24/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Berharap Makmur Melalui Kebijakan Prematur


Oleh : Ummu Abror
Pengajar


Baru-baru ini Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mencanangkan program yang bernama 5 Ribu Petani Milenial. Program ini ditujukan untuk pemuda dan pemudi yang berusia 19 sampai 39 tahun yang paham tentang teknologi pertanian.
Sebagaimana dilansir oleh Mudanesia.com pada Selasa (09/02/2021), Ridwan Kamil dalam unggahan di akun Instagramnya menyeru pemuda-pemudi Jawa Barat yang ingin meraih kemuliaan hidup dengan berikhtiar menjadi petani Milineal 4.0 agar segera mendaftarkan dirinya. Karena program petani Milenial ini diharapkan dapat menjadi penyelesaian dari masalah keterbatasan tenaga kerja sehingga bisa meningkatkan produktivitas pertanian.
Jika dicermati secara mendalam, gagasan yang diluncurkan oleh Gubernur Jabar ini terkesan dipaksakan dan kurang adanya penelitian yang mendalam, terutama ketika dikaitkan dengan tujuan yang akan dicapai yaitu menjadi jalan keluar bagi penyediaan lapangan pekerjaan dan menjadi solusi bagi peningkatan produktivitas pangan.


Gagasan Petani Milineal ini juga terkesan prematur karena memang tidak masuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dan membuktikan bahwa program tersebut tidak sungguh-sungguh ingin memajukan ekonomi pada sektor pertanian, karena tidak mencakup seluruh kalangan petani.
Begitulah watak dari sistem perekonomian kapitalis sekuler, yang mustahil bersungguh-sungguh mengurusi rakyatnya. Setiap kebijakan yang ada pasti selalu berorientasi pada keuntungan dan kepentingan para kapital semata. Seperti program Petani Milenial ini, yang sejatinya hanya memanfaatkan potensi yang dimiliki rakyat berupa tenaga kerja yang muda, produktif dan mudah untuk diarahkan kepada pemenuhan kepentingan korporasi.
Mereka menggunakan posisi sebagai penguasa untuk memuluskan segala kepentingan mereka tak perduli akan nasib rakyatnya. Semua program yang ada tak ubahnya pemanis bibir semata yang menunjukkan bahwa mereka perduli pada rakyatnya.


Tidak dapat dipungkiri nasib petani yang jauh dari sejahtera, merupakan bukti nyata kegagalan dari sistem yang tengah rapuh ini. Sistem yang memperbudak para penguasa dengan harta dan keuntungan, menjadikan penguasa hanya sebagai regulator dan fasilitator bagi kepentingan para kapital. Maka kemaslahatan bagi rakyat merupakan hal yang tidak mungkin terjadi.
Hal ini sangat berbeda dengan sistem pemerintahan Islam, yang menjadikan syariah sebagai aturan utama bagi program kerjanya. Penguasa secara penuh menjamin kebutuhan para rakyatnya tanpa memandang untung rugi sebagai tolak ukurnya.
Negara Islam adalah negara yang mandiri, tidak ada intervensi asing, sehingga pemerintah mampu mengelola secara penuh kekayaan alam untuk didistribusikan secara adil kepada rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda:
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu, padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa kaum muslim berserikat dalam air, padang rumput, dan api. Dan bahwa ketiganya tidak boleh dikuasai oleh individu maupun asing.
Negara akan membantu melengkapi kebutuhan pertanian secara cuma-cuma, pemberian yang dilakukan merupakan hibah bukan pinjaman. Dan kebijakan yang diambil merupakan kemaslahatan pada semua petani bukan pada segolongan masyarakat yang dipandang produktif saja. Negara juga akan memberikan program-program penyuluhan kepada para petani untuk memajukan hasil pertaniannya.
Sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang mendatangkan maslahat dan keridhaan dari Allah Swt. Dengan berjuang menegakkan khilafah sesuai dengan metode kenabian.
Wallahu a’lam bisshawwab.

About Post Author