29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Prof Eggi : Menyapa Rakyat dengan teori OST JUBEDIL

Rangkuman sampaian ESM tgl 23 February 2021
Kali ini Prof Eggi Sudjana Mastal S.H. Msi yang dipanggil akrab dengan Bang Eggi kembali mengudara dengan
Bang Eggi menyapa rakyat dengan Theory beliau yang sudah tidak asing lagi bagi kita yaitu OST-JUBEDIL; OBJECTIVE, SISTEMATIS, TOLERAN, JUJUR, BENAR, ADIL
Theory OST-JUBEDIL atau Theory Eggi Sudjana Mastal, kali ini diaplikasikan dan di synkronisasikan dengan judul Menyapa Rakyat.

Dengan Theory OST-JUBEDIL yang dilahirkan oleh Prof Eggi Sudjana Mastal ini, beliau mencoba mengadakan pendekatan dalam pola berpikir untuk yaitu “kemampuan membedakan yang beda dan yang menyamakan yang sama”, yang diproses melalui pikiran, mencari, berupaya mempertahankan dan menemukan nilai (to find value).

Oleh karena itu dalam perspektif Al-Qur’an yang isinya menyangkut kehidupan masa lalu, hari ini dan akan datang yang mana tercover dengan baik untuk benar-benar menggambarkan 5 Elemen Ke-Ilmuan, yg juga sebagai Basic Theory yang dibangun oleh Sang Professor dalam merumuskan dan menggodok Theory OST-JUBEDIL, beliau melakukan tinjauan a.l. secara :
1. Filosofis
2. Historis
3. Sosiologis
4. Psikologis
5. Juridis
Dalam topik kali ini “Menyapa Rakyat”, Bang Eggi pastinya selalu berpijak kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Dari zaman Nabi Musa hingga Nabi Muhammad SAW itu mencapai 14 abad lamanya dan dari zaman Rasulullah hingga sekarang kurang lebih hampir 15 abad, jadi kalau dihitung sejak Nabi Musa hingga zaman sekarang sudah memakan waktu hampir 29 abad.

Pertanyaan seriusnya, apakah peristiwa masa lalu tidak mempunyai arti untuk hari ini, dengan perkataan lain apakah ayat-ayat Qur’an ini yang terjadi dimasa lalu itu hanya cukup untuk masa lalu? Apakah tidak dijadikan *_”‘ibrah”_* (pelajaran) untuk hari ini, atau masa kini bagi kita sebagai orang yang beriman untuk mensikapinya dikaitkan dengan situasi politik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial dan budaya khususnya pada negara, tempat tinggal kita, tumpah darah kita yaitu REPUBLIK INDONESIA.

Itulah makanya saya perlu menyapa rakyat, baik kepada rakyat yang muslim atau non-muslim, ujar Bang Eggi.
Ke-Bhinekaan perlu kita jaga dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, begitu juga dengan persatuan Indonesia harus kita jaga, sesuai dengan alinea ke-3 yaitu Persatuan Indonesia yang termaktub dalam Panca Sila.
Ujar Bang Eggi lagi bahwa cara berpikir beliau adalah berdasarkan WAHYU ALLAH yaitu Al-Qur’anul Karim sebagai referensi sama nilainya dalam pengertian Logika Mekanisme dan Metodologie.
Bicara Ilmiah, ada 2 kekuatan yang mendasar yaitu :
1. METODOLOGIE
2. ISTILAH
Metodologi terbagi atas 2 yaitu :
1. INDUKTIF
2. DEDUKTIF
Ciri khas Al-Qur’an ada yang “SEQUENCIAL”(berurutan) dan ada yang “RANDOM”(acak).

“Kisah Nabi Musa a.s dalam menghadapi/melawan Fir’aun” :
Surah Asy-Syu’araa’ : 10 – 51
Surah Al -Qashash : 4
Pada “Surah Al-Qashash : 4″ini bisa kita ketahui, “5 (lima) karakter buruk” dari Fir’aun a.l :
“Sombong”; “Membuat rakyatnya berpecah-belah” ;”Menindas rakyat”; “Menyembelih anak laki-laki”; “Membiarkan hidup anak-anak perempuan”, 5 (lima) karakter buruk Fir’aun ini bersifat universal dan ada pada penguasa-penguasa di setiap negara.
( lihat Surah Al-An’aam : 123 )
Definisi Sombong itu adalah : Menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain (Hadits)
“Ciri-ciri khas Penguasa/Pembesar yang jahat itu adalah suka menipu rakyat”; Penguasa/Pembesar jahat tersebut bisa jadi dia adalah seorang Intelektual, Konglomerat, Rektor, Ulama Su’ dan pada lingkungan kekuasaan adalah Presiden.
Dari konfigurasi” ayat-ayat tadi kita, dalam hal ini yaitu rakyat “kudu kumaha” begitu kata Bang Eggi, “engke kumaha” bukannya “kumaha engke”.

