04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

DIBALIK SURPLUS BPJS

Oleh Darni Salamah
Aktivis Muslimah Sukabumi

Baru-baru ini, BPJS kesehatan memberikan kabar yang tak biasa dengan adanya surplus sebanyak 18,7 triliun. Tentu hal tersebut tak akan terjadi setelah sebelumnya iuran BPJS mengalami kenaikan kesehatan dan ditambah dengan pemodalan yang diberikan oleh pemerintah. Lantas, haruskah kenaikan iuran BPJS Kesehatan kembali lagi ditinjau? Mengingat surplus BPJS kesehatan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya jasa rakyat mengingat pemerintah hanya sebatas regulator bagi sistem kesehatan negara dengan kaum kapitalis.

Sebagaimana diwartakan, arus kas Dana Jaminan Sosial Kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan untuk pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) pada 2020 surplus Rp 18,7 triliun tanpa meninggalkan tunggakan pembiayaan klaim rumah sakit yang gagal bayar. Setelah sebelumnya berdasar Perpres 64/2020 , tarif peserta kelas 1 naik menjadi Rp 150 ribu, kelas 2 menjadi Rp 100 ribu, dan kelas 3 Rp 35 ribu dengan adanya subsidi Rp 7000.
(JPnn.com 13/1/2021).

Seperti yang telah kita ketahui, harga pelayanan kesehatan sebelum surplus pun mengalami kenaikan yang terus melangit, serta pelayanan tunduk kepada kepentingan bisnis. Perjudian nyawa publik tak jarang terjadi. Di sisi lain masyarakat dipaksa menanggung beban finansial di luar batas kemampuan, karena harus menanggung biaya kesehatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara secara langsung tanpa perantara industri bisnis kesehatan BPJS Kesehatan. Harga pelayanan kesehatan yang terus melangit, serta pelayanan tunduk kepada kepentingan bisnis. Makanya dalam sistem kapitalisme, kesehatan terasa mahal.

Hal ini berbanding terbalik dalam sistem Islam, di mana pemimpin tidak akan menyerahkan urusan kesehatan pada lembaga asuransi seperti BPJS. Lembaga asuransi bertujuan mencetak untung, bukan melayani rakyat.Dalam Islam meletakkan tembok pembatas antara kesehatan dengan kapitalisme sehingga kesehatan bisa diakses oleh semua orang tanpa ada tingkat kasta dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (Bukhari dan Muslim)

Pelayanan kesehatan dalam sistem Islam adalah pelayanan kesehatan terbaik sepanjang masa. Betapa tidak, karena negara hadir sebagai penerap syariat Islam secara kafah (menyeluruh) pada setiap aspek kehidupan terutama kesehatan. Negara bertanggung jawab langsung dan sepenuhnya terhadap pemenuhan pelayanan kesehatan gratis berkualitas. Ruang pelayanan kesehatan benar-benar meraih puncak kemanusiaan. Salah satu buktinya dipaparkan sejarawan berkebangsaan Amerika, Will Durant, rumah sakit Al Manshuri (683 H/1284 M) Kairo, sebagai berikut, “…Pengobatan diberikan secara gratis bagi pria dan wanita, kaya dan miskin, budak dan merdeka; dan sejumlah uang diberikan pada tiap pasien yang sudah bisa pulang, agar tidak perlu segera bekerja…“. [W. Durant: The Age of Faith; op cit; pp 330-1]
Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 yang merupakan rumha sakit pertama dalam sejarah peradaban Islam ttelah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Agar kebutuhan rakyat terhadap layanan kesehatan gratis terpenuhi, khilafah banyak mendirikan institusi layanan kesehatan. Di antaranya adalah rumah sakit di Kairo yang didirikan pada tahun 1248 M oleh Khalifah al-Mansyur, dengan kapasitas 8.000 tempat tidur, dilengkapi dengan masjid untuk pasien dan chapel untuk pasien Kristen. Rumah sakit dilengkapi dengan musik terapi untuk pasien yang menderita gangguan jiwa. Setiap hari melayani 4.000 pasien.
Betapa indahnya dan nyamannya pelayanan kesehatan dalam Islam yang sulit terjadi di sistem kapitalis.

Jika sistem Islam lebih memberikan jaminan yang pasti, lantas mengapa kita harus menggantungkan nasib kesehatan pada sistem kapitalisme yang menjadikan masyarakat sebagai objek bisnis dalam kesehatan.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author