04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Peristiwa Isra’ Mi’raj dan Keistimewaannya


Oleh Suryani
Ibu Rumah Tangga


Allah Swt. telah menetapkan empat bulan haram (suci) di dalam satu tahun. Diantaranya adalah bulan Rajab. Bukan hanya suci tetapi merupakan bulan istimewa, karena di dalamnya banyak peristiwa yang sangat penting. Salah satunya Isra’ Mi’raj Rasulullah saw. pada tahun sepuluh kenabian. Peristiwa agung ini diabadikan oleh Allah Swt. dalam al-Quran Surat al-Isra ayat 1.
Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang di luar jangkauan akal manusia, karena itu sebagian orang yang lemah iman berbalik murtad karena peristiwa ini. Keadaan inipun dimanfaatkan kaum musyrik Quraisy untuk menghasut kaum muslim yang masih bertahan dengan keimanan mereka.
Namun, ketika diprovokasi oleh kaum musyrik, soal Isra Mi’raj, Abu Bakar ra. malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran, yang dibawa oleh Rasulullah saw. “Demi Allah jika yang muhamad katakan, sungguh ia berkata benar. Apa yang aneh pada kalian? Demi Allah sungguh ia berkata kepadaku, bahwa telah datang kepada dia wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam, atau sesaat pada waktu siang, dan aku mempercayai dia. Inikah puncak keheranan kalian?”
Sikap Abu Bakar ash-Shiddik ra. menunjukkan pribadi mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajarannya.
Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa agung yang terjadi satu tahun sebelum hijrah, tepatnya terjadi setahun sebelum proklamasi Daulah Islam di Madinah al-munawwarah. Waktu satu tahun cukup bagi Rasulullah untuk mendapatkan orang-orang yang layak menjadi sandaran bagi tegaknya Daulah. Dari orang-orang yang terseleksi inilah peristiwa hijrah Rasulullah saw. berjalan sukses, yang ditandai dengan keberhasilan beliau menegakkan Daulah Islam di Madinah atas perintah Allah Swt.
Dua masjid disinggahi dalam perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah saw. yakni masjid al-Haram di Makkah dan masjid al-Aqhsa di Palestina sebelum ke langit menghadap Allah Swt. Makkah tempat Ka’bah berada merupakan tanah suci, begitupun dengan Palestina yang merupakan bagian dari negeri Syam yang Allah berkahi karena kebanyakan nabi dilahirkan di negeri ini, dan tanahnya pun subur.
Dalam pandangan Islam, tanah Palestina (Syam) adalah tanah kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds yang merupakan lambang kebesaran umat Islam, dan menempati posisi yang sangat mulia. Sehingga Khalifah Turki Ustmani, Sultan Abdul Hamid ll mengatakan, “Sungguh aku tidak akan melepaskan bumi Palestina walaupun hanya sejengkal. Goresan pisau di tubuhku terasa lebih ringan bagi diriku daripada aku harus menyaksikan Palestina terlepas dari Khilafah, kecuali Khilafah telah terkoyak-koyak. (DR. Muhamad Harb, Catatan Harian Sultan Abdul Hamid ll, Pustaka Thariqul izzah, 2004).
Terbukti, ketika Khilafah Turki Utsmani penjaga dan pelindung bumi Palestina dibubarkan oleh Mustafa Kemal Attatturk dengan dukungan Inggris, sejak saat itu hingga kini tanah yang diberkahi sekaligus tempat masjid al-Aqhsa berada terus diduduki kaum Yahudi. Karena itu diperlukan upaya untuk membebaskannya kembali. Hal itu tidak mungkin, kecuali dengan mengembalikan penjaga dan pelindungnya yang sejati, yakni Khilafah Islamiyah. Di sinilah urgensitas Khilafah Islamiyah bagi kaum muslim
Selama 13 abad Khilafah Islamiyah sukses menciptakan peradaban yang agung. Khilafah mampu melindungi dan menebarkan rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya umat Islam. Bahkan menurut Will Durant dalam The Story of Civilization, sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah juga telah memberikan kesejahteraan bagi siapapun selama berabad-abad dalam wilayah yang amat luas, yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu sastra, filsafat, dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang menjadikan Asia Barat sebagian menjadi bagian dari dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.
Sayang sejak keruntuhan Khilafah tahun 1924 M/1342 H, umat Islam selama 100 tahun terakhir tidak lagi memiliki kekuatan dan pelindung. Sejak itu pula hingga kini, umat Islam di berbagai belahan dunia dirundung nestapa. Tak terkecuali bumi Palestina. Negeri yang Allah Swt. berkahi sejak lama berada dalam cengkraman penjajahan Zionis Israel.
Dengan merenungi peristiwa Isra Mi’raj 1442 H ini, saatnya umat muslim sadar akan pentingnya menguatkan keimananan, serta terus mempererat persatuan. Dan bersama-sama memperjuangkan agar syariat Islam bisa diterapkan dengan sempurna (kaffah), tentunya dalam bingkai Khilafah. Sehingga umat terlindungi dari berbagai penjajahan, baik pisik maupun pemikiran. Serta terus berdoa semoga Allah segera memberikan pertolongan agar Khilafah ala minhaj an-nubuwah yang dijanjikan-Nya segera terwujud.
Wallahu a’lam bi ash Shawab

About Post Author