23/04/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Islam Kafah Tiada, Syariat Hijab Dirudapaksa

Oleh RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku)

Jika dunia ini menganut penghargaan besar kepada hak asasi manusia, mengapa hijab selalu diusik? Apakah hak asasi hanya untuk hal-hal yang berbau liberalisasi? Muslimah seharusnya nyaman dan tenteram saat mengenakan hijab, negara wajib melindungi dan aturan hidup menaungi. Namun, perisai itu kini tiada lagi, hal tersisa hanyalah aturan-aturan yang semakin hari kian menjerat, sekularisme semakin menguat. Dunia yang menua, tak mau peduli aturan yang telah Allah ciptakan agar perempuan berada di tempat mulia. Hijab semakin dikoyak.

Salah satu negara yang melarang penggunaan hijab yang berbentuk burka (pakaian yang menutupi seluruh tubuh serta wajah) adalah Turki. Setelah Belanda yang berada di urutan pertama, banyak negara lainnya yang turut serta, menolak hijab dengan beragam kebijakan. Di antaranya: Rusia, Jerman, Italia, Tunisia, Belgia, Prancis, Suriah, Australia, Spanyol. Sejatinya memeluk agama adalah hak semua manusia. Terutama menjalankan semua aturan yang dianut, termasuk berpakaian tertentu seperti hijab bagi kaum muslimah. (Liputan6, Jakarta).

Pelarangan dalam berbagai bentuk terhadap hijab semakin membuktikan cacatnya sistem berpaham sekuler ini. Bukan tak ada kontradiksi dari umat yang merasa terzalimi, tetapi apalah daya. Tirani semakin semena-mena menunjukkan jati diri dalam hegemoni demokrasi. Konvensi internasional digencarkan agar urgensi hijab semakin jauh dari umat Islam.

Sejak runtuhnya institusi Islam kafah pada tahun 1924 di Turki, menjadi jalan paling kelam yang dihadapi umat Islam. Sekularisasi semakin membumi, Barat semakin menjerat, generasi Islam kian tersesat, tak sadar setiap waktu dicekoki pemahaman cacat. Barat tak pernah diam, memilih berbagai cara agar muslim semakin tak mengenal identitas diri sebagai makhluk yang memiliki kewajiban mengemban aturan Ilahi. Setiap lini terkoneksi pada formula sekularisasi. Terutama dalam pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan keluarga.

Barat paham bahwa fondasi terkuat umat Islam adalah keluarga, sehingga bagian itulah yang dibidik untuk dikeroposkan. Pun untuk kaum perempuan–yang jelas-jelas bagian garda terdepan dalam menciptakan generasi Islam yang sanggup mengembalikan peradaban rusak hari ini, ke kondisi Islam yang menyeluruh. Islam digempur dari berbagai lini, beginilah Islam tanpa kekuatan dan sandaran.
Hal yang terjadi di dunia Barat, tak terelakkan, itu pun terjadi di dalam negeri. Sekalipun muslim di Indonesia mayoritas tetapi kalah telak oleh tirani minoritas. Proyek liberalisasi di berbagai lini semakin gencar dan diminati oleh generasi muslim yang lemah fondasi.
Pentingnya sistem Islam kaffah bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar darurat diperlukan. Mengapa demikian? Sebab, sistem tersebutlah yang mampu menjami pelaksanaan kewajiban berhijab, bahkan menjadi pelindung utama.

Hijab bukanlah pilihan yang bisa dipilah, tetapi keharusan yang mutlak dijalankan oleh seluruh muslimah di muka bumi ini. Seperti yang termaktub di QS. an-Nur: 31, QS. al-Ahzab: 59, dan banyak pula hadis Rasulullah SAW yang menerangkan kewajiban berhijab.
Salah satu kisah tentang penjagaan khilafah terhadap hijab dan kehormatan muslimah. Kisah perempuan pertama yang ditulis oelh Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury dalam Rahiq al-Makhtum. Diceritakan bahwa muslimah Arab datang ke pasar kaum Yahudi Bani qainuqa.
Saat ia duduk di dekat pengrajin perhiasan, beberapa kaum Yahudi di antaranya menyingkap burka sang muslimah. Pun sang pengrajin yang diam-diam mengikat ujung jilbab muslimah tersebut, sehingga ketika ia bangkit, tersingkaplah auratnya. Muslimah pun berteriak, hingga diketahui oleh laki-laki muslim yang kemudian membunuh sang pengrajin perhiasan. Datanglah sekelompok kaum Yahudi yang kemudian membunuh laki-laki muslim. Kejadian tersebut membuat Rasulullah saw marah sehingga membawa pasukan kaum muslimin mengepung Bani Qainuqa dengan ketat. Mereka pun bertekuk lutut setelah dalam pengepungan selama lima belas hari. Itulah yang dilakukan pemimpin kaum muslim, sanggup menciptakan rasa gentar juga ketakutan ke dalam hati musuh.

Banyak lagi kisah berharga yang membuktikan bahwa sistem Islam teramat memuliakan kaum perempuan, bukan sekadar menjaga fisik, tetapi segala bentuk kehormatan dirinya, termasuk hijab.

Menurut penganut sekularisme, hijab adalah penindasan terhadap kebebasan karena pakaian adalah urusan pribadi yang harus mendapatkan porsi sebebas-bebasnya. Padahal sesungguhnya Islam sudah mengatur dengan proporsional agar gerak perempuan terjaga dan mulia. Untuk menangkal dalih pembelaan kaum sekuler, bahwa semua bukan hanya tentang perempuan yang membuka aurat dan laki-laki yang tidak kuat iman. Namun, tentang keharusan adanya kebijakan yang mengatur pergaulan kaum perempuan dan laki-laki di ranah publik.
Tak hanya terbatas pada muslimah tetapi untuk perempuan non muslim pun–ketika mereka sukarela menjadi warga negara sistem Islam, mereka akan tunduk dan patuh pada kepemimpinan pemerintah Islam, tak ada diskriminasi atas hak-haknya–sistem Islam mengatur sama agar mereka semua terjaga dari kasus-kasus pelecehan dan pemerkosaan yang kerap terjadi seperti saat ini.

Hari ini, di saat aturan Islam tidak menjadi kunci solusi dari segala problematika di dunia, aturan hijab dituduh sebagai intoleran atau bahkan dilekatkan dengan pelanggaran HAM.

Kini, banyak perempuan yang mengadopsi peradaban sampah, semua terjadi karena negara membiarkan liberalisasi melenggang dengan pasti. Perempuan menjadi korban besar arus kebebasan yang akhirnya menindas dan mengacaukan tatanan. Lahir generasi liar yang tak punya rasa malu, segalanya terlihat murah dan lemah, terumbar tanpa harga. Bahkan gratis menjadi agen Barat dalam mengampanyekan bahwa Islam adalah agama yang kuno. Ayat-ayat terbaik untuk memuliakan kaum perempuan dituduh sebagai alat untuk mendudukkan perempuan pada ruang kehinaan.
Sesungguhnya Islamlah yang modern, menjaga peradaban manusia dengan adil dan maju. Kita hanya butuh sistem Islam kafah tegak kembali, bukan hanya untuk menuntaskan problematika manusia secara umum. Namun, khususnya untuk memuliakan keberadaan kaum perempuan.

Wallahu a’lam bishshawab.