06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Momentum Rajab, Saatnya Melakukan Perubahan Hakiki


Oleh Narti hs
Ibu Rumah Tangga

Bulan Rajab merupakan bulan ke tujuh dari kalender Hijriyah atau Qamariyah. Pada bulan ini pernah terjadi beberapa peristiwa besar. Satu diantaranya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebuah perjalanan agung yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dari masjid Al-Haram di Makkah, menuju masjid Al-Aqsha di Palestina. Kemudian naik ke langit ke 7 dan menghadap Allah Swt. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an yakni surat Al-Isra’ ayat 1.
Bagi kaum muslim, Isra’ dan Mi’raj merupakan sebuah kejadian yang luar biasa dan peristiwa agung tersebut menjadi salah satu pembuktian iman. Sebuah peristiwa yang luar biasa, sulit dijangkau oleh akal manusia. Namun ujian keimanan ini telah membuahkan hasil bagi orang-orang yang kuat keimanannya. Sehingga terlihat siapa saja yang benar-benar yakin, itulah yang kelak bersama Rasul saw. dan para sahabat untuk berjalan bersama-sama dan menjadi penopang bagi pendirian negara Islam. Terbukti tak membutuhkan waktu lama, beliau saw. berhasil mendirikan negara Islam di Madinah.
Sepeninggal beliau saw., kaum muslim melanjutkan warisan pemerintahan yang beliau tinggalkan, yang disebut Khilafah. Selama 1300 tahun lamanya kaum muslim hidup dalam sebuah tatanan kehidupan yang dicontohkan Rasul saw., yakni sebuah negara yang diatur di dalamnya seluruh hukum Allah. Namun negara Khilafah itu akhirnya mengalami keruntuhan pada 3 Maret tahun 1924 bertepatan dengan 28 Rajab 1342 H, di tangan Mustafa Kemal, seorang antek Inggris.
Kini, pada peringatan ke-100 tahun keruntuhannya, umat Islam di seluruh dunia masih mengalami penderitaan dan kenestapaan. Bagi kafir pembenci Islam dan kaumnya, mereka menganggap bahwa umat Islam itu seperti binatang buruan yang siap dimangsa. Benarlah ungkapan bahwa umat Islam bagai anak yatim dalam perjamuan para penjahat. Negeri-negeri muslim amatlah menderita.
Seperti di Irak, Uighur, Rohingya, Kashmir, Palestina, Afganistan, Afrika, dan Suriah. Seluruh negeri muslim seluruhnya amat mengalami kepedihan, kelaparan, penyiksaan, dan lain-lain akibat dari kebrutalan kuffar yang dibantu oleh para penguasa boneka Barat. Para penguasa negeri muslim, mereka tak peduli dengan nasib rakyatnya yang menderita.
Demikian pula nasib kaum muslim di negeri kita, pun mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Meskipun muslim mayoritas, akan tetapi dipaksa untuk mengakui atau membenarkan akidah selain Islam. Dengan dalih toleransi, mereka dengan sengaja mengaburkan berbagai permasalahan, antara haq dengan kebatilan.
Inilah karakter dari pemahaman sekuler kapitalisme yang masih dipegang erat oleh para penguasa dan sebagian kaum muslim. Kurangnya, bahkan hilangnya rasa empati terhadap saudara sesama muslim akibat dari keserakahan.
Lalu, bagaimana nasib dunia pada masa depan? Akan tetap mempertahankan kapitalisme yang berbuah sekulerisme, liberalisme, yang jelas melanggengkan kefasadan?
Sebagai umat yang terbaik yang telah Allah predikatkan, tentu kaum muslim memiliki kewajiban untuk menjadikan Islam sebagai mabda yang akan memimpin dunia. Menegakkan keadilan, melenyapkan kekufuran, sehingga akan terwujud rahmat bagi semesta alam.
Berjuang menegakkan Islam dan menegakkan Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum Allah, hukum asalnya adalah fardhu kifayah. Akan tetapi mengingat bahwa fardhu kifayah tersebut belum berhasil diwujudkan dengan upaya mereka yang memperjuangkannya, maka kewajiban ini diperluas hingga mencakup setiap muslim. Begitulah kedudukan dari setiap fardhu kifayah.
Dalil atas kewajiban memperjuangkan tegaknya kembali negara Khilafah Islam adalah dalil qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti). Sehingga, mengingkari kewajiban ini bisa menjadikannya kafir.
Sementara orang yang mengakuinya, namun abai dan lengah dalam memperjuangkannya, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalil dalam hal ini adalah nash-nash yang memerintahkan supaya terikat dengan syariah dan berhukum dengannya, serta melarang berhukum dengan selainnya. Seperti firman Allah Swt. yang artinya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan, dan sebagai siksaan dari Allah.” (TQS Al Maidah: 38)
Untuk melaksanakan hukum tersebut, tentunya membutuhkan sebuah negara Islam, sebagai pelaksanaan praktis di tengah masyarakat. Karena tidak akan terlaksana secara sempurna ketika tidak ada negara yang menerapkannya.
Maka, untuk menyempurnakan ketaatan yang menyeluruh, jelas dibutuhkan seorang imam/khalifah. Sehingga mewujudkannya adalah fardhu kifayah. Artinya ketika belum terealisasi, maka dosanya ditanggung oleh umat Islam seluruhnya.
Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah), kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardu ‘ain bagi orang tersebut. Sedangkan bagi umat Islam yang lain, tetap sebagai fardhu kifayah.
Apabila sudah terwujud seorang khalifah yang layak, berikut wilayah kekuasaan yang menerapkan Islam, dan jaminan keamanannya di tengah umat, maka gugurlah kewajiban tersebut dari umat Islam.
Inilah urgensinya sebuah sistem Islam (Khilafah) sebagai wadah kepemimpinannya, dan khalifah, sebagai orang yang akan melaksanakan hukum-hukum Islam.
Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk mencari jalan perubahan hakiki. Yakni upaya agar dapat merealisasikan keduanya, adanya khalifah sekaligus institusinya. Dengan memahamkan umat dengan ide perjuangan yang jelas. Konsep penerapan Islam yang berkaitan dengan al-hukm, ekonomi, pendidikan, sosial, pengadilan, dan lain-lain. Tentu dengan mengikuti tatacara dakwah Rasulullah saw. baik ketika di Makkah maupun di Madinah.
Dengan begitu, maka momentum Rajab tahun ini diharapkan menjadi Rajab terakhir tanpa aturan Islam kaffah. Yang dengannya umat akan melaksanakan ketaatan yang sempurna.
Wallahu a’lam bis-Shawwab.

About Post Author