06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kaum Muslim Wajib Melindungi Kemurnian Akidahnya


Oleh Suryani
Ibu Rumah Tangga


Akhir Februari lalu, Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom menyurati Kemenag untuk merevisi materi buku pelajaran agama Islam terbitan Kemendikbud. Materi yang dimaksud oleh PGI terdapat pada buku pelajaran agama Islam Kelas V11 SMP dan Kelas X1 SMA. Materi tersebut menyinggung pandangan terhadap Injil dan Taurat.
Permintaan tersebut, mengundang protes keras dari sejumlah tokoh muslim. Di antaranya mantan Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain menilai PGI telah keluar jalur. Sebabnya, PGI telah ikut campur dalam keyakinan umat Islam. Tanggapan keras juga datang dari Ustadz Nurbani Yusuf, pengurus MUI kota Batu dan pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar kota Batu. Beliau mengatakan tindakan PGI sudah bukan lagi toleransi, tetapi intimidasi teologis atas nama toleransi.
Walaupun menuai protes dari sejumlah tokoh Islam, Menteri Yaqut Cholil Qoumas segera merespon permintaan tersebut. Langsung memerintahkan ke stafnya agar mendalami dan memperbaiki materi pengajaran agama Islam. Sekaligus berkoordinasi dengan Kemendikbud.
Akidah Islam adalah akidah yang benar, itu yang harus diyakini oleh kaum muslim. Keyakinan itu harus dipegang teguh serta dibela. Ketika ada sedikit aja keraguan, serta meyakini sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, itu bisa membatalkan keimanan seseorang.
Seorang muslim wajib mengimani bahwa Allah itu satu, tidak memiliki sekutu. Dan wajib menolak bila ada yang mengatakan Allah mempunyai sekutu. Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih” (TQS Al-Maidah: 73).
Ayat di atas telah jelas bahwa siapa saja yang mengatakan Allah lebih dari satu, maka mereka termasuk orang kafir.
Sebelum Al-Qur’an itu diturunkan, terlebih dahulu Allah menurunkan kitab-kitab suci yang lain, di antaranya Taurat, Injil, dan Zabur. Itu harus diimani oleh kaum muslim. Tetapi hanya sebatas diimani tidak untuk diamalkan. Karena Al-Qur’an telah menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Maka dari itu Al-Qur’an menghapus kitab sebelumnya. Bahkan ketika Rasulullah saw. melihat Umar bin Khattab ra. membawa lembaran Taurat beliau bersabda:
“Apakah dalam hatimu ada keraguan wahai Ibnu Al Khattab? Apakah dalam Taurat terdapat ajaran yang masih putih bersih? (Ketahuilah) andai saudaraku Musa hidup, ia tetap harus mengikuti (ajaran)-ku.” (HR Ahmad dan ad-Darimi)
Sabda Nabi saw. tersebut menunjukan bahwa kaum muslim dilarang untuk mengikuti ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab selain Al-Qur’an Hadist ini pun menunjukan kitab-kitab tersebut tidak berlaku lagi sejak Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi saw.
Allah Swt. juga mengingatkan bahwa kitab tersebut telah banyak diubah oleh umat mereka sendiri. Khususnya para rahib mereka. Di dalamnya terdapat bagian-bagian yang ditambahkan atau dikurangi, sehingga telah hilang kesuciannya.
Sedangkan Injil, di kalangan teolog Kristen sendiri juga terdapat penelitian yang meragukan kemurnian Injil sebagai perkataan Yesus. Pada tahun 1993 terbit buku The Five Gospels berisi hasil penelitian 76 doktor teologi yang bergabung dalam tim yang bernama The Jesus Seminar. Mereka menyimpulkan bahwa 82 persen Injil tidak bersumber dari Yesus. (The Five Gospels, Wath Did Jesus Really say. hal. 5).
Berbeda dengan Al-Qur’an Allah Swt. telah menjaga dan memelihara kemurniannya. Sehingga tidak akan ada yang bisa merubah Al-Qur’an sedikitpun, itu merupakan jaminan Allah.
Jika permintaan PGI ini disetujui oleh Kemendag, kemudian merevisi buku pelajaran tersebut, maka umat bisa terjerumus ke dalam dua perkara. Pertama: pendangkalan akidah, karena bahasan Taurat dan Injil telah jelas dalam ajaran Islam. Karena itu akan membahayakan akidah umat, terutama bagi para pelajar. Kedua: makin mengokohkan sekularisme pendidikan. Sangat jelas jika pemerintah meloloskan permintaan PGI ini, pendidikan nasional diarahkan menuju sekularisme. Agama tidak boleh mengatur kehidupan publik. Serta negara tidak berkewajiban menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah dan kampus.
Hal ini semakin dikokohkan dengan diluncurkannya draft peta perjalanan pendidikan 2020-2035 oleh Kemendikbud. Namun karena banyak tokoh muslim yang protes akhirnya draft ini direvisi.
Namun sayang, bukannya melindungi dan membela akidahnya. Sebagian umat muslim malah mengikuti apa yang menjadi keinginan umat beragama lain. Walaupun bertentangan dengan ajaran agama dan keyakinannya, mereka rela meninggalkan kitab sucinya, nabinya, dan para ulamanya. Naudzu billahi min dzalik.
Maka dari sini, merupakan sebuah kewajiban bagi setiap individu muslim untuk menjaga dan memelihara akidahnya. Senantiasa melaksanakan semua aturan Allah Swt. di dalam semua aspek kehidupan, dan bersama-sama untuk memperjuangkan agar aturan Allah bisa diterapkan dengan sempurna (kaffah).

