04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

ADA APA DI BALIK KTT QUAD?


Dra. Hj. Ummu Salma


Presiden AS, Joe Biden telah melakukan gebrakan dengan mengadakan Konprensi Tingkat Tinggi QUAD. Konprensi ini pertama kalinya diselenggarakan sejak Biden terpilih menjadi presiden AS. KTT QUAD dihadiri oleh pemimpin 4 negara besar yang berada di wilayah Indo-Pasifik, yaitu Jepang, Australia, India, dan AS. Keempat negara ini sebagai negara penggagas. KTT QUAD diselenggarakan pada tanggal, 12 Maret 2021 yang berlangsung secara virtual.

Para pemimpin negara ini, Scott Morison (Australia), Narendra Modi (India), Yoshihide Suga (Jepang), dan Joe Biden (AS), telah bersepakat bahwa keempatnya akan menjadi Jangkar bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Hal ini dilakukan bersamaan dengan perjuangan melawan pandemi virus corona yang hingga kini belum menampakkan tanda-tanda akan berakhir.

Strategi mereka ingin mengokohkan kedudukannya di dunia Internasional. Mereka yakin akan mampu menjadi pesaing Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang semakin ekspansif. Fakta bahwa hubungan antara RRT dan AS akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Baik dalam hubungan politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Seringkali terjadi konflik persaingan di antara kedua negara ini. Masing-masing menunjukkan keinginannya menguasai dunia Internasional terutama dari sisi ekonomi.

Bagaimana sebenarnya konstelasi politik Internasional dilihat dari sisi kekuatan dan pengaruhnya di dunia Internasional? Mentri Luar Negri Prancis, Hober Fiderin, dalam bukunya Taruhan-taruhan Prancis di Era Globalisasi mengatakan, “Sesungguhnya keberadaan satu-satunya kekuatan ini (AS) yang mendominasi seluruh bidang ekonomi, teknologi, militer, moneter, bahasa, dan budaya merupakan kondisi yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah”. Lebih lanjut Fiderin mengungkapkan bahwa AS menduduki peringkat nomor satu di dunia tanpa pesaing dalam pengaruhnya di dunia Internasional. Setelah itu pada peringkat kedua, ada tujuh negara yang mempunyai pengaruh di dunia yaitu Prancis, Inggris, Jerman, Rusia, Cina, Jepang, dan India dengan catatan asalkan mereka mau menetapkan untuk memperluas visinya yang selama ini masih bersifat regional.

Pada Abad 21 AS sebagai negara raksasa tidak ada satu negara pun yang menyamainya. Peringkat berikutnya, adalah negara adidaya hakiki yaitu Rusia, Inggris, dan Prancis. Peringkat berikutnya Jerman. Keempat negara ini mempunyai visi internasional dalam berbagai bidang di dunia. Berikutnya adalah Cina (RRT). Cina merupakan negara adidaya dalam batas-batas wilayah regional. Cina memusatkan ambisinya untuk mempengaruhi wilayah regional sekelilingnya. Jepang, sebuah negara yang memiliki ambisi mempengaruhi berbagai kawasan dunia, tetapi hanya pengaruh dalam bidang ekonomi. Sedangkan India, Kanada, dan Italia tidak layak disebut negara adidaya. Meski demikian ketiga negara ini menduduki peringkat berikutnya dan masuk ke dalam sepuluh besar negara utama di dunia. Sementara, kedudukan Australia yang berada di kawasan Indo-Pasifik, kedudukannya sebagai negara satelit, serta termasuk negara persemakmuran yakni kekuatannya berada di bawah negara adidaya.

Target KTT QUAD


Mustahil satu kegiatan tanpa ada tujuan atau target yang ingin dicapai. Terlebih-lebih kegiatan besar ini diprakarsai oleh negara terkuat saat ini, yaitu AS. AS dengan mabda (ideologi) kapitalisnya tidak akan pernah berhenti untuk terus mencari, menemukan, dan pada akhirnya akan memanfaatkan negara tersebut untuk kepentingan AS dan sekutunya. KTT QUAD ini merupakan sebuah langkah strategis politiknya untuk menguasai kawasan Indo-Pasifik.


Keempat Negara QUAD berkomitmen akan mempromosikan tatanan yang berbasis aturan yang bebas dan terbuka, dan akan berhukum kepada hukum Internasional, demi menjaga keamanan dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus untuk melawan ancaman yang terjadi di Indo-Pasifik.


