25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Kapitalisme Suburkan Penghinaan Islam Dan Kemaksiatan


Oleh : Ummu Najla
(Komunitas Ibu Peduli Generasi & Penggiat Literasi)

Lagi-lagi kaum Muslimin dibuat kebakaran jenggot dan kembali meradang. Pasalnya cafe bernama Holywing yang dibackingi pengacara tajir Hotman Paris dan artis kontroversi Nikita Mirzani, disinyalir melakukan penghinaan Islam karena mencatut nama “Muhammad” dan Maria dalam promo miras.

Tak ayal kasus tersebut berakhir di meja hijau. Sukses menciduk enam stafnya menjadi tersangka. Dan 12 outlet di Jakarta ditutup oleh Pemda Jakarta. Juga membuat Hotman selaku pemegang saham dan pengacara Holywings, harus bertandang ke MUI untuk minta maaf karena telah menyakiti hati umat Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan dalih untuk mencari simpati dan menyelamatkan keberlangsungan 3000 karyawannya.

Tak hanya itu, tepat pada senin, 1 Juli 2022, 4 penggugat bernama Mufty Arya Dwitama, Andreas Saut Simanjuntak, Teofilus Mian Parluhutan dan Pangeran M Negara S, resmi mengajukan gugatan sebesar Rp 36,5 Triliun kepada Holywings yang dinaungi oleh perusahaan PT Aneka Bintang Gading. Dengan nomer perkara 375/Pdt. G/2022/PN. Dikutip dari SIPP PN Jakarta Pusat, Senin (4/7/2022).

Antara Penghinaan Dan Kemaksiatan

Miris, penghinaan Islam terus berulang, kali ini berkedok promosi. Tak henti-hentinya para pendengki Islam terus berulah dan berbuat sesuka hatinya. Ironisnya, penutupan café Holywings yang marak dilakukan dibeberapa wilayah mulai dari Jakarta, Surabaya, Bandung, semarang, Bogor, Tangerang dan Yogyakarta, bukan berdasarkan penghinaan agama, tapi karena pelanggaran administrasi. Misalkan, di Jakarta penutupan 12 café tersebut karena tidak memiliki izin usaha lengkap. Juga belum memiliki sertifikat standar KBLI 56301 jenis usaha bar. Begitu juga di daerah lainnya. Bahkan mereka diizinkan untuk membuka café yang serupa dengan nama yang berbeda jika sudah memiliki izin lengkap.

Ironisnya, lagi café yang sejatinya akan membuka 100 cabang di Indonesia ini, memperkerjakan sekitar 3000 karyawan yang notabene mereka Muslim. Padahal unit usahanya tak hanya sekedar restoran tapi juga bar dan club. Tentunya banyak aktifitas kemaksiatan di dalamnya. Mulai dari konser musik dari para artis, klub dansa yang semuanya pasti bercampur baur (ikhtilat). Bahkan peredaran miras yang menjadi minuman lazim dikonsumsi.

Jelas, ini sangat dimurkai di dalam Islam, karena khamr jelas diharamkan Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 43, QS. Al-Maidah ayat 90. Bahkan kenudharatannya lebih besar dibandingkan manfaatnya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 219 yang artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”

Selain itu, tak hanya peminum dan produsen saja yang berdosa bahkan para bar tender dan pramusaji pun terkena dosanya. Rasulullah SAW bersabda:
“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Ahmad).

Inilah imbas dari kebebasan berpendapat dan berekspresi yang diemban Kapitalisme. Menurut mereka syah saja berbuat apapun tanpa reserve. Karena bagi penganut azas kebebasan ini, hal tersebut adalah bagian dari Hak Asasi Manusia yang patut dihargai. Walaupun notabene menghina agama lain atau aktifitas kemaksiatan yang melanggar syariat. Bahkan tak segan-segan mereka menggunakan payung hukum untuk melegalkannya. Di Negeri ini, bahkan kebebasan berekspresi, berpendapat dan beragama dijamin dalam UUD 1945 pasal 28.

Apalagi sistem ini mengeleminasi peran Tuhan dalam kehidupan. Dengan paham sekulerismenya, sukses menjadikan peran agama hanya dalam rana kehidupan pribadi. Sementara dalam rana sosial, mereka bebas berekspresi membuat hukum sendiri yang bermanfaat bagi pribadi ataupun golongan. Membuang jauh-jauh ajaran agama, lebih-lebih syariat Islam yang mereka anggap menghambat perkembangan dan kemajuan dengan segala aturannya yang dianggap mengekang.

Tak heran jika, penghinaan dan pelecehan terhadap Islam akan terus berulang. Pasalnya, Islam menjadi common enemy bagi Barat peletak dasar Kapitalisme yang dikuti Negara-negara pembebek lainnya. Begitupula kemaksiatan akan terus merajalela karena dilindungi kebebasannya. Beginilah carut marutnya sistem buatan manusia yang akan selalu mengedepankan hawa nafsu durjana. Bahkan tak segan-segan menentang syariatNya. Maka, sudah saatnya kita kembali dalam naungan sistem yang akan menjaga kesucian dan kesejahteraan umat, yaitu dalam bingkai sistem Islam kaffah solusi fundamental segala permasalahan. Serta penyelamat di dunia dan akherat.

Waallahu’alam bishowab.

About Post Author