20/05/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Akibat Islamofobia, Kerusakan Fatal Merasuki Kaum Intelektual

Oleh A. Maleeka
(Pelajar/Homeschooler)

Makin hari, kian menjadi, sudah ada banyak hal yang memperlihatkan dengan jelas bahwa keangkuhan atas tingginya intelektual seseorang membuatnya menganggap bahwa manusia yang cerdas adalah para penolak ketaatan terhadap agama. Hal ini dibuktikan dengan adanya ungkapan rasis yang dilontarkan oleh seorang profesor atau bisa disebut juga sebagai guru besar.

Menurut sumber fajar.co.id (1/5/2022) – Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Budi Santosa Purwokartiko menyebutkan bahwa cita-cita, usaha, kontribusi terhadap masyarakat dan bangsa adalah perihal masalah bumi, sedangkan pilihan kata seperti insyaallah, barakallah, serta qadarullah adalah masalah langit alias kehidupan setelah mati. Ia juga menggunakan istilah manusia gurun sebagai kata pengganti bagi seseorang yang memakai penutup kepala (memakai kerudung).

Dikutip dari situs resmi ITK, itk.ac.id, (1/5/2022) – Prof Budi Santosa adalah putra daerah Klaten, Jawa Tengah. Dia lahir di Klaten, 12 Mei 1969. Dia merupakan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1992, kemudian meraih gelar master dan doktor dari University of Oklahoma, Amerika Serikat.

Pernyataan dari guru besar tersebut memperlihatkan bahwa cara pandang yang ia gunakan adalah mengikuti pola pemikiran ala Barat. Fakta bahwa ia adalah seorang lulusan universitas Amerika Serikat (AS) sangat memberikan kejelasan tentang pemahamannya, di mana AS adalah sebuah negara pengusung kapitalisme dunia. Bahkan, negara tersebut berhasil mengekspor paham pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) ke seluruh pelosok bumi, termasuk Negeri Ibu Pertiwi.

Seseorang yang memiliki paham sekuler, akan merasa cukup saat memiliki pangkat akademis yang tinggi, lalu tak perlu terikat dengan aturan agama lagi. Itulah mengapa tidak heran jika ada beberapa kaum intelektual di negeri ini menganggap Islam hanya agama langit dan tidak relevan dengan kehidupan bumi.

Ketidaksukaan dan berpandangan sinis terhadap Islam adalah bentuk kemungkinan sudah terjangkit virus islamofobia. Isu negatif tentang Islam sangat ramai digaungkan oleh orang-orang yang memusuhinya. Tujuannya adalah untuk menjauhkan kaum muslim dari Islam, serta membuat nonmuslim benci terhadap ajaran agama ini.

Pandangan tersebut lahir dari sistem demokrasi yang mengagungkan empat kebebasan, salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Pemahaman bebas berpendapat memperbolehkan manusia mana pun menyampaikan sesuatu tanpa memperhatikan aturan rambu-rambu. Semua ini adalah bentuk kesombongan manusia. Tak merasa perlu berpikir dari mana ia berasal, untuk apa, dan mau ke mana.

Allah Swt berfirman, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37).

Berbeda dengan sistem Islam yang berdiri selama kurang lebih 13 abad memimpin dunia. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta Alam Semesta ini mampu melahirkan para intelektual berkualitas sekaligus saleh. Ketinggian peradaban Islam dengan kemajuan ilmu, membuahkan prestasi yang tak tertandingi. Bahkan, Islamlah yang meletakkan dasar peradaban dunia yang sekarang berkembang, karena pada saat itulah lahir para ilmuwan muslim beserta karyanya.

Contohnya: Ibnu Sina (Avicenna), ia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter, atau dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern. Lalu Al-Khawarizmi dikenal sebagai ahli ilmu matematika, atau Mariam Al-Ijliya Al-Astrolabi seorang perempuan yang ahli dalam bidang astronomi, dan masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya.

Generasi gemilang Islam bisa kian mengilap tentunya setelah “diproduksi” oleh sistem Islam yang sempurna. Sebab, Islam bukan hanya agama ritual saja, tetapi juga agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia.

Wallahu a’lam bishshawab