30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Miras Haram, Biang Kejahatan

Oleh Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member AMK

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَام

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram.” (HR. Muslim)

Setelah pro kontra di DPR dan ormas Islam akhirnya Presiden Joko Widodo mencabut UU pelegalan miras yang tercantum dalam Perpres nomor 10 tahun 2021 tentang Penanaman Modal khususnya bagian miras.

Dikutip (tempo.co, 2/3/2021) Bahwasannya presiden Joko Widodo menyampaikan ” Bersama ini saya sampaikan, saya putuskan lampiran Perpres terkait pembukaan investasi dalam industri miras yang mengandung alkohol. Saya nyatakan dicabut.” Kata Presiden Joko Widodo dalam siaran pers.

Tentu hal ini membuat rasa lega umat Islam, tapi kenapa baru dicabut setelah terjadi penolakan dari ormas Islam, ulama dan MUI? Padahal sedari awal presiden harus tahu bahwa apa yang dilegalkan tersebut status hukumnya adalah haram.

Inilah rusaknya demokrasi sekularisme. Dimana hukum Al-Qur’an bisa dikalahkan dengan hukum manusia. jika hasil voting DPR banyak pendukungnya, maka jadilah UU. Walaupun masalah tersebut statusnya haram, maka ketika masuk dalam sistem sekularisme berubah menjadi halal. Seperti hukum riba, berubah menjadi halal sebab banyak manfaatnya bagi negara.

Tentu cara pandang seperti ini adalah bahaya. Sebab menggunakan standarnya adalah hawa nafsu untuk menilai baik dan buruknya sesuatu. Masalahnya dalam sistem demokrasi ini seringkali baik atau halal bila mendatangkan keuntungan atau materi. Sebaliknya dianggap jelek, ketika tidak mendatangkan materi atau keuntungan.

Seperti pencabutan miras. Sebelum dicabut miras dianggap halal atau baik. Sebab membantu devisa pemerintahan pusat dan daerah. Selain itu, produksi lokal miras, dapat membuka lapangan kerja besar-besaran di tanah air dan mengurangi importir.

Tentunya mengubah-ubah hukum seperti ini termasuk salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah Swt. Jika hal ini dibiarkan maka Islam hanya akan terlihat sebagai aspek ibadah ritual semata. Sedangkan dalam aspek yang lain ditinggalkan. Bagaimana menerapkan Islam kafah? Jika sistem negeri ini mengamalkan sebagian dan menolak sebagian hukum Islam. Padahal umat Islam untuk menerapkan Islam kafah.  Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 208.
Tapi, Islam kafah tersebut sulit diamalkan, manakala negaranya menerapkan sistem sekularisme. Islam hanya bisa tegak jika negara menerapkan sistem Islam.

Seperti kasus saat ini, tentang minuman keras. Dalam Islam jelas hukumnya haram. Bahkan Rasulullah saw, sendiri menyampaikan.

Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram.” (HR. Muslim)

Selain itu dalam Al-Qur’an juga dijelaskan

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَا لْمَيْسِرُ وَا لْاَ نْصَا بُ وَا لْاَ زْلَا مُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَا جْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya;

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Ma’idah[5]: 90)

Namun dalil Al-Qur’an dan hadis tersebut siapa yang akan menerapkan jika bukan negara. Bagi para peminum, penjual, pembuat, dan pengedar miras dan narkoba. Siapa yang akan memberikan sanksi? Apakah masyarakat atau negara.

Padahal dalam Islam hukuman bagi peminum khamr dicambuk empat puluh kali atau didera delapan puluh kali. Ali bin Abi Thalib r.a menyampaikan, bahwasanya Rasulullah saw mencambuk peminum khamr empat puluhkali. Abu Bakar empat puluh kali. Sedangkan Umar bin Khattab delapan puluh kali.

Pemberlakukan hukum ini hanya akan ada jika, negara yang menerapkan hukum hudud, bukan sistem sekularisme demokrasi. Syarat pemberlakuan minuman khamr juga harus muslim, berakal, baligh, minum dengan sengaja bukan paksaan.

Namun hal ini berbeda ketika orang kafir yang meminumnya. Dalam negara Islam orang kafir dibiarkan minum. Sebab, dalam agama mereka dihalalkan. Tapi di tempat-tempat yang disediakan. Walaupun orang kafir dibolehkan mengonsumsi akan tetapi negara Islam tidak membiarkan pabrik miras dan peredaran miras beredar di tengah masyarakat. Sebab miras adalah biang segala kejahatan.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author