29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Berebut Kekuasaan di Tengah Rakyat yang Terabaikan

Oleh Susi Trisnawati
(Ibu rumah tangga)

Pemilihan presiden 2024 masih cukup lama, namun pertarungan untuk memenangkan pilpres 2024 sudah nampak jelas. Politisi sudah mulai sibuk, sejumlah parpol melakukan konsolidasi sejak dini. Misalnya koalisi Indonesia bersatu (KIB) didalamnya ada partai GOLKAR, PAN, PPP, dimunculkan pula nama nama calon presiden. Ada Puan dan Ganjar dari PDIP, Airlangga Hartanto dari Golkar, Prabowo (Gerindra), AHY (Demokrat), Cak min (PKB), ada Anies Baswedan dari non politik, Erok tohir, Jokowi (PDIP) menjadi presiden tiga kali periode, menko Luhut memuluskan hasrat Jokowi 3 periode.

Disisi lain pemerintah yang sedang berkuasa tak perduli terhadap rakyat. Kenaikan harga yang saling susul menyusul mulai dari kebutuhan pokok masyarakat, BBM, terutama pertamax dan pertalite, tarif dasar listrik, gas hingga PPN naik menjadi 11%, akibatnya biaya produksi naik, dan yang menanggung harga mahal adalah masyarakat sebagai konsumen akhir. Harapan serba mudah memenuhi kebutuhan hidup seperti memandang langit biru yang jauh dari jangkauan.

Fenomena ini seakan tampak biasa ditengah masyarakat, pasrah dengan keadaan satu nusantara yang seakan tercekik dengan kesulitan hidup, meski katanya negara yang kita pijak kaya akan SDA serta perkebunan sawitnya yang luas sejauh mata memandang harus menerima kenyataan pahit sulitnya mendapatkan minyak goreng dengan harga merakyat. Kehadiran penguasa di sistem demokrasi itu sangat memihak dan hanya menguntungkan pribadi elit dan golongan yang berkuasa, rakyat kecil menjadi korban, para penguasa yang telah dipilih rakyat hanya peduli saat pencalonan saja, setelah terpilih mereka abai, Dana bansos seringkali tak tepat sasaran semakin rupiah susah dalam genggaman. Keadaan hidup yang sulit semakin dipersulit dengan berbagai kebijakan-kebijakan tak bijak yang diterapkan.
Buruknya pengurusan pemerintah dalam sistem demokrasi kapitalis menjadikan kesenjangan dan ketimpangan yang teramat tajam. Lalu, masihkah kita percaya pada para calon penguasa yang berada dibawah sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme? Dimana kekuasaan benar-benar menjadi target dan tujuan utama mereka, segala macam cara ditempuh tanpa peduli nasib masyarakat terlebih melihat dari sudut pandang halal dan haram. Perannya pun bergeser dari pelayan masyarakat menjadi pembisnis, yang untung rugi menjadi timbangannya, kebutuhan masyarakat jadi nomer kesekian, terlihat jelas pencalonan para pengusung partai ini menciderai hati rakyat yang dikungkung kebijakan kebijakan dzalim. Roda pemerintahan dibangun dengan prinsip sekuler yang menjauhkan nilai agama dari kehidupan dan sekaligus negara. Menciptakan pribadi penguasa yang tidak memiliki solusi pasti dan tidak mempunyai sense of crisis disaat masyarakat mengalami himpitan dan deraan kesulitan.

Tata aturan sistem seperti ini hendaklah dikaji ulang dan kembali kepada sebuah tata aturan yang lahir dari sang pencipta, yang maha mengetahui dengan segala kesempurnaannya. Islam agama paripurna dan mendunia adalah sebuah sejarah yang tidak bisa dihapus dari peradaban emasnya, menjangkau jengkal demi jengkal tanah dengan limpahan kesejahteraan dari masa Nabi Muhammad SAW hingga kepemimpinan islam terakhir di turki Utsmani. Melahirkan para pemimpin yang tumbuh diatas akidah yang mulia, menunjukan wibawa dan amanah dalam mengurusi masyarakat, sebagaimana kita mengenal luar biasanya kepemimpinan khulafaurRashidin yang mewujudkan sebuah negara yang benar-benar menerapkan peraturan illahi rabbi secara totalitas, menghadirkan pribadi pemimpin yang dapat dipercaya perkataan dan memenuhi tiap dari janji-janjinya. Penuh kehati-hatian dalam menjalankan setiap urusan terlebih pemeliharaan urusan rakyat.

Wallahu ‘alam bisshawab

About Post Author