23/04/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Pernikahan Dini adalah Bencana Nasional. Benarkah?

Oleh Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member AMK

“Pernikahan dini
Sebaiknya janganlah terjadi
Namun putih cinta membuktikan
Dua insan tak dapat dipisahkan”

Demikianlah penggalan lagu “Pernikahan Dini” yang dipopulerkan oleh Agnes Monica beberapa tahun yang lalu. Dalam lagu tersebut menjelaskan kepada masyarakat, agar jangan melakukan pernikahan dini. Walaupun nikah adalah pemenuhan naluri, tapi sebaiknya janganlah terjadi. Sebab, belum merasakan hak sebagai anak. Sedangkan pernikahan bukanlah hal yang dapat dipermainkan, tapi harus menghadapi segala macam bentuk masalah kehidupan.

Lain lagi, dengan munculnya Aisyah Weddings di media baru-baru ini yang sempat membuat geger dan resah, baik di dunia maya maupun nyata. Sebab Aisyah Weddings telah mempromosikan pernikahan dini, nikah siri, dan poligami. Namun, hal tersebut yang memancing geram Muhammadiyah, MUI,  aktivis, nitizen, hingga pemerintah. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun mengajak kepada masyarakat, agar menekan pernikahan dini. Sebab selain melanggar UU Perlindungan Anak dan UU Perkawinan. Pernikahan dini, menyebabkan anak menjadi korban kekerasan seksual dan korban eksploitasi.(merdeka.com, 11/2/2021)

BKKBN, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana, Hasto Wardoyo pun menyatakan bahwa pernikahan dini merupakan bencana nasional. Sebab, menimbulkan dampak negatif. Mulai dari kematian ibu, kematian anak, pendidikan kurang terpenuhi, dan melanggengkan kemiskinan antargenerasi. (cnnindonesia.com,3/7/2020)

Sebenarnya, apa permasalahan negeri ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba masyarakat Indonesia dikejutkan viralnya akun Aisyah Weddings. Padahal akun tersebut hanya berumur satu hari, setelah itu diblokir oleh Kemeninfo. “Jika ditelusuri  alamatnya Aisyah Weddings tidak jelas. Spanduk-spanduk yang dipasang di beberapa titik dan pamflet yang dibagikan, tidak ada alamat no hp yang jelas,” kata Baskoro. (kompas.com, 11/2/2021)

Ada sebuah kejanggalan yang dibesar-besarkan media. Sehingga semua itu memancing emosi yang kontra terhadap pernikahan dini. Bahkan membuat Komnas melaporkan ke Mabes Polri. Yang menjadi pertanyaan, kenapa pernikahan dini dihujat dan dimusuhi?

Padahal jika melihat generasi penerus bangsa ini dalam rawan darurat zina. Seperti yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak. Ketika melakukan tes keperawanan di SMP dan SMA Depok. Hasilnya 93,7% dari siswi 4700, mereka mengaku telah melakukan hubungan intim. (cnnindonesia.com, 28/12/2020)

Miris, inilah hasilnya penerapan sistem sekuler. Di satu sisi pemerintah gencar melakukan pelarangan menikah dini. Sebaliknya, di sisi lain pemerintah menyediakan film-film tak mendidik. Banyak situs porno yang mudah diakses di media online. Televisi banyak menayangkan kisah percintaan yang tak layak ditonton. Seperti pacaran di luar nikah, pergaulan yang tak semestinya dilakukan sebelum menikah. Hal inilah yang dicontoh oleh generasi saat ini. Sehingga meningkatkan syahwat birahi pada anak untuk melakukan apa yang mereka tonton. Seperti hubungan intim, hamil di luar nikah, bahkan sampai melakukan aborsi.

Hal ini semakin jelas, bahwa pemerintah bukanlah melindungi anak-anak dari pergaulan bebas. Tapi justru sebaliknya melindungi para kapitalis demi ambisi bisnisnya di media. Semua ini dilakukan demi pundi-pundi uang untuk pemasukan negara melalui pajak. Sementara rakyat hanya dijadikan korban.

