29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Nestapa Sirna Melalui Tegaknya Kembali Islam Secara Sempurna

Oleh Irma Faryanti
Ibu RumahTangga & Member Akademi Menulis Kreatif

Waktu bergulir cepat, namun keterpurukan yang dialami umat seakan belum menemukan kata tamat. Permasalahan yang terjadi di berbagai aspek kehidupan bukannya selesai, justru bak jalan cerita yang tak kunjung usai. Kemiskinan yang mendera umat akibat kelalaian dalam pengurusan, kemaksiatan yang merajalela karena lemahnya sanksi yang urung membuat jera, perekonomian yang hancur akibat berpijak pada sistem yang ngawur, serta kehidupan sosial yang membuat manusia berada pada krisis moral. Semua itu menjadi permasalahan yang menyelimuti dunia Islam hingga detik ini.

Dan tanpa terasa, kita telah memasuki bulan Rajab 1442 H. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa bulan ini memiliki arti penting bagi umat Islam. Tercatat ada beberapa peristiwa bersejarah pernah terjadi di dalamnya. Salah satunya adalah dihapuskannya institusi kekuasaan kaum muslim yaitu kekhilafahan Utsmaniyah. Peristiwa memilukan ini terjadi tepatnya pada tanggal 28 Rajab 1342 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924.

Pada hari itu, satu-satunya institusi yang menaungi umat Islam berhasil dimusnahkan dari muka bumi. Penghapusan tersebut dilakukan oleh seorang Yahudi Dunama, yang rela mengkhianati umat Islam dengan menjadi antek Inggris dalam menghancurkan khilafah Islam, dialah Mustafa Kemal Attaturk, sosok yang ternyata telah lama menyembunyikan kebenciannya terhadap khilafah. Kepercayaan Inggris terhadapnya ia jadikan peluang emas dalam menghabisi institusi pelindung kaum muslim tersebut.

Sejak saat itulah umat Islam tak lagi memiliki perisai. Penderitaan yang dialami harus dilalui tanpa menemui solusi. Kekayaan umat Islam dirampas, kehormatan mereka dicabik, kaum muslimah dilecehkan tanpa mengerti pada siapa mereka dapat mengadukan semua persoalan. Ribuan bahkan jutaan nyawa harus melayang sia-sia tanpa mengenal belas kasihan.

Kini, 100 tahun sudah kaum muslim hidup tanpa naungan, terpecah-belah di atas landasan nasionalisme. Hal itulah yang menyebabkan kelemahan umat hingga menjadi sasaran empuk musuh-musuh Islam. Saudara-saudara seiman kita di Palestina, Khasmir, Afghanistan, Kasmir, Irak, Rohingya dan negeri muslim lainnya tertindas tak berdaya di hadapan penjajah Barat.

Demikianlah, nestapa demi nestapa dilalui saat dunia Islam tidak dinaungi sistem khilafah. Syariat harus tergantikan oleh nilai-nilai sekular yang dihembuskan Barat, hingga umat berhasil dijauhkan dari Islam dan merasa asing dengan ajaran agamanya. Hukum Allah dianggap tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Proses sekularisasi yang telah berlangsung lama telah membuat umat berada pada tahap ragu bahkan tidak sedikit yang memusuhi ajaran agamanya sendiri, penolakan dan kriminalisasi terhadap ide khilafah adalah salah satunya.

Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam, keberadaanya bukanlah sesuatu yang asing bagi siapa saja yang mengikuti sejarah perkembangan Islam. Imam al Mawardi menyatakan bahwa:
“imamah atau khilafah dibuat untuk menggantikan kenabian dalam menjaga agama dan mengurus dunia” (Al Mawardi, Al Ahkam as Sulthaniyyah, halaman 3).

Kekhilafahan merupakan kelanjutan dari Daulah Islamiyyah yang pernah didirikan oleh Rasulullah saw. di Madinah yang kemudian dilanjutkan oleh masa kepemimpinan para sahabat beliau yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin. Sepeninggal mereka, sistem pemerintahan Islam masih dilanjutkan oleh beberapa masa kekhilafahan yaitu Umayah, Muawiyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah.

Mendirikan khilafah itu sendiri merupakan suatu kewajiban. Berdasarkan ijmak Ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, khususnya empat mazhab (Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali) menyepakati akan ketetapan hukum Allah ini. Syaikh Abdurrahman al Jaziri pernah menuturkan:
“Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa imamah (khilafah) adalah wajib…” (al Jaziri, al Fiqh ‘ala al Madzahib al Arba’ah V/416)

Melalui tegaknya sistem pemerintahan, maka Islam akan menemukan kembali kemuliaannya. Umat Islam yang terpecah-belah akibat nasionalisme akan kembali tersatukan dalam ikatan akidah Islam. Ideologi yang diterapkan pun akan menjadi rahmat bagi semesta alam dan mampu menghapuskan segala bentuk kezaliman yang selama ini dialami oleh umat. Tegaknya kekhilafahan akan mampu menjadi solusi atas seluruh permasalahan manusia.

100 tahun ketiadaan Khilafah seharusnya membuat kita semakin bersemangat untuk berjuang mewujudkannya kembali. Agar segala nestapa yang melanda umat sirna dan berganti dengan ketinggian dan kemuliaan. Sehingga umat kembali meraih predikatnya sebagai umat terbaik, sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya:
“Kalian adalah umat terbaik yang diutus untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah.” (QS Ali ‘Imran [3]: 110)

Wallahu a’lam Bishawwab

About Post Author