29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Tak masuk akal, Genjot UMKM Ubah Nasib Perempuan

Oleh Rati Suharjo
Pegiat Literasi (AMK)

“Wanita ditakdirkan untuk melahirkan
Wanita adalah ibu manusia
Janganlah bersikap seperti ayah
Lelaki adalah pemimpin wanita
Dalam tata kehidupan dunia
Begitulah ketetapan Sang Pencipta
Lalu kenapa kau coba merubah.”

Penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Rhoma Irama tersebut menjelaskan keadaan perempuan sebagaimana fitrahnya. Namun, kenyataannya justru kapitalisme menggiring perempuan untuk keluar dari fitrah tersebut. Yakni, bekerja untuk membantu beban suami.

Sebagaimana yang disampaikan Menteri Sosial Tri Rismaharini di Pendopo Kabupaten Malang. Risma panggilan sapaan telah melakukan acara sosialisasi Penguatan Perekonomian Masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mendorong kaum ibu yang berjumlah 1500 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Tujuannya dilakukan untuk mendorong kemandirian finansial dan meningkatkan kesejahteraan. Maka, dengan jurus menggenjot UMKM akan mengubah nasib mereka.

Harapannya dengan melakukan kegiatan Program pahlawan ekonomi supaya menjadi percontohan nasional, hingga UMKM berkembang secara nasional. Untuk itu, di tahun ini para pahlawan ekonomi akan memulai menjadi mentor. Mereka akan berkeliling mengenalkan strategi menjaga bisnis UMKM secara nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur. (kompas. com, 26/06/2022)

Jelas, kegiatan inipun didukung oleh pemerintah. Mengingat UMKM adalah pilar penting untuk menggerakkan perekonomian di negeri ini. Apalagi, jumlah UMKM di negeri ini ada 64.19 juta di mana komposisi Usaha Mikro dan Kecil sangat dominan yakni 64,13 juta atau sekitar 99,92% dari keseluruhan sektor usaha.

Solusi inilah untuk menghadapi kegagalan kapitalisme di negeri ini. Dengan atas nama mengatasi kemiskinan, baik laki-laki maupun perempuan digiring untuk menghasilkan materi. Padahal jika dilihat dari fitrah seorang perempuan harus dijunjung tinggi dan dihormati.

Namun, dalam menghadapi gagalnya  kapitalisme dalam menyejahterakan rakyat. Perempuan harus ikut menanggung biaya kehidupan dalam rumah tangga. Hak nafkah tidak lagi diprioritaskan, akan tetapi ikut bersama suami menanggung biaya keluarga. Apalagi pasca pandemi perekonomian terasa sulit. Banyak laki-laki yang nganggur akibat korban gulung tikarnya suatu perusahan. Dan banyak gaji mereka yang tidak mencukupi akibat banyaknya yang ditanggung. Seperti BPJS, pendidikan, dan pajak.

Di lain sisi seorang perempuan fitrahnya adalah mengatur rumah tangga. Jika saja perempuan sibuk di luar rumah untuk mencari nafkah, bagaimana nasib generasi mendatang? Tentunya, banyak generasi yang kurang terdidik. Saat ini saja, banyak anak yang lebih memilih game online dari pada pelajaran sekolah. Akhirnya jadi generasi yang malas. Parahnya lagi, banyak generasi yang terjun ke pergaulan bebas.

Tentunya hal ini ancaman yang nyata bagi negara. Untuk menjadi negara maju tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh pendidikan baik dari keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini tidak akan terjadi jika negeri ini menerapkan kapitalisme. Bukti pemerintah menggenjot perempuan untuk giat mengembangkan UMKM justru akan memunculkan permasalahan baru.

Oleh karena itu terapkan hukum Islam yang telah terbukti nyata menerapkan sistem ekonomi Islam. Dalam sistem Islam untuk menyejahterakan rakyat, pemerintah wajib mengelola sumber daya alam. Hasil dari pengolahan tersebut dikembalikan pada rakyat untuk memenuhi kebutuhannya. Seperti kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan yang lain.

Namun, sayangnya sampai saat ini pemerintah enggan menerapkan sistem Islam sebagai solusi. Padahal, dalam sistem negara tidak akan memberikan peluang individu dalam menguasai aset-aset negara. Dengan menerapkan sistem ekonomi Islam dengan benar, maka angka pengangguran pun dapat diminimalisir. Sehingga akan mengembalikan laki-laki sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. yakni menjadi qowam dan memberi nafkah pada keluarganya. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran ayat 34:

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.”

Ayat inilah yang membedakan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam Islam. Sehingga jika ayat tersebut dilakukan dengan benar, baik individu maupun negara akan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Jika saja seorang suami telah meninggal, maka kewajiban memberi nafkah jatuh pada hak perwalian.

Dengan demikian, seorang perempuan yang bekerja hukumnya mubah. Adapun hasil dari seorang perempuan tersebut hasilnya buat perempuan itu sendiri. Maka jelas hanya dalam sistem Islamlah kehidupan perempuan akan lebih mulia. Menjalankan sesuai kodratnya.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author