Didalam menghadapi carut marut kondisi negri dan juga penguasa-penguasa yang seperti Fir’aun itu tentunya harus kita hadapi dan untuk mencapai Kemenangan” maka Allah berfirman dalam Surah At-Taubah : 20
“Surah At-Taubah ayat 20 : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan” Artinya kunci kemenangan itu adalah : BERIMAN; BERHIJRAH; BERJIHAD.

Beriman terlebih dahulu, kemudian berhijrah dan setelah itu berjihad. Kemenangan akan sulit diraih apabila kamu menjadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin jika mereka lebih menyukai kekafiran atas keimanan dst. (Surah At-Taubah : 23)”, “Dalam Surah At-Taubah : 24” :
Kemenangan juga sulit dicapai jika :
1. Bapak-bapakmu
2. Anak-anakmu
3. Saudara-saudaramu
4.Istri-istrimu
5. Kaum keluargamu
6. Harta kekayaan
7.Perniagaan
8.Tempat Tinggal
Itu semua kamu lebih cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Dst.

Jadi, ada 10 ashnaf yang dapat menggagalkan perjuanganmu dan kamu tidak akan mencapai kemenangan.
10 ashnaf itu ada 2(dua) pada ayat ke 23 dan 8 ashnaf pada ayat ke 24 pada Surah At-Taubah.
Sebagai tambahan referensi utk mendapatkan kunci kemenangan bisa ditambah QS 35 (Faathir) : 29 dan QS 2 (Al-Baqarah) : 45.

Didalam proses berpikir ini, tentunya kita menggunakan OTAK, ada Otak Besar namanya Sudhur dan Otak Kecil namanya Fu’ad. Tidak lupa gunakan juga Qolbun (hati nurani).
Ke-3 Elemen tersebut di combined jadi satu kesatuan, namanya proses berpikir dan setelah kita berpikir, cerita semua itu tadi terimplementasi dalam bentuk *KONSEP* yang kita klasifikasikan sebagai : Feodalisme, Nepotisme, Oligarki, Transaksional. Ke Empat Unsur ini didalam kekuasaan para pembesar-pembesar jahat bisa berakibat kepada “Killing Politic” bahkan bisa berakibat kepada pembunuhan secara fisik (Physically Killing) seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita dari FPI.

Kembali kepada Surah At-Taubah ayat 20 Didalam Surah At-Taubah ayat 20 kalau kita amati ada 5 (lima) point penting sebagai gerakan (action) untuk kita yang mengaku Ummat Muhammad SAW yaitu : “Aamanu” ; “Haajaru” ; “Jaahadu”; “Amwaalihim”; “Anfusihim”. Ke-5(lima) gerakan(action) ini dapat terkalahkan dengan 10 ashnaf yang yang ada pada Surah At-Taubah ayat 23 – 24. QS 9 : 23 – 24
“Didalam perspektif Islam konsep feodalism itu amat sangat berbahaya Sebagai amtsal dalam QS 9 : 24, disebutkan “Bapak-Bapakmu”, Contoh Bapak-bapakmu itu ada pada permisalan tokoh Ketum Partai. Ketum Partai itu mampu menentukan atau mereshuffle kabinet, daftar caleg dsb dengan cara “transaksional”, misal untuk duduk di kursi nomor 1 tentunya berbeda harga dengan yang bukan duduk di kursi nomor 2, 3 dst. Dalam hal ini Al-Qur’an adalah merupakan solusi yang elegan sebagai salah satu _”solutif”_ (jalan keluar) dengan cara “beriman terlebih dahulu”.

Al-Qur’an adalah Hudal lil Muttaqien, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dan tidak ada keraguan didalamnya.
Dalam konsep inilah Bang Eggi ingin mengingatkan kita semua dengan perspektif Al-Qur’an tentang “fenomena Fir’aun” yang terjadi pada rezim sekarang ini dengan memecah belah, membuat kerusakan dll.
“(Surah Al-Qashash) : 4 “Dengan kondisi negara yang sudah sedemikian, pertanyaan seriusnya, bagaimana kita menghadapinya???”, Minimal kita harus punya “Kemampuan” yang didasarkan Surah At-Taubah : 20 yaitu beriman, berhijrah dan berjihad dengan jiwa dan harta.

