04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pernikahan Dini Dilarang, Pergaulan Bebas Dilegalkan

Oleh Bunda Ilman
Ibu Pemerhati Generasi

Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan mengenai usia perkawinan perempuan dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berbunyi: Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Anggota Komnas Perempuan, Masruchah merekomendasikan agar batas minimal usia pernikahan perempuan ditetapkan berdasarkan kematangan kesehatan reproduksi yakni 20 tahun. Tetapi untuk mempertimbangkan kesetaraan usia perkawinan dengan laki-laki adalah 19 tahun.

Maraknya pernikahan dini Indonesia, salah satunya berita yang sedang mencuat yaitu sebanyak enam puluh empat ribu anak yang dinikahkan pada masa pandemik tahun 2020, menurut komnas HAM perempuan UU perkawinan telah direvisi, tapi masih ada ‘celah’ yang memungkinkan pernikahan dibawah usia 19 tahun. Seperti yang dilansir di website VOA Indonesia (11/03/2021). Hal ini menjadi celah bagi para pejuang UU perkawinan untuk memperjuangkan pembatasan usia perkawinan dibawah usia anak. Dengan alasan melanggar hak asasi anak, mereka terus memperjuangkan agar pernikahan dini bisa minimilasir, hal ini pun seusai dengan arahan PBB.
Alasan melakukan pernikahan dini saat ini di antaranya:

  1. Faktor ekonomi

Tekanan hidup di zaman kapitalis sekuler mengakibatkan himpitan ekonomi di berbagai keluarga muslim. Pernikahan dini, banyak diambil sebagai solusi pragmatis para orang tua untuk melarikan diri dari masalah ekonomi.

Ada pendapat yang salah yang banyak berkembang di masyarakat bahwa ketika menikahkan anaknya secara dini menjadi solusi agar terhindar dari jerat ekonomi. Saat pandemi marak terjadi orang tua yang menikahkan anak-anak perempuannya tanpa mengimbangi dengan bekal ilmu yang mumpuni Tujuan yang dipikirkan oleh orang tua hanya satu terurainya beban keluarga yang kian menyesakkan dada.

Hal mendasar yang menjadi pemicu sebenarnya pernikahan diri adalah kondisi ekonomi yang semakin sulit, semua ini diakibatkan oleh sistem kapitalisme yang kian nenjerat negeri ini.

  1. Faktor pendidikan

Agama sebagai pondasi kehidupan untuk menyelesaikan masalah hidup gagal diwujudkan dalam sistem pendidikan sekuler dewasa ini. Pondasi keimanan peserta didik banyak yang runtuh menyebabkan prilaku anak jauh dari kepribadian Islam.

Anak shalih dan shalihah impian semua orang tua, sulit diwujudkan. Orang tua dijauhkan dari pendidikan anak. Mulai dari minimnya ilmu pendidikan yang dimiliki orang tua, sehingga mereka awam dalam mendidik anak. Sampai kesibukan orang tua bekerja, sehingga lalai mengawasi pendidikan anak. Sehingga ibu sebagai madrasah pertama bagi anak, gagal terealisasi.
Ditambah kurikulum pendidikan yang sekuler. Di mana agama dijauhkan dari pendidikan. Hingga anak tak mengenal Islam sebagai pondasi kehidupan dan Islam sebagai penerang dalam setiap langkah kehidupan.

  1. Faktor sosial

Kondisi sosial yang semakin liberal menjadi pemicu pernikahan dini saat ini. Banyak remaja yang terpapar pergaulan bebas dikarenakan tontotan atau bacaan yang mengandung konten yang jauh dari Islam. Apalagi dengan teknologi yang bebas saat ini, remaja bebas mengakses di media massa. Tanpa adanya kontroling baik dari keluarga, masyarakat ataupun negara.

Terbiasanya remaja dengan konten yang menjurus pada pergaulan bebas. Akhirnya banyak remaja yang berpikir ke arah menikah. Dan menjadikan menikah sebagai solusi bagi remaja yang sudah terlanjur bergaul bebas dan hamil diluar nikah.

Solusi Dalam Islam

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik dalam aspek individu maupun aspek komunal.
Dalam masalah ekonomi , Islam mengatur sedimikian rupa agar ekonomi berjalan dengan baik sesuai dengan syariat -Nya.
Syariat-Nya mengatur bahwa setiap individu dalam masyarakat Islam harus terpenuhi kebutuhan primernya. Kebutuhan primer ini adalah sandang, pangan, papan. Artinya pemerintah Islam akan memastikan kondisi masyarakat terpenuhi kebutuhan pokoknya. Para orang tua akan merasa tenang dengan masa depan anaknya. Karena ekonomi keluarga stabil, orang tua tidak akan menjadikan masalah ekonomi sebagai alasan untuk menikahkan anak – anaknya.
Dalam masalah pendidikan, mereka para orang tua akan fokus menjadikan anak – anaknya berkepribadian Islam dan menjadi anak yang faqih fiddin dan mengusai ilmu dan tekhnologi. Tentunya saja hal ini didukung oleh kurikulum pendidikan yang berasaskan Islam yang mumpuni.

Anak yang berada dalam asuhan Islam, akan menjadi anak yang dewasa dalam memandang kehidupan. Memiliki keimanan yang matang dan kepribadian Islam yang kuat. Sehingga bila pun menikah pada usia dini, mereka memang sudah mampu menjalani dengan maksimal tanpa paksaan dan tekanan keadaan.
Dalam masalah sosial, negara akan menjauhkan konten pornoaksi dan pornografi dari tengah – tengah masyarakat. Negara akan tegas menindak segala hal yang akan merusak tatanan akhlak di kalangan remaja. Sehingga secara dini, remaja akan fokus terhadap masa depan.
Akhlak dan pribadi anak akan terjaga oleh tatanan Islam, baik dijaga oleh keluarga, oleh masyarakat dengan adanya kontrol sosial yang ketat, amar ma’ruf akan menjadi habits yang mulia. Tidak kalah penting penjagaan negara.

Pernikahan Dini Dalam Islam.

Serangan para pejuang sekuler terhadap pernikahan dini perlu diwaspadai. Pernikahan dalam usia muda justru adalah solusi bagi kehidupan remaja yang sudah matang dan paham terhadap Islam. Tapi, dalam kondisi sekuler saat ini, sejatinya praktik pernikahan dini yang salah kaprah merupakan akibat dari rusaknya tatanan kehidupan sekuler liberal yang dibangun. Justru pembatasan usia pernikahan bukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan sosial saat ini. Dengan terapkan Islam secara total, maka remaja akan dijaga sejak dini oleh Islam. Dan, tidak akan terjerumus pada masalah sosial yang menjadi masalah tak terselesaikan seperti saat sekarang ini.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author