25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Akidah Islam Wajib dijaga Kemurniannya

Oleh Bani Hawanda
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Pendeta Gomar Gultom, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) akhir Februari lalu menyurati Kemenag untuk merevisi hasil terbitan Kemendikbud. Berupa materi buku Pelajaran Agama Islam. Dimana yang dimaksud oleh PGI terdapat pada Pelajaran Agama Islam kelas VII SMP dan XI SMA yang menyinggung pandangan terhadap Injil dan Taurat.

Sejumlah tokoh muslim pun memprotes terhadap permintaan PGI pada Kemenag. PGI dipandang telah ikut campur dalam keyakinan umat Islam. Tengku Zulkarnain selaku mantan Wasekjen MUI, mengaku keberatan dan menilai PGI telah keluar jalur.

Pengurus MUI Kota Batu dan pengasuh Komunitas Padang Makhsyar Kota Batu Ustaz Nurbani Yusuf bahkan memberikan tanggapan yang keras. Ia menyatakan tindakan PGI sudah bukan lagi toleransi tetapi intimidasi teologis atas nama toleransi.

Namun Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas justru bersikap sebaliknya. Banyak pihak juga para tokoh Islam sangat menyayangkan responnya yang demikian bergerak cepat berkoordinasi dengan Kemendikbud. Dengan memerintahkan stafnya agar segera memperbaiki dan mendalami materi pengajaran agama Islam yang dimaksud.

Padahal sesungguhnya seorang muslim tidak boleh meragukan atau mengubah keyakinan sedikit pun. Sudah semestinya muslim wajib membela akidahnya, termasuk berpegang teguh pada ajaran Islam. Mengubah, meragukan atau meyakini prinsip agama Islam bisa membatalkan keimanan.

Islam menolak paham yang menyatakan bahwa Allah Swt. memiliki sekutu. Muslim wajib mengimani bahwa Allah Swt. Adalah satu, sebagaimana dalam prinsip tauhidullah. Allah Swt. berfirman:

“Sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga.” (TQS al-Maidah [5]: 73)

Seorang muslim wajib meyakini bahwa yang menolak atau mempersekutukan Allah Swt., mengakui Tuhan itu dilahirkan dan melahirkan adalah berakidah bathil. Pemahaman agama Islam bertentangan dengan keyakinan mereka dan Islam menyebut bahwa pemeluknya adalah kafir.

Seorang muslim di dalam kitab suci Al-Qur’an diwajibkan mempunyai keyakinan untuk mengikuti tuntunan akidah Islam. Allah Swt. telah menurunkan kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an, dan kaum muslim wajib mengimaninya.

Di dalam tafsir Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 48, Imam Ibnu Katsir mengumpulkan penjelasan tentang kata “muhaymin [an]”. Kata tersebut bermakna “penjaga, saksi dan hakim (pemberi keputusan) atas kitab-kitab sebelum Al-Qur’an.”

Sementara Ibnu Juraji menyatakan, “Apa saja isi dari kitab terdahulu yang sesuai dengan Al-Qur’an adalah benar, apa saja isi kitab terdahulu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an adalah bathil.”

Faktanya bahwa umat mereka sendirilah yang telah banyak mengubah-ubah isi kitabnya, khususnya para rahib mereka. Di dalamnya terdapat yang ditambahkan dan dikurangi sehingga telah hilang kesuciannya, dan Allah Swt. telah mengingatkan akan hal ini.

Adapun Injil sebagai perkataan Yesus, di kalangan teolog Kristen pun terdapat hasil penelitian yang meragukannya. Di dalam buku The Five Gospels berisi hasil penelitian 76 doktor teologi dan tergabung dalam tim The Jesus Seminar dan itu terjadi pada tahun 1993. Mereka menyimpulkan bahwa 82 persen Injil tidak bersumber dari Jesus (The Five Gospels).

Berbeda halnya dengan Al-Qur’an, dimana telah mendapatkan jaminan dari Allah Swt. akan terus terjaga kemurniannya hingga akhir zaman (lihat QS al-Hijr [15]: 9).

Maka ketika mereka berani mengoreksi ajaran agama Islam, hal itu sungguh keterlaluan. Adapun sikap Kemenag dan Kemendikbud dengan kapasitasnya sebagai pemerintah dalam hal ini patut disayangkan. Katanya membela akidah Islam, namun justru mereka menyetujui usulan revisi tersebut.

Jika kebijakan ini dilanjutkan, maka umat muslim akan terjerumus kepada penguburan akidah Islam yang sudah haq. Selain juga akan membahayakan bagi umat khususnya para pelajar muslim.

Paham plularisme yang ada di dalamnya akan menumbuhkan moderasi beragama atau berislam moderat. Padahal MUI sendiri telah memberikan keputusan pada tahun 2005 bahwa paham pluralisme telah diharamkan. Kita pun bisa dapati dalam firman Allah Swt. di antaranya:

“Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran [3]: 85)

Maka semakin tampak bahwa kini pendidikan nasional diarahkan menuju sekulerisme. Apabila pemerintah meloloskan PGI ini, apalagi di ruang publik tidak boleh dimunculkan juga diajarkan di sekolah, negara kian merasa tidak ada kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah dan kampus umum.

Terlebih ketika kita memerhatikan bahwa Kemendikbud baru saja meluncurkan draft Peta Pendidikan 2020-2035. Draft ini menuai protes dari tokoh-tokoh Islam karena tidak mencantumkan frase agama di dalamnya. Meski akhirnya draft ini buru-buru direvisi kembali. Lebih memprihatinkan lagi ketika kaum muslim justru diintervensi oleh umat beragama lain. Bukannya melindungi dan membela akidahnya sendiri, yang terjadi justru ada kaum muslim yang lebih manut pada umat lain seraya meniggalkan Al-Qur’an, Rabb-nya dan para ulamanya. Na’uzubillah min zalik.

About Post Author