29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Permasalahan Sampah yang Klasik, Kini Kembali Mengusik


Oleh Narti Hs
Ibu Rumah Tangga


“Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih.” (HR. Baihaqi)
Dalam Hadis tersebut dimaknai bahwa kebersihan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia. Karena ketika seorang muslim yang tidak menjaga kebersihan baik tempat tinggal maupun lingkungannya, berarti sama halnya telah mengabaikan salah satu perintah Allah Swt. yang selalu menghendaki kebersihan.


Namun apa yang kita saksikan di lingkungan sekitar tempat tinggal kita adalah sebuah keprihatinan tentunya. Di tengah masyarakat yang mayoritas muslim dan modern seringkali tumpukan sampah menimbulkan bau tak sedap, tercecer tidak karuan, seperti yang terjadi di wilayah Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Ada sebuah lokasi yang bernama lapangan Cendol. Dulunya dipergunakan sebagai aktivitas olah raga warga sekitar, namun kini berubah fungsi sebagai pembuangan sampah sementara (TPS), bahkan menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Setiap hari semakin menumpuk di pinggir lapangan dan pinggir jalan wilayah RW 05 juga RW 10 Desa Cinunuk. Sampah yang pada umumnya berasal dari domestik rumah tangga dibuang begitu saja oleh warga. (PortalBandungTimur, 19/03/21)
Fakta kurang pedulinya sebagian masyarakat terhadap sampah tidak bisa dinafikan. Masih ada yang membuang sampah sembarangan hingga luber ke jalanan. Hal ini butuh peran pemerintah untuk mengedukasi mereka agar tumbuh kesadarannya.


Satu sisi masyarakat sebenarnya bukan tidak butuh tempat olah raga, akan tetapi jika merekapun sulit kemana harus membuang sampah, akhirnya tempat yang ada terpaksa dipakai untuk membuang sampah.
Permasalahan seputar pengangkutan, penyediaan lokasi pembuangan baik TPS ataupun TPA, sampai pengolahan sampah memakai teknologi selalu berlarut-larut tak terpecahkan. Ada yang meninggal karena tertimpa reruntuhan sampah yang sudah menggunung, menimbulkan bau tak sedap sehingga mengganggu kesehatan, juga tertahannya sampah karena kendala TPA yang tidak disetujui masyarakat sekitar.
Kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua. Individu masyarakat memiliki kesadaran, masyarakat saling mengingatkan sementara negara berkewajiban menyediakan sarana prasarana sampai dana.


Penerapan kapitalisme sekular telah melahirkan individualisme yang tidak peduli kepada sesama, yang penting bisa membuang sampah dari rumahnya. Tidak terpikirkan apakah menggangu orang lain atau tidak, apakah membuangnya secara wajar atau tidak.


Kapitalisme pun telah menjadikan negara tidak memiliki dana yang cukup untuk menyelesaikan berbagai permasalahan sampah. Di kota-kota yang padat penduduknya, membuang sampah harus bayar. Penyediaan TPS ataupun TPA minim. Pengelolaan sampah dengan teknologi kurang maksimal. Semuanya bertumpu kepada keseriusan negara dan ketersediaan biaya.
Kita tidak bisa berharap seluruh permasalahan selesai, sebab penguasa dalam kapitalisme hanya sebatas regulator bukan pengayom. Utang menggunung, sumberdaya alam dikuasai asing, menjadi faktor minimnya pemasukan bagi negara.
Sedangkan dalam sistem Islam atau khilafah, penguasa diposisikan ibarat penggembala. Punya tugas menyadarkan masyarakat terkait kebersihan lingkungan, apalagi sebagai seorang muslim. Manfaat kebersihan selain untuk kesehatannya juga untuk akhiratnya, jika dilakukan semata-mata karena Allah.


Masyarakat Islam memiliki corak membiasakan amar makruf nahyi munkar. Saling mengingatkan andaikan ada yang membuang sampah sembarangan. Jika masih ada yang melanggar, negara akan menerapkan sanksi, bukan hanya sekedar himbauan, biar tidak diikuti oleh yang lainnya.


Negarapun bertanggung jawab menyediakan berbagai sarana prasarana dari mulai pengangkutan, tempat pembuangan, serta teknologi pengolahan sampah, s
emata-mata karena tanggung jawabnya. Tidak boleh membebankan kepada masyarakat dengan memungut biaya. Penyediaan tempat pembuangan sampah akan ditentukan di wilayah yang tidak dekat dengan pemukiman, agar tidak mengganggu keindahan dan kebersihan lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Negara sangat berkemampuan membiayai semuanya, karena pengelolaan sumberdaya alamnya dikelola sesuai syariah. Negarapun akan mengerahkan para ahli terkait pengelolaan sampah dengan teknologi.
Pada sejarah kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 Masehi telah dilakukan dengan tepat. Pada masa Bani Umayyah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah. Para ahli di masa itu seperti Qusta Ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar, dan al-Masih telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, kemudian diselesaikan oleh negara (Lutfi Sari Hidayat, 2011)


Demikianlah cara Islam menangani masalah sampah dengan sedemikian serius sehingga permasalahan sampah yang klasik dapat tersolusikan dengan tepat. Tentu hanya kembali kepada aturan Islam yang kaaffah (menyeluruh).
Wallahu a’lam bish- Shawwab.

About Post Author