25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Bank Syariah Sudahkah Jadi Solusi?

Oleh Ummu Junnah

Segala jurus sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan, ibarat orang yang akan tenggelam semua akan diraih untuk menyelamatkan diri.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sektor ekonomi dan keuangan syariah mampu bertahan di tengah guncangan krisis karena pandemi Covid-19. Kondisi itu dilihat dari rasio kecukupan modal atau CAR perbankan syariah hingga kredit macet alias non-performing loan (NPL).

CAR dari bank syariah selama 2020 masih stabil pada angka 20-21 persen. Sedangkan NPL atau Non performing finance turun dari 3,46 persen pada Januari 2020 menjadi 3,13 pada Desember 2020,” ujar Sri Mulyani dalam acara Seremoni Peresmian Sfafiec dan Forum Nasional Keuangan Syariah yang ditayangkan secara virtual, (Tempo.co, 12/3/2021)

Ia menjelaskan sektor ekonomi dan keuangan syariah tetap bertahan di tengah banyaknya kinerja korporasi yang memburuk. Krisis ini tak pelak menyebabkan perbankan terkena dampak, terutama di sisi kredit macet.Ketahanan keuangan syariah juga dilihat dari aset perbankan yang justru melesat sepanjang 2020. Ia menyebut, total aset perbankan syariah pada Desember 2020 meningkat menjadi Rp 608,9 triliun atau naik dari Desember 2019 sebesar Rp 538,32 triliun.

Meski berada dalam kondisi baik, ia mengatakan sektor ekonomi dan keuangan syariah masih menghadapi tantangan. Dari sisi market share, perbankan syariah dinilai masih kalah ketimbang perbankan konvensional yang saat ini menguasai mayoritas pasar keuangan.“

Kita lihat market share perbankan syariah masih relatif kecil 6,51 persen dari total aset perbankan,” kata Sri Mulyani. Dari kapitalisasi pasarnya, indeks saham syariah Indonesia pun malah turun dari Rp 3.744 triliun pada 2019 atau 51,5 persen dari total emiten di pasar modal menjadi Rp 3,344 triliun pada 2020 atau turun 47,9 persen.

Kemudian dari sisi keuangan non-perbankan, aset industri keuangan non-bank syariah atau IKNB masih lebih rendah daripada IKNB konvensional. “Kapitalisasi aset IKNB syariah masih sangat kecil dibanding IKNB konvensional, yaitu sebesar 4,43 persen,” tutur dia.

Seluruh data itu, kata Sri Mulyani menggambarkan bahwa di tengah perkembangan sektor ekonomi dan keuangan syariah, Indonesia masih harus menggali potensi pada masa mendatang. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu membeberkan, pasar keuangan syariah bisa diperluas dengan perbaikan dari sisi sumber daya manusia atau SDM dan pengembangan teknologi digital.

Usaha yang dilakukan untuk mengembangkan perbankan syariah sejatinya hanya menambah masalah di tengah masalah. Banyak yang beranggapan bahwa dengan memperkuat perbankan syariah, maka ekonomi syariah akan kuat.

Padahal kalau dilihat lebih dalam lagi, keberadaan perbankan syariah tidak akan lepas dari pengaturan Bank Indonesia atau BI. Sebagaimana bank konvensional lainnya, BI merupakan bank induk dari sistem perbankan negeri ini. Dimana sistem keuangan yang diambil adalah sistem kapitalis.

Jadi, kalau perbankan syariah berada di bawah naungan BI. Artinya, perbankan syariah harus mengikuti prosedur BI. Mungkin transaksi dan istilah dalan perbankan syariah terkesan Islami. Namun, bisa saja hal itu hanya kedok untuk menutupi istilah tertentu di perbankan syariah, yang sebenarnya malah melanggar syariat.

Dengan adanya perbankan syariah ini, umat bagaikan disodori solusi masalah yang pas. Perbankan syariah akan menyelesaikan masalah umat. Sehingga, umat yang punya keinginan perubahan kondisi dari tidak islami ke islami akan tergiur dengan istilah syariah.

Akibatnya, mereka beranggapan bahwa perjuangan menuju syariah kafah sudah terlaksana. Karena perbankannya sudah syariah, sehingga perjuangan itu dianggap cukup. Tidak perlu ada perjuangan lain lagi, ini sangat berbahaya bagi kaum muslimin.

Dengan begitu jelaslah apa dan bagaimana pandangan mereka tentang syariah. Sebatas hal-hal yang dianggap menguntungkan dan dapat dimanfaatkan. Maka, solusi parsial seperti ini tidak akan pernah membawa negeri ini pada kebangkitan ekonomi. Sebenarnya yang terjadi adalah umat tersibukkan pada perjuangan semu. Terlena dengan istilah syariah. Padahal itu hanya istilah yang dilabeli Islami.

Meluruskan Akar Kebangkitan

Masalah yang menimpa kaum muslim, baik kekerasan, ketidakadilan, pembunuhan, korupsi, kemiskinan, kenakalan remaja hingga ekonomi sebenarnya disebabkan karena satu hal. Menjauhnya kaum muslim dari agamanya (Islam), membuat kehidupan kaum muslim serampangan. Sejak runtuhnya Kekhilafahan Ustmaniyah penderitaan kaum muslim terus bertambah.

Jadi, jika ingin memperbaiki dan membangkitkan umat, cara yang ditempuh bukan hanya menghidupkan satu sektor syariah, tetapi harus seluruhnya. Mulai dari hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri hingga dengan yang lain. Bukankah Allah Swt. memerintahkan kita untuk masuk Islam secara kafah?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah : 208)

Allah Swt. telah memberikan peringatan kepada siapa saja yang mengambil syariah Islam sebagian-sebagian.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami ingkar terhadap (sebagian yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS An-Nisa: 150-151)

Permasalahan kapitalisme tidak dapat diselesaikan dengan metode tambal sulam Islam parsial. Ibarat satu tubuh, badannya, jantungnya, darahnya dan pompa darahnya adalah kapitalisme. Jika hanya jantungnya saja yang diganti, sementara darahnya dan tubuhnya masih kapitalisme, tentu tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Cacat bawaan kapitalisme tidak dapat diobati secara tuntas, kecuali kalau diganti sistemnya secara keseluruhan dengan sistem Islam kafah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author