Sejak rezim Soekarno hingga rezim now, kita sebagai rakyat tidak terbimbing dengan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.
Bang Eggi mengingatkan kembali mengenai Tugas-Tugas Pokok Presiden. “Tugas-Tugas Pokok Presiden ada 4(menurut UUD-45) :
1. “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”
2. “Mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia”
3. “Menjaga tumpah darah rakyat Indonesia”
4. “Ikut serta dalam politik bebas-aktif dalam ketertiban dunia”

Itu pesan moral yang tinggi yang dirumuskan oleh “Tokoh-Tokoh Islam dalam Panitia 9” yaitu :
1. Ir. Soekarno
2.Drs.Mohammad Hatta
3. Achmad Soebardjo
4. Mohammad Yamin
5. K.H.Wahid Hasyim
6. Abdul Kahar Muzakkir
7. Abikoesno Tjokrosoejoso
8. K.H. Agus Salim
9. AA Maramis.

Dari hasil rumusan Panitia 9 itu dijadikan suatu panduan untuk merumuskan Ideologi Panca Sila dan UUD-45 yang dipakai oleh Bangsa ini dan yang amat sangat jelas adalah *_”Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”_*
Ke-Tuhanan YME yang dimaksud adalah “ALLAH SWT” Dan Allah itu punya hukum, namanya Hukum Islam.
Jadi, Hukum Islam ini tidak boleh tidak berlaku, harus diberlakukan, hal itu “tergantung kepada Presiden dan DPR”, sesuai pasal 5 ayat 1 Jo pasal 20 dan 21 UUD-45.
“Presiden memegang kekuasaan tertinggi dalam membentuk UU dengan persetujuan DPR”
Setelah di amandemen pada tahun 2002, maka Hak Presiden ada di pasal 5 ayat 1 dan Hak DPR nya ada di pasal 20 dan 21 didalam membentuk UU. Itu merupakan kewenangan untuk mereka.
“Jadi, karena Presiden dan DPR yang memimpin Bangsa ini, maka merekalah yang bertanggung jawab secara struktur masyarakat dalam konteks berbangsa dan bernegara.
“Struktur kekuasaan inilah yang bertanggung jawab atas carut-marutnya atau kemajuan dari Indonesia”
Kalau Indonesia maju, maka patut kita hormati dan kita banggakan mereka-mereka sebagai Pemimpin yang sedang memimpin Bangsa ini, tapi kalau tidak?
“Lihat Surah At-Tahrim : 9 “Hai Nabi, berjuanglah kamu dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.

Tempat mereka adalah jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
“Munafik itu menyembunyikan kekafiran dan menampilkan keimanan”
Banyak dari Pemimpin yang mempunyai sifat munafik.
“Ciri-ciri munafik itu ada 3 :
“Bila berkata dia DUSTA, “Bila berjanji INGKAR”, “Bila diberi amanah dia KHIANAT”_
Persoalan seriusnya apabila Indonesia bangkrut maka para pemimpin itu harus mau di kritik oleh rakyat demi untuk memperbaiki Bangsa ini.
Yang terjadi pada kenyataannya adalah kritikan rakyat malah menjadi bumerang buat rakyat. Rakyat yg mengeritik dianggap radikal, teroris bahkan sampai di penjara padahal mereka tidak melakukan gerakan-gerakan separatis seperti kasus KKB-Papua, FPI dan lain sebagainya.
Sebagai pemangku kekuasaan nomor 1 di Republik Indonesia yaitu Presiden, harus mau di kritik. Jangan terus menghindar dengan memakai istilah itu adalah negara dsb.

Bang Eggi mengatakan sangatlah berbeda “Negara dengan Pemerintah”, “NEGARA ITU TERDIRI DARI 4 UNSUR” : RAKYAT, PEMERINTAH, HUKUM, WILAYAH. Jadi, pemerintahlah yang bertanggung jawab atas maju atau mundurnya suatu negara, Presiden adalah masuk dalam kategori pemerintah.

In syaa Allah, Indonesia akan lebih baik kalau kita memakai “akal baik dan mengikuti guidance Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dan para Nabi lainnya sebagai Uswah.
Untuk itu diperlukan kesadaran intelektual, persepsi dan kesadaran juga pentaatan. Sebagai tambahan Bang Eggi mengingatkan kita pada “Surah Al-Anfal : 60 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda yang ditambat (untuk persiapan perang), yang dengan itu kamu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya tetapi Allah mengetahuinya”
“Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya”

Last but not least setiap pribadi, setiap diri kita yang mengaku sebagai Ummat Muhammad SAW wajib berupaya maksimal sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang ada pada diri untuk berupaya kearah kwalitas yang lebih baik dalam landasan “IMAN – ILMU – ‘AMAL.

“Pesan Bang Eggi, tetap komitmen dalam kalimah TAUHID – LAA ILAA HA ILLALLAH dan BERSYUKUR”, ALHAMDULILLAH ALA KULLI HAAL”, dirangkum dan ditulis oleh Presiden PPMI Daeng Wahidin

About Post Author