26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Pangan yang Terancam Kepentingan

Oleh Sumiati
(Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif )

Dilansir oleh iNews.id (12/03/2021). Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Sugianto Sabran mendampingi Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gunung Mas. Kunjungan Menhan Prabowo Subianto kali ini untuk meninjau Lokasi pengembangan Food Estate komoditi singkong yang berada di Desa Tewaibaru, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas.

Prabowo Subianto mengatakan pembangunan Food Estate ini sudah menjadi keputusan dari Presiden RI. Maksud dan tujuannya untuk mengatasi semua kemungkinan yang akan dihadapi bangsa Indonesia terkait krisis pangan dunia sebagai akibat dari pandemi yang terjadi saat ini.

“Apapun kita tidak tergantung kepada negara lain,” ucapnya.

Saat berada di lokasi penanaman singkong, Prabowo Subianto juga mengutarakan kunjungannya kali ini sekaligus untuk menyerap aspirasi masyarakat setempat mengenai pengembangan food estate serta apa saja yang harus dipersiapkan agar pembangunan food estate di Kabupaten Gunung Mas berjalan dengan baik. Kebijakan ini sekaligus mendukung program cadangan pangan strategis nasional.
Direncanakan lahan untuk pengembangan komoditi singkong di Kalteng seluas kurang lebih 1 Juta Hektare (Ha), pengembangan komoditi singkong dimulai dari Kabupaten Gunung Mas.

Singkong telah ditetapkan sebagai prioritas proyek food estate (lumbung pangan), meski beberapa kritik terkait urgensitasnya. Pilihan tempat, pilihan komoditas dan tidak adanya keselarasan dengan kebijakan lain. Terkait pertanian dan impor. Sejak dulu, di Indonesia, lumbung pangannya adalah padi. Kebijakan yang ngawur tentu membuat bingung masyarakat. Kebijakan yang hanya memihak kepada salah satu yang berkepentingan, tentu akan berdampak negatif terhadap masyarakat, akibat ketidakjelasan ini. Lagi-lagi, bagi masyarakat kecil, kebijakan demi kebijakan hanya menambah beban rakyat, tanpa menghadirkan kedaulatan pangan sendiri.

Jika pangan pokok adalah padi, maka lumbung pangan semestinya diprioritaskan pada padi. Bukan segera beralih pada sesuatu yang belum pasti. Bila terkendala kurangnya lahan yang sesuai, karena penguasaan oleh swasta, maka harus ada kebijakan tegas menghentikan alih fungsi lahan agar lahan yang cocok bisa ditanami padi. Juga harus ada kebijakan menyokong pertanian dan menghentikan impor. Jangan sampai proyek berdana besar food estate ini rentan ditumpangi kepentingan segelintir investor tanpa bisa mencapai target kedaulatan pangan sendiri.

Bagaimana dalam pandangan Islam terkait pangan?

Setidaknya ada lima prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf as yang pernah dijalankan di masa yang panjang dari Kekhilafahan Islam, yang tetap relevan hingga masa-masa mendatang.

Pertama, optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok. Di sinilah peran berbagai aplikasi sains dan teknologi, mulai dari mencari lahan yang optimal untuk benih tanaman tertentu, teknik irigasi, pemupukan, penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen.

Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan. Konsumsi berlebihan justru berpotensi merusak kesehatan (wabah obesitas) dan juga meningkatan persoalan limbah. Nabi juga mengajarkan agar seorang mukmin baru “makan tatkala lapar, dan berhenti sebelum kekenyangan”.

Ketiga, manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, anti hama) sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang. Di sini teknologi pasca panen menjadi penting.

Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit seperti itu.
Wallaahu a’lam bishshawab.

About Post Author