Wallahu a’lam bi ash shawab

Kaum Muslim Wajib Melindungi Kemurnian Akidahnya
Oleh Suryani
Ibu Rumah Tangga
Akhir Februari lalu, Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom menyurati Kemenag untuk merevisi materi buku pelajaran agama Islam terbitan Kemendikbud. Materi yang dimaksud oleh PGI terdapat pada buku pelajaran agama Islam Kelas V11 SMP dan Kelas X1 SMA. Materi tersebut menyinggung pandangan terhadap Injil dan Taurat.
Permintaan tersebut, mengundang protes keras dari sejumlah tokoh muslim. Di antaranya mantan Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain menilai PGI telah keluar jalur. Sebabnya, PGI telah ikut campur dalam keyakinan umat Islam. Tanggapan keras juga datang dari Ustadz Nurbani Yusuf, pengurus MUI kota Batu dan pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar kota Batu. Beliau mengatakan tindakan PGI sudah bukan lagi toleransi, tetapi intimidasi teologis atas nama toleransi.
Walaupun menuai protes dari sejumlah tokoh Islam, Menteri Yaqut Cholil Qoumas segera merespon permintaan tersebut. Langsung memerintahkan ke stafnya agar mendalami dan memperbaiki materi pengajaran agama Islam. Sekaligus berkoordinasi dengan Kemendikbud.
Akidah Islam adalah akidah yang benar, itu yang harus diyakini oleh kaum muslim. Keyakinan itu harus dipegang teguh serta dibela. Ketika ada sedikit aja keraguan, serta meyakini sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, itu bisa membatalkan keimanan seseorang.
Seorang muslim wajib mengimani bahwa Allah itu satu, tidak memiliki sekutu. Dan wajib menolak bila ada yang mengatakan Allah mempunyai sekutu. Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih” (TQS Al-Maidah: 73).
Ayat di atas telah jelas bahwa siapa saja yang mengatakan Allah lebih dari satu, maka mereka termasuk orang kafir.
Sebelum Al-Qur’an itu diturunkan, terlebih dahulu Allah menurunkan kitab-kitab suci yang lain, di antaranya Taurat, Injil, dan Zabur. Itu harus diimani oleh kaum muslim. Tetapi hanya sebatas diimani tidak untuk diamalkan. Karena Al-Qur’an telah menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Maka dari itu Al-Qur’an menghapus kitab sebelumnya. Bahkan ketika Rasulullah saw. melihat Umar bin Khattab ra. membawa lembaran Taurat beliau bersabda:
“Apakah dalam hatimu ada keraguan wahai Ibnu Al Khattab? Apakah dalam Taurat terdapat ajaran yang masih putih bersih? (Ketahuilah) andai saudaraku Musa hidup, ia tetap harus mengikuti (ajaran)-ku.” (HR Ahmad dan ad-Darimi)
Sabda Nabi saw. tersebut menunjukan bahwa kaum muslim dilarang untuk mengikuti ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab selain Al-Qur’an Hadist ini pun menunjukan kitab-kitab tersebut tidak berlaku lagi sejak Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi saw.
Allah Swt. juga mengingatkan bahwa kitab tersebut telah banyak diubah oleh umat mereka sendiri. Khususnya para rahib mereka. Di dalamnya terdapat bagian-bagian yang ditambahkan atau dikurangi, sehingga telah hilang kesuciannya.
Sedangkan Injil, di kalangan teolog Kristen sendiri juga terdapat penelitian yang meragukan kemurnian Injil sebagai perkataan Yesus. Pada tahun 1993 terbit buku The Five Gospels berisi hasil penelitian 76 doktor teologi yang bergabung dalam tim yang bernama The Jesus Seminar. Mereka menyimpulkan bahwa 82 persen Injil tidak bersumber dari Yesus. (The Five Gospels, Wath Did Jesus Really say. hal. 5).
Berbeda dengan Al-Qur’an Allah Swt. telah menjaga dan memelihara kemurniannya. Sehingga tidak akan ada yang bisa merubah Al-Qur’an sedikitpun, itu merupakan jaminan Allah.
Jika permintaan PGI ini disetujui oleh Kemendag, kemudian merevisi buku pelajaran tersebut, maka umat bisa terjerumus ke dalam dua perkara. Pertama: pendangkalan akidah, karena bahasan Taurat dan Injil telah jelas dalam ajaran Islam. Karena itu akan membahayakan akidah umat, terutama bagi para pelajar. Kedua: makin mengokohkan sekularisme pendidikan. Sangat jelas jika pemerintah meloloskan permintaan PGI ini, pendidikan nasional diarahkan menuju sekularisme. Agama tidak boleh mengatur kehidupan publik. Serta negara tidak berkewajiban menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah dan kampus.
Hal ini semakin dikokohkan dengan diluncurkannya draft peta perjalanan pendidikan 2020-2035 oleh Kemendikbud. Namun karena banyak tokoh muslim yang protes akhirnya draft ini direvisi.
Namun sayang, bukannya melindungi dan membela akidahnya. Sebagian umat muslim malah mengikuti apa yang menjadi keinginan umat beragama lain. Walaupun bertentangan dengan ajaran agama dan keyakinannya, mereka rela meninggalkan kitab sucinya, nabinya, dan para ulamanya. Naudzu billahi min dzalik.
Maka dari sini, merupakan sebuah kewajiban bagi setiap individu muslim untuk menjaga dan memelihara akidahnya. Senantiasa melaksanakan semua aturan Allah Swt. di dalam semua aspek kehidupan, dan bersama-sama untuk memperjuangkan agar aturan Allah bisa diterapkan dengan sempurna (kaffah).

Wallahu a’lam bi ash shawab

Wallahu a’lam bi ash shawab

About Post Author