23/04/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

SENGKARUT SAMPAH BUTUH SOLUSI TUNTAS


Oleh : Nisa Agustina, M.Pd
(Pegiat Literasi)

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari lalu, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Bandung, Tisna Umaran mengajak masyarakat untuk menabung di Bank Sampah. Ia menuturkan, selain bernilai ekonomis, menjadi nasabah bank sampah juga bisa ikut mengurangi pencemaran lingkungan di Kabupaten Bandung (jabarekspres.com, 23/02/21)

Bank Sampah merupakan program yang saat ini gencar digalakkan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah yang semakin parah. Dijalankan dengan konsep pengumpulan sampah kering yang dipilah, Bank Sampah memiliki manajemen layaknya perbankan, hanya saja yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung atau nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung kemudian dijual ke pabrik-pabrik yang sudah bekerja sama, sedangkan plastik kemasan dibeli ibu-ibu PKK setempat untuk didaur ulang menjadi barang-barang kerajinan.

Selain program diatas, pemerintah juga sudah mencoba berbagai macam cara untuk menangani masalah sampah. Namun sampai saat ini, permasalahan sampah masih menjadi PR besar. Di kota Bandung misalnya, meski ditunjang label Smart City, Kota Bandung nampaknya masih kesulitan menangani sampah. Rencana penggunakan teknologi insenerator di tempat pembuangan akhir Sarimukti tak kunjung dibangun karena dianggap mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selajutnya, teknologi biodigester dari Jepang pun digagas, tapi tidak terwujud. Akibatnya, sampah menjadi masalah yang tak kunjung tuntas. Jumlahnya semakin banyak karena produksi sampah semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk.

Di Jawa Barat, laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,48 persen. Saat ini, jumlah penduduk Jawa Barat 18,37 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan populasi sebanyak itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat mencatat, timbunan sampah mencapai 21.000 ton per hari pada tahun 2017. Lalu, tahun 2018 terjadi kenaikan menjadi 22.000 ton per hari dan di tahun 2019 naik menjadi 22.400 ton per hari (mongabay.co.id, 22/02/21)

Sampah memang telah menjadi isu dunia. Indonesia sendiri dinobatkan sebagai salah satu negara penyumbang sampah terbesar kedua di dunia setelah Cina. Tumpukan sampah menggunung di daratan, baunya bisa membumbung ke udara. Bahkan jutaan ton sampah bisa sampai terombang-ambing ombak mengapung di lautan. Bisa dikatakan sampah tidak hanya identik dengan bau busuk, tapi lebih pas kalau sampah diartikan sebagai cermin kehidupan. Dengan hanya melihat sampah yang dihasilkan, dapat diketahui sifat asli manusia dan wajah dari peradaban.

Peradaban kapitalisme yang serakah dan konsumtif terbukti menjadi biang keladi utama semakin menggunungnya sampah ini. Ketika industri dibebaskan memproduksi barang dengan ekonomi linear, maka produsen akan mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia dengan serakah untuk menghasilkan sebanyak mungkin barang sekali pakai. Produksi barang yang banyak memerlukan modal lebih sedikit dan mampu menekan harga jual, sehingga menarik banyak pembeli. Inilah yang menjadi sumbu konsumerisme masyarakat dan gunungan sampah yang terus menerus. Program apapun yang dilakukan sebagai solusi penanganan sampah jika masih diterapkan dalam kerangka sistem kapitalisme, maka tidak akan berhasil.

Karena itu, Pengelolaan sampah yang tepat sangat mendesak untuk dilakukan. Tanpa langkah yang tepat, segudang masalah terkait pengelolaan sampah berpotensi terus membebani. Perlu adanya solusi tuntas dan upaya terintegrasi dari seluruh sektor dalam pengelolaan sampah.

