ternyata pemerintah tetap mengijinkan Warga Negara Asing (WNA) masuk ke Indonesia, baik dalam rangka berwisata ataupun bekerja. Padahal negara-negara lain sudah menutup rapat akses masuk ke negaranya. Bahkan Arab Saudi yang datangnya WNA dengan tujuan untuk beribadah pun ada larangan keras untuk masuk ke negeri tersebut.
Kini sudah hampir setahun wabah menginfeksi lebih dari satu juta rakyat Indonesia, namun wabah ini belum menunjukkan penurunan. Lebih mengkhawatirkan lagi, di beberapa negara ditemukan virus Corona varian baru. Virus ini memiliki kecepatan menginfeksi lebih cepat dari varian sebelumnya (Jateng.news. id, 29/12/2020).
Di sisi lain diketahui Tenaga Kerja Asing (TKA) tetap berdatangan ke negeri ini. Khususnya warga negara asal China dengan jumlah yang tidak sedikit. Tercatat 153 orang pada tanggal 23 Januari 2021 masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta. Ahmad Nursaleh, Kasubbag Humas Ditjen Imigrasi membenarkan informasi yang beredar di media sosial tersebut.
“Pada hari Sabtu, 23 Januari 2021 telah mendarat pesawat China Southern Airlines dari Guangzhou dengan membawa 171 penumpang yang terdiri 153 WN RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan 18 WNI,” kata Nursaleh.
Sebelum ini pada akhir Juni hingga awal Juli 2020 lalu, 500 WNA dari China masuk ke Indonesia melalui Bandara Haluoleo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Kedatangan WNA tersebut untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel yang berlokasi di Sulawesi Tenggara.
Peristiwa ini menuai penolakan dan reaksi keras dari masyarakat Sulawesi Tenggara. Namun demikian, pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM tetap mengizinkan 500 TKA asal China itu masuk ke Indonesia. “Kriteria WNA yang diizinkan masuk ke Indonesia yaitu: pertama, orang dengan izin tinggal terbatas dan orang yang izin tinggal tetap. Kedua, orang pemegang visa diplomatik,” kata Nursaleh. (Kompas.com, Senin, 25/2/2021).
Adapun Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan alasan pemerintah membolehkan masuknya WNA asal China di tengah pelarangan tersebut.
Luhut mengungkapkan, TKA China ini datang ke Sulawesi Tenggara dalam proyek persiapan industri litium baterai. Dia menegaskan bahwa para tenaga ini dibutuhkan untuk membangun industri di Indonesia. Luhut mengatakan, kehadiran 500 pekerja China itu dibutuhkan karena Indonesia belum siap mengerjakan proyek ini sendirian. Teknologi yang diterapkan dalam pabrik milik VDNI berasal China, sementara SDM dalam negeri dinilai belum menguasainya.
Dengan masuknya warga negara asal China ini, tentu membuat rakyat was-was. Walaupun di awal sudah dipastikan TKA yang masuk tersebut dinyatakan bebas Covid-19 tapi tidak menutup kemungkinan penularan virus itu tidak terdeteksi. Sehingga tanpa disadari mereka akan membawa virus tersebut. Sebagaimana awalnya Covid-19 masuk ke negeri ini. Itu disebabkan kelalaian. Pemerintah terkesan abai dan menganggap sepele. Mestinya kasus pertama jangan sampai terulang kembali. Atas nama ekonomi, jutaan rakyat menjadi tumbal Mengapa kesehatan dan keselamatan rakyat tidak utamakan, justru dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi?
Inilah cara berpikir khas kapitalis sekuler. Prinsip hidup yang memisahkan agama dari kehidupan menyebabkan orientasinya hanya manfaat dan keuntungan. Padahal negara ini mayoritas muslim. Mestinya segala urusan merujuk pada Islam. Dalam Islam negara atau pemimpin adalah seorang penggembala dan rakyat adalah yang digembalakannya. Sebagai penggembala punya tanggung jawab pada yang digembalakannya. Mulai dari makanan, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan sampai melindungi gembalaannya dari bahaya para pemangsanya.
Di dalam Islam seorang pemimpin diibaratkan sebagai perisai bagi rakyat. Sehingga ada ikatan saling mencintai antara pemimpin dan rakyat. Model pemimpin seperti ini dikatakan sebaik-baik pemimpin yang melindungi rakyat dari musuh termasuk dari wabah penyakit.
Dengan melihat fakta di atas, harusnya pandemi bisa menyadarkan kita untuk kembali pada sistem Islam yang memiliki solusi fundamental dalam mengatasi wabah. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., dalam sabdanya,
“Jika kamu mendengar wabah disuatu tempat, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah ditempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari)
Rasulullah saw. pun melakukan karantina wilayah. Memisahkan yang sehat dengan yang sakit. Memfasilitasi setiap rumah sakit dengan fasilitas dan layanan kesehatan yang memadai. Mendorong para ilmuwan untuk menemukan obat dan vaksin penyakit dengan dukungan penuh dari negara. Mengedukasi dan memotivasi masyarakat dengan keyakinan penuh bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Selanjutnya men-support masyarakat untuk optimis dengan berikhtiar, berdoa, dan bertawakal. Selain itu, negara juga akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat di wilayah pandemi yang dilockdown. Sementara wilayah selain itu tetap bisa melakukan aktivitas perekonomian secara normal.
Hal ini bisa kembali terwujud secara terstruktur dan sistematis, jika sistem pemerintahan Islam yang diterapkan. Karena hanya pemerintahan Islamlah yang bisa mengurus rakyatnya. Sebab mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

About Post Author