Latar belakang diadakannya KTT QUAD adalah terkait dengan keagresifan RRT, adanya klaim maritim yang katanya melanggar hukum, perilaku destabilitas RRT. Juga isu tentang RRT yang mengklaim Kepulauan Senkaku itu milik RRT, serta adanya peluang konflik yang akan muncul di wilayah Laut Cina Selatan dan Kepulauan Natuna.


Perlu kita pahami bahwa fikroh (pemikiran/konsep) Blok Kapitalis yang mendasari politiknya adalah penyebaran ideologi kapitalisme. Adapun thariqah (metode) yang dijalankan oleh Blok Kapitalis untuk mewujudkan fikroh-nya adalah dengan penjajahan (imperialisme), yakni pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi atas bangsa-bangsa yang dikuasainya. Dan yang pasti thariqah ini bersifat tetap, walaupun berganti rezim.


Apapun alasan yang muncul kepermukaan, kita sudah memahami karakter negara kapitalis yakni akan melakukan hegemoninya dengan melakukan penjajahan. Penjajahan dan penjarahan negara imperialis-kapitalis akan dilakukan terhadap negara-negara lemah yang tidak memiliki kedaulatan. Negara-negara Indo-Pasifik merupakan kawasan yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, jumlah penduduk yang banyak, serta kawasan strategis dari sisi politik, militer ataupun ekonomi. Seperti halnya Indonesia, selain memiliki kekayaan yang melimpah juga memiliki tiga laut kepulauan Indonesia (ALKI). Termasuk 39 selat di Indonesia dan 4 diantaranya merupakan choke point (titik sempit). Jadi tidak ayal lagi kalau wilayah Indo-Pasifik menjadi bidikan utama untuk dikuasai AS dan sekutunya.


Upaya Mengatasi Hegemoni di Kawasan Indo-Pasifik
Posisi Indonesia yang terletak di kawasan Indo-Pasifik sudah seharusnya mampu melakukan analisis konfigurasi politik di kawasan ini dengan sudut pandang umat Islam. Hal ini karena Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah umat Islam terbesar di kawasan ini. Umat Islam yang jumlahnya banyak, seharusnya mampu dimanfaatkan untuk membangun kekuatan global yang berdasarkan akidah Islam, bukan akidah sekuler yang diusung oleh Kapitalis. Sudah saatnya umat Islam mengubah paradigma berpikir untuk bisa berkontribusi positif untuk mengatasi penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang dilakukan oleh negara-negara kuat. Oleh karena itu, suatu keharusan bagi kita untuk berjuang agar kedaulatan Indonesia berpijak kepada akidah Islam.


Pertarungan ini tidak hanya sekedar perebutan wilayah dan kekayaan, akan tetapi ini sudah pertarungan sebuah mabda yang diemban oleh sebuah negara besar yakni AS. Lawan yang seimbang untuk mengatasinya adalah adanya kekuatan global yang juga mengusung sebuah mabda. Mabda sosial komunis telah gagal untuk mengungguli mabda kapitalis, bahkan keberadaannya sudah tidak ada, seiring dengan hancurnya Unisoviet. Mabda kapitalis telah nyata membawa kerusakan dan kesengsaraan umat di dunia. Saatnya kita mengambil mabda yang telah terbukti selama 1300 tahun (13 abad) menguasai 2/3 dunia, mampu memberikan kemakmuran, kemuliaan, dan keberkahan bagi umat manusia di dunia.


Mabda itu adalah mabda Islam. Kekuatan umat Islam harus terkonsolidasi baik dengan mabda Islam, sebagai dasar ikatan antara satu dengan yang lainnya, baik secara individu, masyarakat, maupun sistem politik dan pengaturan negara. Sistem Islam memiliki empat pilar politik Islam yaitu, (1) Kedaulatan ada ditangan syara’, yang menjamin penegakkan hukum Allah berdasarkan pada Al Quran dan Asunah dalam kancah kehidupan. (2) Kekuasaan milik umat, yakni umat memiliki hak untuk mengangkat khalifah sebagai pelaksana hukum syariat. (3) Kewajiban mengangkat pemimpin yaitu seorang khalifah (4) Adanya adopsi (tabanni) hukum untuk menjamin kesatuan kaum muslimin agar terhindar dari ancaman perpecahan. Alhamdulillah

wallahu’álam bi ash shawwab.

About Post Author