25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Dinar-Dirham Dipermasalahkan


Oleh : Popon Ummu Farid
Pegiat Dakwah dan Ibu Rumah Tangga

Seminggu yang lalu Bareskrim Polri telah menahan salah satu pegiat pasar muamalah, yang melakukan transaksinya tidak menggunakan mata uang rupiah melainkan sejenis logam mulia Dinar (emas) dan Dirham (perak). Bareskrim Polri menahan pegiat Dinar-Dirham tersebut pada Selasa (2/2/2021) malam. Karena melanģgar Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. bisa terancam hukuman penjara paling lama 15 tahun dilansir (Sindonews.com, 2/2/2021)
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar penangkapan tersebut karena transaksi tersebut bertentangan dengan regulasi yang ada? Atau ada muatan politik tertentu? Padahal sebelumnya ada di beberapa daerah tempat wisata yang menggunakan mata uang asing, kenapa tidak ada masalah? Banyak anggapan negatif terhadap tindakan aparat yang cenderung diskriminatif.
Apalagi terdapat informasi bahwa penggunaan Dinar-Dirham tersebut dikaitkan dengan ide khilafah. Padahal wakaf dan zakat akhir-akhir ini dijadikan gerakan nasional oleh pemerintah. sebenarnya itu ada kaitannya dengan syariah dan khilafah.
Sejak Rasulullah Saw. Berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah hingga pasca beliau hijrah penggunaan mata uang Dinar-Dirham sebagai mata uang resmi negara yang sudah lama digunakan oleh masyarakat sàat itu.
Dalam Islam, emas dan perak adalah standar baku dalam transaksi. Karena emas dan perak adalah sistem mata uang yang digunakan sebagai alat tukar. Ini ada beberapa kesimpulan dan alasan seperti:
Pertama, ketika Islam melarang penimbunan harta (kanz all-mal) Islam hanya mengkhususkan larangan untuk emas dan perak. Adapun mengumpulkan harta selain emas dan perak tidak di sebut kanz al- mal melainkan Ihtikar.
Kedua, Islam telah mengaitkan emas dengan hukum-hukum yang baku. Ketika Islam menetapkan Diyat (denda/tebusan) Islam telah menentukan diyat térsebut dengan ukuran tertentu yaitu dalam bentuk emas.
Ketiga, Rasulullah saw. Telah menetapkan Dinar (emas) dan Dirham (perak) saja sebagai mata uang. Beliau telah membuat standar uang dalam bentuk ‘ uqyah, dirham, daniq, qirath, mitsqal, dan dinar, semuanya sudah termasyhur di masyarakat dalam transaksi.
Uang yang saat ini kita gunakan sehari- hari yaitu uang kertas fiat money, uang kertas ini di cetak oleh pemerintah dengan nominal tertentu, uang ini tidak memiliki nilai intrinsik, nilai intrinsiknya hanyalah sehelai kartas biasa. Sama dengan kertas lainnya. Dinar-Dirham memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan Uang kertas fiat money yakni: Dinar-Dirham memenuhi unsur keadilan dibandingkan fiat money. Pasalnya, Dinar dan Dirham memiliki basis yang riil berupa emas dan perak.
Sebaliknya, fiat money sama sekali tidak dijamin dengan emas dan perak. Dinar dan Dirham lebih stabil dan tahan terhadap inflasi. Dinar dan Dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi. Termasuk dalam pertukaran antar mata uang atau dalam perdagangan internasional. Pasalnya Dinar-Dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nominalnya benar- benar dijamin penuh oleh emas dan perak.
Banyak fakta yang membuktikan Dinar-Dirham tersebut dapat menjelma menjadi mata uang yang sangat unggul dibandingkan dengan mata uang kertas dan fiat money manapun, sejatinya sebagai seorang muslim terikat dengan syariat Islam sebagaimana Allah Swt perintahkan termasuk dalam penggunaan mata uang Dinar-Dirham sebagai alat transaksi.
Penggunaan mata uang Dinar-Dirham sangat jelas, Hanya saja dalam penggunaan Dinar-Dirham sebagai mata uang tertentu memerlukan legalitas. negara sebagai institusi yang kuat dan berdaulat. Ini semua tentunya bisa terwujud dengan tegaknya kembali institusi Daulah Islamiyah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beliau dengan sebutan Khilfah Islamiyah.
Wallahu a’lam bi ash shawab

About Post Author