06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Perlukah Moderasi Di Pengajaran Sejarah Islam

Oleh Sri Mulyati
Mahasiswi dan Member AMK

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya. Begitulah ungkapan yang biasa kita dengar, ketika mempelajari sejarah di bangku sekolah. Begitupun seseorang dapat dikatakan cerdas tatkala ia mengetahui tentang sejarah. Terlebih kita kaum muslimin haruslah mengetahui dan memahami Sejarah Islam sebagai tauladan di kehidupan sekarang.

Dalam sejarah, tentulah banyak pelajaran yang dapat kita petik.
Dikutip Sindonews.com. Kemenag menyampaikan bahwa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) harus di sampaikan secara komprehensif untuk membentuk generasi moderat seperti pada masa kejayaan. (Sindonews.com, 26/02/2021)

Pengarahan materi sejarah menuju moderat atau moderasi beragama dalam membentuk generasi moderat merupakan upaya pengalihan tujuan dalam membentuk generasi yang unggul berdasarkan kepribadian Islam. Moderasi dalam pengajaran sejarah dapat mengaburkan pemahaman anak bangsa terhadap sejarah Islam yang sesungguhnya. Penyampaian materi secara komprehensif memang sudah seharusnya disampaikan secara utuh. Walaupun, sesungguhnya materi sejarah bukan jalan satu-satunya untuk membangkitkan suatu negara.

Namun, ketika belajar sejarah secara utuh, dapat membangkitkan semangat/ghirah kaum muslimin dalam memperjuangkan agamanya. Moderasi pengajaran Sejarah Islam hanya akan memupus semangat kebangkitan umat.
Semestinya Kemenag mengarahkan orientasi pengajaran Sejarah Islam secara utuh, tidak mendistorsi materi sejarah kekuasaan Islam dan khilafah. Karena generasi yang unggul hanya akan lahir tatkala negaranya menerapkan Islam secara kafah. Contoh nyata tatkala sultan Muhammad Alfatih yang mampu menaklukan Konstantinopel di usia yang masih belia. Melalui tangan beliaulah telah membuka jalan untuk Eropa dalam menyebarkan Islam. Sehingga, Islam menjadi cahaya di langit Eropa.
Sejarah ini semestinya dimasukan kedalam materi pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam dan menghayati esensi dari sejarah tersebut. Tidak dianggap hadir karena peradaban yang bersifat inklusif dan toleran dalam perspektif liberal.

Karena jelas-jelas ketika Islam berkuasa mampu menciptakan nilai-nilai toleransi yang tinggi. Nampak ketika sultan Muhammad Alfatih membiarkan mereka menganut kepercayaan dan melakukan ritual peribadatan mereka pascapenaklukan tersebut meraih kemenangan. Tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Walaupun, sesungguhnya mereka hidup dalam naungan Islam.
Masyarakat muslim maupun nonmuslim diperlakukan sama dalam hal pelayanan publik tanpa adanya diskriminasi dan membeda-bedakan eksistensi keduanya.

Moderasi beragama yang menganggap bahwa berislam itu tidak boleh ekstrem dan radikal menurut kacamata orang-orang liberal, mengindikasikan ketidaksukaan mereka terhadap Islam. Mereka menutup mata, bahwa Islam pernah menjadi peradaban yang gemilang dan mercusuar negara Eropa. Mereka menganggap bahwa seseorang yang memiliki pemahaman Sejarah Islam yang utuh dan berusaha untuk memperjuangkan kembali akan tegaknya sebuah institusi yang memiliki nilai toleransi yang tinggi.

Jelas akan mematahkan ghirah kaum muslimin. Terlebih kita melihat yang menjadi sasarannya adalah para pemuda. Ketika kita melihat fakta yang telah dipaparkan di atas . Jelas sudah moderasi pengajaran sejarah bukanlah hal yang pokok yang menjadi kebutuhan umat saat ini. Mereka sesungguhnya lebih membutuhkan pengajaran Sejarah Islam yang utuh. Sehingga memperoleh pemahaman yang menyeluruh.

Bahwa Islam pernah berjaya pada masa lampau dengan akidah Islam sebagai landasan dalam bernegara.
Namun, kembali lagi sistem saat ini tidaklah menghendaki hal tersebut. Dengan demikian, sistem Islamlah jalan satu-satunya untuk menerapkan dan memposisikan Islam sebagai peradaban yang mulia dan mampu mencetak generasi yang unggul bagi bangsanya.

Wallahu a´lam bishawab

About Post Author