20/05/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Islamofobia Menjangkiti Kaum Intelektual, Bukti Umat Keliru tentang Islam

Oleh Ranti Nuarita, S.Sos.
(Aktivis Muslimah)

Fenomena islamofobia semakin nyata di Indonesia, baru-baru ini muncul kontroversi tentang seorang intelektual bergelar profesor yang menjabat sebagai guru besar di universitas ternama di Indonesia mengeluarkan pernyataan yang mengarah pada rasisme dan mendiskreditkan Islam.

Dikutip dari Fajar.co.id (1/5/2022) Founder Of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi turut prihatin dengan tulisan yang dibuat Rektor ITK Balikpapan. Prof. Budi Santosa Purwokartiko. Ismail menilai tulisan tersebut bisa masuk kategori rasis dan xenophobic.

Pernyataan rasisme terhadap Islam yang dilakukan oleh Prof. Budi Santosa baru-baru ini menjadi bukti bahwa banyak dari umat hari ini yang masih memiliki cara pandang yang keliru tentang Islam dan syariat Allah. Gelar akademis yang tinggi ternyata tidak lantas menjadi tolok ukur taraf berpikir seseorang. Sangat miris dan disayangkan seseorang yang bergelar profesor bahkan pejabat tinggi di sebuah universitas justru mengeluarkan pernyataan rasis yang menggiring umat pada islamofobia. Pernyataan yang dibuat pun tentunya tidak terlepas dari adanya kebebasan berpendapat yang lahir dari sistem demokrasi, di mana siapa pun bebas menyampaikan sesuatu tanpa perlu memperhatikan benar atau salah.

Di sisi lain perlu kita ketahui bahwa islamofobia adalah produk pemikiran sekularisme (pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan). Sistem yang hari ini mendominasi dunia, akhirnya sukses membuat seorang intektual yang seyogianya menjadi panutan umat, justru malah terpapar islamofobia.

Mendunianya sistem sekuler yang berasal dari Barat di dunia hari ini akhirnya menyebabkan mayoritas manusia berkiblat pada Barat dalam segala aspek kehidupan. Bukan tanpa alasan islamofobia hari ini seakan-akan menjadi wabah yang semakin nyata bahkan di negeri mayoritas Islam yaitu Indonesia. Wabah ini memang sengaja diciptakan Barat dan musuh-musuh Islam sebagai tameng dan senjata untuk membendung kebangkitan Islam.

Munculnya kembali islamofobia di Indonesia bahkan menjangkiti kaum intelektual menjadi salah satu sinyalemen urgensi pentingnya umat Islam mengambil langkah nyata untuk menghapuskan islamofobia. Kaum muslim harus mengambil langkah strategis untuk menghapus stigma islamofobia dari dunia. Satu-satunya langkah strategis yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah sistem yang ada dari sistem sekuler menjadi sistem Islam yang berasal dari Allah Al-Mudabbir (Sang Maha Pengatur). Karena jika kaum muslim membiarkan sistem sekuler terus menyebar di muka bumi, maka bukan tidak mungkin akan sangat berpotensi meracuni umat sehingga akhirnya akan semakin banyak manusia terjangkiti penyakit islamofobia.

Hanya sistem Islam yang diterapkan dalam institusi negara yang bisa menghapuskan islamofobia hingga ke akarnya. Penerapan sistem Islam secara paripurna akan membuat manusia senantiasa mengaitkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, meyakini bahwa segala sesuatu yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak. Tidak hanya menghapuskan islamofobia, tetapi dalam negara yang menerapkan sistem Islam hanya akan melahirkan para intelektual juga ulama yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga semakin bertambahnya ilmu semakin bertambah pula ketakwaan mereka kepada Allah.

Selain itu dengan sistem Islam pendidikan warga negara akan terjamin. Negara yang menerapkan sistem Islam secara sempurna dalam setiap aspek kehidupan akan serius dalam mengurusi warganya, termasuk pendidikan. Negara akan menyediakan fasilitas pendidikan seperti sekolah, perpustakaan, pusat penelitian, dan sarana pendidikan lainnya secara gratis bagi seluruh masyarakat, yang bisa mendukung lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian Islam yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat.

Sudah saatnya kaum muslim bangkit menghapus segala bentuk liberalisasi, sekulerisasi dari segala aspek kehidupan dan kembali pada sistem Islam agar bisa melahirkan generasi-generasi terbaik. Sejarah membuktikan dengan penerapan sistem Islam secara totalitas (kafah) selama 13 abad Islam berhasil memimpin dunia, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa kepada Allah.

Di antaranya seperti, Al Jazari sebagai pakar robotika, Hasan Ar Rahmah penemu roket dan torpedo, Al Khawarizmy penemu aljabar, Fatimah Al Fihri pendiri universitas pertama di dunia, Al Amiry pakar mekanika dan fluida dan masih banyak pakar lainnya, yang akhirnya berhasil menjadikan negeri kaum muslim sebagai mercusuar peradaban dunia.

Wallahu a’lam bishshawab.