25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Hanya Islam yang Mampu Mewujudkan Keadilan


Oleh Suryani
Ibu Rumah Tangga

Keadilan adalah sebuah kata yang sulit didapatkan di negeri yang kita cintai ini. Berulang kali kita menyaksikan ketidakadilan dipertontonkan dalam sistem demokrasi sekuler ini. Keadilan menjadi semacam barang mewah, yang bisa merasakan hanya orang-orang punya jabatan tinggi dan punya kehidupan serba ada. Sedangkan rakyat kecil yang tak punya kemampuan, sulit sekali mendapatkannya.
Banyak kita dengar orang yang kelaparan, mereka terpaksa mencuri barang yang tak seberapa harganya, divonis dengan hukuman berbulan-bulan. Sebaliknya para konglomerat dan para pejabat, mereka bebas dari jeratan hukum, padahal mereka telah menyalahgunakan miliaran hingga triliunan uang negara.


Hari ini yang pro rezim tetap aman, tak tersentuh hukum. Padahal mereka berkali-kali melakukan kriminal: menghina Islam, menista ulama dan santri, dan sebagainya. Sebaliknya hanya kesalahan kecil, asal dari pihak yang sering kritis terhadap rezim, mereka dijerat dengan hukuman yang berat. Contohnya apa yang dialami oleh HRS, Gus Nur, Ali Baharsyah, dan lain-lain.
Itulah pengadilan dunia. Pengadilan yang semu. Bahkan palsu. Pengadilan hanya alat untuk menghukum orang-orang yang tidak sejalan dengan kepentingan penguasa. Rasa keadilan hanya mereka saja yang mendapatkannya. Di sisi lain para penegak hukumnya pun banyak yang bermental bobrok. Tidak memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Mudah dibeli. Gampang tergoda oleh harta, tahta, wanita.
Islam merupakan ajaran yang diturunkan Allah Swt. yang telah berhasil menciptakan keadilan untuk seluruh rakyatnya. Keberhasilan yang cemerlang ini, membentang sejak Rasulullah saw. tiba di Madinah tahun 622 M hingga tahun 1918 M (1336 H). Berakhir ketika Khilafah Ustmaniyah jatuh ke tangan kafir penjajah Ingris (An-Nabhani, Nizham al-Islam, hal 44).


Kunci utama keberhasilan tersebut, karena hukumnya adalah hukum terbaik yang diturunkan langsung dari sang pencipta manusia itu sendiri, Allah Swt. (syariah Islam). Itu berlaku dari masa ke masa. Allah Swt. berfirman yang artinya:
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah ayat 50).
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menerangkan, ayat ini bermakna bahwa tak ada seorang pun yang lebih adil daripada Allah Swt. Juga tidak ada satu hukum pun yang lebih baik daripada hukum-Nya. (az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, 6/224).
Di sini jelas, bahwa keadilan hanya bisa dirasakan ketika yang dipakai adalah hukum Islam. Sebaliknya, jika hukum buatan manusia yang diterapkan, keadilan tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.
Sebuah fakta historis yang membuktikan adanya keadilan di tengah masyarakat Islam. Sejarah mencatat di antaranya kisah sengketa baju besi Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dengan seorang Yahudi non muslim. Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, bahwa baju besi Khalifah Ali ra. hilang pada perang Jamal. Beliau mendapati baju besi tersebut berada di tangan seorang laki-laki Yahudi. Khalifah Ali ra. dan orang Yahudi lantas mengajukan perkara ini kepada hakim Syuraih. Ali ra. mengajukan saksi seorang bekas budaknya dan Hasan anaknya. Hakim Syuraih berkata, “kesaksian bekas budakmu saya terima, tetapi kesaksian Hasan saya tolak”. Ali ra. berkata, “apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda penghuni syurga?.” Hakim Syuraih tetap menolak kesaksian Hasan, dan memenangkan si Yahudi. Syuraih kemudian berkata kepada orang Yahudi tersebut, “Ambilah baju besi itu” namun Yahudi itu berkata “Amirul Mukminin bersengketa denganku. Lalu dia datang kepada hakim kaum muslim. Kemudian hakim memenangkan aku, dan Amirul Mukminin menerima keputusan itu. Demi Allah andalah yang benar Amirul Mukminin. Ini memang baju besi anda, yang waktu dulu jatuh dari kuda lalu aku ambil. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Ali ra. berkata, “karena anda sudah masuk Islam kuberikan baju besi itu untukmu.” (Al-Kandahlawi, Hayah ash-Shahabah 1/146).
Inilah contoh prinsip syariah Islam yang dipegang teguh oleh hakim Syuraih dalam mengadili perkara tersebut. Walaupun yang bersengketa kepala negara dengan rakyat biasa yang non muslim. Karena di dalam hukum syariah memang tidak dibenarkan kesaksian seorang anak untuk bapaknya. Sehingga hakim Syuraih memenangkan si Yahudi tersebut. Yang pada akhirnya karena keadilan tersebut membuat Yahudi ini masuk Islam.


Akhirnya kita bisa menyimpulkan, keadaan umat muslim sekarang terutama setelah Khilafah Islam di Turki dihancurkan pada 3 Maret 1924, umat muslim berada di titik yang paling lemah. Jangankan keadilan, beragam kezaliman pun selalu dialami oleh seluruh kaum muslim di dunia ini. Hal itu karena syariah Islam tidak diterapkan, hukum Islam dicampakkan, dan yang di gunakan adalah hukum kufur buatan manusia. Lantas, sampai kapan hal ini terus terjadi? Sampai umat Islam kembali menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam bi ash-Shawwab.

About Post Author