26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Mampukah Larangan Mudik Menuntaskan Pandemi?

Oleh Darni Salamah
Aktivis Muslimah Sukabumi

Di Indonesia mudik merupakan salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh para pekerja. Hampir di berbagai ibu kota saat memasuki libur panjang seperti lebaran Idul Fitri, lebaran Idul Adha, liburan akhir tahun dan libur-libur panjang lainnya identik dengan yang mudik. Mudik juga menjadi salah satu momen yang paling ditunggu mereka untuk berkumpul bersama keluarga untuk silaturahmi. Namun baru-baru ini pemerintah memberikan kebijakan baru menyoal larangan mudik lebaran di tahun 2021. Aturan tersebut dibuat tidak lain untuk mengurngi lonjakan kasus Covid 19 di Indonesia.

Dikutip dari laman Setkab (30/03/2021), menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Kementerian Perhubungan mendukung pelarangan mudik yang didasari oleh pertimbangan untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 dan hasil keputusan rapat koordinasi tingkat menteri. Hal ini tentu menjadi sebuah kebijakan pemerintah yang begitu rancu dan plinplan karena akan berdampak besar pada perekonomian dan sosial rakyat. Dari sektor perekonomian, dampaknya bagi pelaku usaha dan pekerja sektor transportasi umum darat khususnya, terancam kehilangan mata pencaharian dan berimbas pada jumlah pengangguran yang semakin meninggi. Selain itu goyahnya kelangsungan usaha transportasi darat Tanah Air. Sebab tradisi mudik menjadi ladang emas bagi pertumbuhan konsumsi masyarakat. Pun dengan sektor ritel sudah tentu imbasnya akan ikut terpukul.

Persoalan krusial bukan hanya terletak pada terjadinya pandemi di Indonesia, namun terletak pada kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menyikapi kondisi darurat. Hingga detik ini, meski pelarangan mudik dilakukan oleh pemerintah, faktanya lonjakan kasus positif covid 19 kian meninggi hingga di angka 1.511.712. Dalam hal ini, tentu lagi-lagi rakyat menjadi korban kebijakan yang tak pasti dari pemerintah. Rakyat membutuhkan keseriusan pemerintah dalam menuntaskan pandemi dengan tidak menjadikan rakyat sebagai objek penderitaan.

Jika ditelisik banyak hal yang menjadi penyumbang tersebarnya virus ini. Namun nyatanya hingga kini kran pembuka virus tersebut masih saja terbuka. Di satu sisi dilarang di satu sisi dibuka. Pemerintah melarang mudik tahun lalu tetapi pulang kampung diperbolehkan. Padahal keduanya menyumbang tersebarnya virus Covid -19. Sebuah kebijakan yang sering membingungkan masyarakat.

Pandemi memang musibah yang saat ini tengah menyelimuti negeri. Namun dalam sistem yang tidak berlandaskan syariat, akan berimbas pada kesengsaraan rakyat mengingat kebijakan-kebijakan yang diterapkan tidak terfokus seutuhnya serta menjadi bukan menjadi solusi untuk setiap sektor kehidupan. Penguasa dalam sistem kapitalis ketika memberikan solusi hanya basa basi, sementara pijakan dalam bernegaranya adalah untung dan rugi bukan karena rasa tanggung jawab kepada rakyat.

Berbeda dengan sistem Islam yang menjadi sistem yang begitu sempurna yang sudah tentu mampu mengatasi problematika kehidupan yang saat ini dibutuhkan oleh rakyat. Pemimpin dalam sistem Islam memberi solusi dengan rasa tanggung jawab disertai keimanan yang kuat.
Maka sangat tidak heran jika warga daulah khilafah sejahtera baik masa pandemi maupun di luar pandemi.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author