04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Islam Melarang Miras


Oleh Ummi Muthya
Pegiat Dakwah dan Ibu Rumah Tangga


Setelah menuai kontroversi dari masyarakat, akhirnya Presiden Jokowi pada Selasa, 2 Maret 2021, mencabut lampiran Perpres No. 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Perpres ini mengatur pembukaan Investasi baru industri miras yang mengandung alkohol.
Artinya, yang dicabut bukan Perpresnya, tetapi hanya lampirannya. Itu pun hanya lampiran usaha No. 31 dan No. 32. Adapun lampiran Bidang Usaha No. 44 tentang perdagangan Eceran Minuman Keras atau beralkohol dan No 45 tentang perdagangan eceran kaki lima Minuman keras atau beralkohol tidak dicabut.


Industri dan perdagangan miras diklaim memberikan manfaat secara ekonomi, yakni pendapatan negara. Pada tahun 2020 penerimaan cukai dari Etil Alkohol sebesar Rp 240 miliar dan Minuman mengandung Etil Alkohol (MMEA) Rp 5,76 Triliun (dikutip Cnnidonesia.com, 02/03/2021)
Dradjad Wibowo menyebutkan bahwa menurut studi pada 2020, biaya dari minuman keras di AS mencapai 249 miliar dollar AS, ini biaya yang ditanggung dari efek minuman keras ke perekonomian. Jika dipresentasikan ke PDB AS, jatuhnya 1,66 persen dari PDB, papar Dradjad (dilansir Republika.co.id, 1/3/2021)
Islam telah mengingatkan bahwa miras banyak mendatangkan kemadaratan. Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Tafsir ayat al Ahkam al-Qur’an mengatakan bahwa tidak pernah disebutkan sebab keharaman sesuatu melainkan dengan singkat. Namun pengharaman khamr (miras) disebut secara terang-terangan. Allah Swt. menyebut khamr (dan judi) bisa memunculkan permusuhan dan kebencian diantara orang beriman, memalingkan orang Mukmin dari mengingat Allah Swt. melalaikan shalat. Allah Swt. juga menyifati khamr dan judi dengan rijs (un) (kotor), perbuatan syetan dan sebagainya. Semua ini mengisyaratkan dampak buruk miras.
Miras dapat merusak pribadi peminumnya, berpotensi menciptakan kerusakan bagi orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh miras berpotensi melakukan beragam kejahatan, bermusuhan dengan saudaranya, mencuri, membunuh. Khamr biang kejahatan dan dosa paling besar, Islam melarang total semua hal yang berkaitan dengan miras (khamr) mulai dari pabrik dan produsen miras, distributor, penjual hingga konsumen (peminumnya) Rasulullah saw. bersabda :
Rasulullah saw. telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pengantarnya, yang minta diantarkan khamr, penuangnya, penjualnya, yang menikmati harganya, pembelinya, dan yang minta dibelikan (HR at-Tirmidzi).
Islam menerapkan sanksi hukuman bagi orang yang meminum miras berupa cambukan 40 kali atau 80 kali, untuk pihak selain yang meminum khamr, maka sanksinya berupa sanksi ta’zir Bentuk dan kadar sanksi di serahkan kepada khalifah atau qadhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Produser dan pengedar khamr selayaknya dijatuhi sanksi lebih keras dari peminum khamr sebab mereka yang menimbulkan bahaya yang lebih besar dan lebih luas bagi masyarakat. Oleh karena itu miras haram dan harus dilarang total. Hal ini bisa terealisir jika syariat Islam diterapkan secara kaffah.
Semua ini akibat dari sistem yang berakar pada sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), faktanya miras tetap diizinkan beredar. Dalam sistem sekuler, aturan agama (syariah) dicampakkan. Pembuatan aturan diserahkan kepada manusia melalui mekanisme demokrasi. Tolak ukur kapitalisme dalam segala hal termasuk pembuatan hukum dan pengaturan urusan masyarakat adalah keuntungan atau manfaat, terutama manfaat ekonomi.
Selama sistem sekuler terus diadopsi dan diterapkan, sementara sistem syariah Isĺam di campakkan masyarakat terus terancam, hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, barulah segala kemaksiatan bisa terselesaikan, hanya dengan penegakkan hukum Allah Swt. dalam sistem khilafah, semua kemungkaran bisa dibasmi sampai ke akar- akarnya.
Wallahu A’lam bish shawab .

About Post Author