Solusi Tuntas itu adalah Islam
Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satu hal dalam kehidupan manusia melainkan Islam telah memberikan arahan dan petunjuknya. Semua kandungan ajaran dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat. Selain masalah kebersihan diri, Islam juga sangat memperhatikan kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita. Karena sebagai agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, Islam tidak akan membiarkan manusia merusak atau mengotori lingkungan sekitarnya. Lantas bagaimanakah cara Islam dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah?

Pertama, mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipal yaitu keimanan terhadap surga dan neraka, sebagaimana hadits Rasulullah saw. “Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (HR. Baihaqi).

Pemahaman tentang kebersihan yang mendasar ini menumbuhkan kesadaran individual untuk pemilahan sampah dan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. Pengurangan sampah secara individual dapat dilakukan dengan mengonsumsi sesuatu secukupnya, makanan misalnya. Upaya minimalisir juga tertancap dalam gaya hidup Islami karena setiap kepemilikan akan ditanya tashoruf-nya (pemanfaatannya), bernilai pahala atau berbuah dosa.

Kedua, menekankan peran masyarakat dalam penjagaan kebersihan. Pada kondisi-kondisi tertentu, upaya individual menjadi sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Karena itulah upaya pengelolaan sampah komunal diperlukan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, bagus dan menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At-Tirmidzi).

Pengelolaan sampah komunal dilakukan dengan prinsip ta’awun, bekerja sama dalam kebaikan. Bahkan bisa jadi antar masyarkat terdapat aghniyaa’ (orang kaya) yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah komunal. Masyarakat dapat dibebani kewajiban memilah atau mengelola sampah secara bergantian.

Ketiga, menitikberatkan tanggung jawab pemerintah sebagai Ro’in (pengurus urusan masyarakat). Pengelolaan sampah masyarakat tak boleh bertumpu pada kesadaran dan kebiasaan masyarakat saja, karena selain kedua hal itu, tetap dibutuhkan infrastruktur pengelolaan sampah. Kondisi pemukiman masyarakat yang heterogen, adanya pelaku industri yang menghasilkan sampah dalam jumlah banyak, dan macam-macam sampah yang berbeda penanganannya, meniscayakan peran pemerintah bertanggung jawab atas pengelolaan sampah masyarakat.
Kebersihan membutuhkan biaya dan sistem yang baik, namun lebih dari itu perlu paradigma mendasar yang menjadi keseriusan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Edukasi masyarakat yang dilakukan pemerintah dengan menyampaikan pengelolaan sampah yang baik merupakan amal salih yang dicintai Sang Pencipta. Oleh karena itu, kesadaran untuk menggunakan sistem yang langsung berasal dari Sang Khalik adalah menjadi hal yang urgen untuk menjadikan Indonesia dan dunia lebih baik.

Sebagai contoh, kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 M. Pada masa Bani Umayah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah karena ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya di bangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi.

Tokoh-tokoh Muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh. Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Sampah-sampah dapur di buang penduduk di depan-depan rumah mereka hingga jalan-jalan kotor dan berbau busuk.

Demikianlah pengaturan Islam dalam kehidupan yang jika aturannya diterapkan akan membawa banyak kebaikan dan keberkahan. Jangankan persoalan sampah, masalah masuk kamar mandi saja Islam mengatur.

Jaminan kesejahteraan era peradaban Islam dapat terwujud bukan karena kebetulan, namun karena peradaban Islam memiliki seperangkat aturan atau kebijakan. Aturan maupun kebijakan ini bersumber dari Islam. Karena sejatinya peradaban Islam adalah representasi dari penerapan Islam secara menyeluruh dan utuh. Aturan-aturan ini mencakup ranah individu, keluarga, masyarakat dan negara. Sehingga secara sederhana semua keagungan khilafah dapat terwujud karena Islam diterapkan secara penuh. Sehingga, jika masalah sampah ini ingin segera selesai, satu-satunya solusi adalah kembali kepada sistem Islam yang sempurna dan menyeluruh di bawah naungan Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Wallahu a’lam bish showwab.