Selain dari masalah sosial. Negeri ini juga mempunyai masalah krisis iman dan ekonomi. Kedua masalah ini menyebabkan angka perceraian semakin meningkat. Masalahnya kehidupan rumah tangga yang tidak dibarengi dengan iman, menyebabkan suami isteri mudah marah hingga muncul Kekerasan dalam Rumah Tangga ( KDRT) dan menghadapi biaya hidup yang semakin mahal. Pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok semakin tidak terkendali. Sedangkan di sisi lain, segala sumber daya alam yang seharusnya dikelola negara untuk melayani rakyatnya, justru dikelola kapitalis melalui UU Investasi. Sementara rakyat hanya dijadikan konsumen hasil pengelolaan sumber daya alam terebut. Belum lagi rakyat dijadikan tulang punggung negara.

Inilah sebagian permasalahan negeri ini akibat penerapan sistem yang keliru. Hingga membuat angka kemiskinan semakin tak terbendung lagi. Kemiskinan inilah yang jadi penyebab angka perceraian meningkat, bukan pernikahan dini. Jadi, yang mengkambinghitamkan pernikahan dini adalah suatu bentuk kezaliman yang nyata. Mereka termasuk ingkar kepada Allah Swt. Sebab pernikahan dini hukumnya sunah, tapi justru diharamkan dalam sistem demokrasi.

Berbeda halnya ketika Islam diterapkan dalam institusi negara. Islam, selain mengatur ibadah ritual juga mengatur masalah sosial. Bagaimana tidak, ketika dalam negara yang menerapkan kapitalis sekularisme, budaya pacaran, bergaul bebas, bahkan lebih dari itu termasuk kebebasan berekspresi yang dibiarkan. Namun, dalam Islam kebebasan tersebut diharamkan. Pacaran, perzinahan, pencabulan, dan pergaulan bebas memang termasuk pemenuhan naluri. Hanya saja, pemenuhan naluri ketertarikan kepada lawan jenis yang boleh menurut Islam melalui jalan pernikahan saja.

Dalam nikah pun bukan hanya mampu menafkahi hubungan batin semata. Akan tetapi, seorang laki-laki kedudukannya menggantikan seorang ayah dari perempuan, dalam hal memenuhi nafkah. Berarti, suami wajib menafkahi segala yang dibutuhkan seorang istri.

Jika keduanya telah mampu maka menikahlah. Sebab menikah adalah suatu bentuk ibadah yang panjang. Namun, jika belum mampu menafkahi lahir batin maka berpuasalah. Hal ini telah dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).

Begitu juga dengan pernikahan dini. Pernikahan dini tidak boleh dipaksakan dari orang tuanya, karena hal ini tidak sah dalam pernikahan. Pernikahan dini dibolehkan asal keduanya saling rida dan mampu.

Selain mampu menafkahi lahir batin, nikah harus membekali diri dengan ilmu yang matang. Makanya dalam Islam, pemerintah memasukkan pelajaran nikah dalam kitab fikih sebagai kurikulum pendidikan dan akidah Islam sebagai pondasi keimanan. Agar, ketika anak lulus sekolah mereka mampu berumah tangga. Bekal inilah yang akan membentuk keluarga menjadi sakinah, mawadah, dan warrahmah.

Untuk itu jelas, pelarangan nikah dini adalah suatu wujud kedurhakaan terhadap Allah Swt., karena telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Maidah [5]: 87)

Oleh karena itu, hanya dalam sistem Islamlah pernikahan dini tidak akan dipersoalkan. Justru pernikahan dini dianjurkan sebagaimana mengikuti sunah Rasullullah saw. ketika menikahi Sayyidina Aisyah r.a.

Wallahu a’lam bishshawab