19/05/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Lonjakan Kemiskinan Akibat Naiknya Harga-Harga Jangan Dianggap Biasa


Neni Maryani
(Pendidik)

Dalam sebulan belakangan ini terutama menjelang bulan Ramadhan, pukulan ekonomi bertubi-tubi dirasakan oleh rakyat karena kenaikan berbagai komoditi kebutuhan hidup. BBM naik berkali-kali, harga minyak goreng terus merangkak, bahkan harga daging sapi dan ayam pun sudah naik jauh sebelum puasa dan tak kunjung turun hingga hari ini.
Kenaikan harga di segala lini menjadi sebuah tradisi yang tak mampu dibendung. Ibarat banjir bandang yang diklise sebagai bagian dari bencana. Apalagi menjelang Ramadan dan Hari Raya, bahkan setelah Hari Raya pun harga-harga kebutuhan pokok cenderung tetap naik. Padahal tentang harga, seharusnya Pemerintah memiliki peran penting untuk menyiasati dampak buruknya, yaitu kemiskinan yang kian meningkat.
Lonjakan kemiskinan mengintai dari balik kenaikan harga. Di saat berbagai harga barang naik massal, tak ayal inflasi pun berpotensi melonjak. Inflasi yang tinggi terjadi karena kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar internasional. Kenaikan harga komoditas semakin tinggi sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022. (cnnindonesia.com, 20/04/2022).
Hal ini diperaparah karena lonjakan harga pangan terjadi ketika masih banyak masyarakat yang belum keluar dari kemiskinan akibat kemerosotan ekonomi selama pandemi. Pada September 2021, tingkat kemiskinan nasional tercatat sebesar 9,71%, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan kata lain, jumlah penduduk miskin bertambah 1,72 juta orang dibandingkan periode yang sama pada 2019.
Derita ini seharusnya bukan derita kaget-kagetan. Yang setiap ditanya sebabnya, selalu dijawab dengan nada-nada kaget seakan tidak tahu apa-apa. Di sisi lain rakyat seolah dibiarkan untuk hidup mandiri. Negara lebih banyak berlepas tangan ketimbang menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Di bidang kesehatan, misalnya, rakyat diwajibkan membayar iuran BPJS setiap bulan. Dengan berbagai ancaman sanksi yang diterapkan untuk rakyat yang tidak mau membayar. Artinya, warga sendiri yang menjamin biaya kesehatan mereka, bukan negara.
Saat ini kemiskinan yang menimpa umat lebih merupakan kemiskinan struktural/sistemik, yakni kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan oleh negara/penguasa. Itulah sistem kapitalisme-liberalisme-sekularisme. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan milik rakyat dikuasai dan dinikmati hanya untuk segelintir orang saja.
Anehnya, Pemerintah berulang menyatakan sikap optimis. Katanya, ekonomi Indonesia makin membaik. Pemerintah mengklaim angka kemiskinan justru menurun. Tetapi semuanya tidak sesuai dengan realita yang ada. Data-data yang disampaikan seolah tong kosong yang nyaring bunyinya untuk mengalihkan perhatian publik. Padahal kemiskinan ini jelas akibat ugal-ugalan harga pasaran, yang pemerintah lepas tangan dengan menerapkan bermacam aturan yang tumpang tindih tanpa membawa solusi bagi rakyat.
Dalam Islam, kemiskinan tidak dinilai dari besar pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari pemenuhan kebutuhan pokok secara perorangan. Kebutuhan pokok itu mencakup sandang, pangan, perumahan, kesehatan dan pendidikan secara layak.
Bahkan dalam Islam, orang baru dikatakan kaya atau sejahtera jika memiliki kelebihan harta di atas 50 dirham. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang meminta-minta, sementara ia kaya, kecuali pada Hari Kiamat nanti ia akan memiliki cacat di wajahnya.” Ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apa yang menjadikan ia termasuk orang kaya?” Beliau menjawab, “Harta sebesar 50 dirham” (HR an-Nasa’I dan Ahmad).
Islam Solusi Hakiki
Islam, bukan sekedar agama ritual, tetapi juga sebagai perangkat yang mampu memberi solusi pada segala aspek kehidupan. Terutama dalam masalah ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, yaitu ;
Pertama: Secara individual, Allah Swt memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya seperti yang Allah perintahkan dalam QS al-Baqarah [2]: 233 “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut”. 
Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).
Ketiga: Allah Swt memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda: “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Di Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman beliau ada ahlus-shuffah. Mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.
Saat menjadi Khalifah, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab biasa memberikan insentif untuk setiap bayi yang lahir demi menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga membangun “rumah tepung” (dar ad-daqiq) bagi para musafir yang kehabisan bekal.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang.
Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit-rumah sakit lengkap dan canggih pada masanya yang melayani rakyat dengan cuma-cuma.
Hal di atas hanyalah sekelumit peran yang dimainkan penguasa sesuai dengan tuntunan syariah Islam untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Kemampuan Islam menyelesaikan kemiskinan dan stabilnya sistem yang membuat warga negaranya justru “sulit” miskin, hingga pada level tidak ada satu pun yang pantas dikategorikan miskin karena saking sejahteranya. Sinkron pula dengan para pejabatnya, yaitu orang-orang yang amanah dan berdedikasi tinggi kepada pemimpin. Mereka 1 tujuan dengan pemimpin dalam menyejahterakan rakyatnya.
Karena itu saatnya kita mencampakkan sistem yang sudah rusak ini. Sudah saatnya kita kembali pada syariah Islam yang berasal dari Allah Swt. Hanya syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia. Syariah akan menjadi rahmat bagi mereka. Allah Swt berfirman : ”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiya’ [21]: 107).
Lebih dari itu, penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan adalah wujud ketakwaan yang hakiki kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam bish showab