30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pariwisata Dalam


Oleh Ummu Muthya
Ibu Rumah Tangga


Bupati Bandung, Dadang Supriatna mendapatkan penghargaan kategori program kreatif pariwisata, pada ajang Merdeka Award 2022 di Smesco Nareswara. Penghargaan ini terkait kesuksesan pemberdayaan warga lokal dalam pembangunan pariwisata. Ada 16 Desa wisata yang dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis), pembangunan infrastruktur digital yang menunjang sektor pariwisata pun turut mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Menurut Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ada tiga inovasi yang mendapat perhatian yakni Aplikasi Bandung Edun yang merupakan sarana promosi destinasi, event maupun layanan free promotion untuk para pelaku pariwisata di Kabupaten Bandung dan aplikasi Bedas Smart Tourism, yang merupakan layanan booking/ reservasi hotel.
Bupati juga membuka terobosan dalam mengoptimalkan potensi Sumber Daya Alam. Dengan membuka dua destinasi bertaraf internasional yaitu Nimo Highland di Pangalengan dan Jembatan Rengganis di Rancabali yang merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 370 meter. (Timesindonesia, 23/6/2022)
Untuk membangkitkan ekonomi, pemerintah lebih mengutamakan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan daerah. Karena di setiap daerah banyak memiliki destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan, dan itu bisa meningkatkan perkonomian masyarakat. Hanya saja mengembangkan potensi setiap daerah lebih banyak dilakukan oleh para pemilik modal.
Dalam sistem kapitalisme saat ini, memang hal yang lazim jika landasan setiap perbuatan dan kebijakan senantiasa berorientasi pada materi, bukan pada spiritual atau mengamalkan syariah. Syariat disematkan hanya untuk memenuhi permintaan pasar yang akhirnya muncul slogan “pariwisata halal” untuk menarik wisatawan muslim. Dan kategori halal di sini hanya terkait makanan dan ketersediaan tempat ibadah. Sungguh ekonomi kapitalisme yang dianut di negeri ini telah menjadikan pariwisata sebagai tumpuan devisa negara. Dengan berbagai cara demi meraih keuntungan yang banyak, semua diperbolehkan, yang mengandung syirik pun sah-sah saja. Dengan menghidupkan kembali tradisi nenek moyang diperkenalkan oleh masyarakat dan mengenalkannya kepada generasi muda.
Alih-alih menyelesaikan masalah ekonomi rakyat, adanya arena wisata ini justru menggerus pebisnis lokal. Para pebisnis dengan modal besar dapat melibatkan para pebisnis yang bermodal tipis, mereka terlepas dari persaingan. Mereka harus puas dengan hanya menjadi penjual asongan dan pegawai yang gajinya tak seberapa. Tuan tanah pun harus rela menyerahkan tanahnya dengan harga yang tak pantas.
Dengan demikian, pengelolaan pariwisata dalam sistem kapitalis, negara berperan sebagai regulator dan fasilitator, lebih mementingkan kepentingan para pengusaha daripada rakyat. Bila kita bandingkan dengan sistem Islam maka akan jauh berbeda.
Dalam Islam, pariwisata dikelola sebagai sarana dakwah dan propaganda Islam, bukan sumber pendapatan negara. Dakwah dan propaganda ini tujuannya untuk membangun dan mengokohkan keislaman umat muslim, menemukan cinta sejatinya kepada Allah Swt., merasa takjub akan keindahan alam ciptaanNya serta bisa menjadi wasilah untuk taqarrub kepada-Nya.
Pengelolaan pariwisata dalam sistem Islam bukanlah ajang bisnis, sehingga semua dikelola dengan hadarah Islam, mengacu pada filsafat/pandangan Islam.
Selain itu objek wisata juga bisa digunakan untuk mengokohkan keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah Swt., Islam serta peradabannya. Lewat objek wisata orang bisa menelusuri jejak dan peninggalan bersejarah. Bagi siapapun yang melihatnya akan takjub dan yakin dengan keyakinan yang kuat. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Karena negara memiliki sumber tetap dalam perekonomiannya, yang terdiri dari empat sumber yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Selain itu negara memiliki sumber dana lainnya yaitu harta fai, kharaj, jizyah, ghanimah, zakat dan dharibah.
Negara dalam sistem Islam sangat memperhatikan lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya. Karena Islam melarang segala bentuk yang merusak kelestarian lingkungan makhluk hidup dan alam. Perlindungan Islam terhadap hewan ditunjukkan dengan adanya larangan membunuh hewan tanpa tujuan dan alasan yang jelas. Ajaran kasih sayang dalam sistem Islam sangat jelas dan sempurna, Islam mengajarkan kasih sayang bukan hanya pada manusia tapi juga terhadap hewan pun sama.
Ajaran kasih sayang dalam Islam, sangat sempurna dan menakjubkan, Islam mengajarkan kasih sayang bukan hanya pada manusia tapi juga terhadap hewan. Allah Swt. telah memerintahkan kepada manusia agar selalu menjaga lingkungan, seperti yang telah dijelaskaska, Allah Swt, berfirman
“Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-A’raf [52]: 56)
Begitupun tempat wisata untuk hiburan jika tidak mengandung unsur syiar dakwah dan hanya berputar pada kesenangan yang tak berfaedah, negara tidak akan mempertahankannya. Ekonomi negara akan berputar sesuai dengan ketentuan syariat. Sungguh fungsi pariwisata dalam sistem Islam akan kembali optimal jika sistem kapitalismenya dicampakkan. Sebab, jangankan berdakwah di tempat pariwisata, berdakwah di mesjid saja sudah diawasi dan ditentukan materinya. Oleh karena itu mari kita wujudkan negara yang mampu memfungsikan pariwisata sebagai syiar Islam, bukan syiar liberal.
Wallahu a’lam bish shawab.

About Post Author