30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Ketika Haji Bukan Sekadar Ritual Ibadah

Oleh Yuli Ummu Raihan
Penggiat Literasi

Menjadi tamu Allah adalah impian setiap kaum muslimin. Bahkan untuk seseorang yang telah menunaikan rukun Islam kelima ini, keinginan untuk bisa kembali selalu ada. Jutaan manusia berkumpul dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. dan mengharapkan rida-Nya.

Tidak peduli dari mana, suku, bahasa, dan warna kulit apa, semua berkumpul dengan satu tujuan yaitu beribadah. Tidak ada lagi perbedaan kasta dan status sosial, semua sama berstatus hamba Allah Swt.

Persatuan yang terlihat di momen haji setiap tahunnya membuktikan bahwa betapa dahsyat potensi kekuatan umat Islam. Apabila persatuan ini diikat dengan perasaan dan pemikiran yang sama tentu Umat Islam akan menjadi kekuatan yang agung. Umat Islam akan disegani oleh umat atau bangsa lain di seluruh dunia.

Indahnya momen persatuan dalam pelaksanaan haji ini dicederai oleh adanya perbedaan pelaksanaan hari raya Iduladha di beberapa negara termasuk Indonesia. Perbedaan ini akan terus ada selama umat Islam masih disekat oleh nasionalismenya. Momen haji tahun ini pun menorehkan catatan buruk karena penyelenggaraannya yang dinilai kurang maksimal. Antrian yang semakin tidak masuk akal, wabah PMK yang menyerang hewan kurban, dan penambahan kuota haji yang ditolak oleh Kementerian Agama Indonesia. Penyelenggaraan ibadah haji yang diselimuti oleh sistem kapitalis membuat penyelenggaraan haji lebih mementingkan untung rugi dari pada periayahan kepada tamu Allah. Pelaksanaan haji malah menjadi bisnis yang menggiurkan.

Hal ini tentu tidak akan kita temui di dalam sistem Islam. Dalam Islam, penguasa benar-benar hadir sebagai pengayom dan pelayan rakyat terutama untuk para tamu Allah. Negara akan memudahkan para jemaah haji agar bisa beribadah dengan nyaman, khusyuk dan aman. Negara akan membangun berbagai sarana dan prasarana penunjang dari mulai pemberangkatan, selama di tanah suci hingga pulang kembali ke wilayah masing-masing.

Negara akan melakukan pendataan dan membuat prosedur haji sedemikian rupa agar tidak terjadi antrian panjang karena kewajiban haji hanya satu kali untuk setiap orang seumur hidup. Jadi yang berangkat haji adalah orang yang sudah mampu menurut hukum syara’. Anggaran pelaksanaan haji juga tidak akan dibisniskan seperti hari ini.

Pelaksanaan haji dalam sistem Islam memiliki makna yang sangat luas tidak hanya ritual ibadah. Hari ini, pelaksanaan ibadah haji mengalami reduksi makna dan substansi sehingga tidak memberikan dampak berarti setelah pelaksanaannya.

Besarnya minat umat Islam untuk melaksanakan haji di masa dulu menjadi sebuah ketakutan bagi pemerintahan Hindia-Belanda karena mampu memberikan pengaruh yang luar biasa. Mereka mendapatkan arti perjuangan yang membangkitkan semangat untuk melakukan kebangkitan dan ketidakrelaan atas segala bentuk penjajahan. Tatkala mereka kembali ke tanah air, mereka memelopori perjuangan melawan penjajah. Mereka juga kembali menjadi sosok pembangkit umat, ulama terkemuka.

Hari ini, sistem Sekularisme yang mencengkeram negeri-negeri Islam membuat makna haji itu hanya sebatas ibadah.

Berkumpulnya jemaah haji dari berbagai penjuru negeri hanya jadi momentum berkumpulnya banyak orang. Tidak ada persatuan perasaan, apalagi pemikiran untuk kebangkitan Islam. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan fokus beribadah.

Ibadah haji seharusnya bisa bisa jadi momentum kebangkitan karena mengandung aspek politis. Nabi Muhammad saw. ketika melaksanakan haji Wada’ memanfaatkan momen tersebut untuk berkhotbah di hadapan kaum muslim memberikan nasihat, pengarahan dan wasiat. Diantara pesan yang beliau sampaikan adalah tentang perlindungan terhadap darah dan harta kaum muslimin, keikhlasan dalam beramal, amar ma’ruf nahi mungkar terutama kepada penguasa, bergabung dalam jemaah, dan ukhuwah islamiyah serta kewajiban agar senantiasa mengikuti sunah kenabian dan para khulafaur rasyidin dalam pemerintahan. Pesan paling penting dari beliau adalah agar umat Islam menjadikan Al-Quran dan sunah sebagai dasar sistem kehidupan.

Hal ini yang tidak kita temui lagi dalam pelaksanaan haji setiap tahunnya. Ritual tahunan ini tidak memberikan dampak positif untuk kebangkitan Islam. Semua ini terjadi karena tidak ada institusi negara yaitu kekhilafahan. Hal ini membuat kesadaran di dalam diri umat Islam tentang syiar haji sebagai syiar persatuan dan kesatuan umat di seluruh dunia juga ikut hilang. Kita tentu sangat merindukan pelaksanaan haji bukan sekadar ritual ibadah, tapi juga bernuansa ideologis. Kita merindukan persatuan umat tidak hanya ketika momen haji, tapi setelah mereka kembali ke negeri masing-masing. Kita rindu ada seorang pemimpin yang memberikan pesan-pesan Islami yang membangkitkan umat dan memberikan solusi untuk semua problematika kehidupan. Semua itu hanya bisa kita dapatkan dalam sistem Islam yaitu daulah khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bishawwab.

About Post Author