30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

“Anak Terlindungi dan Indonesia Maju”

Oleh A. Maleeka
(Pelajar/Homeschooler)

Kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga adalah anugerah yang mampu membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Anak adalah titipan yang harus dijaga.

Oleh karena itulah, anak menjadi harapan masa depan bangsa, dan terletak keberlangsungan suatu peradaban di tangan mereka. Maka, negara perlu menjamin hak-hak sang penerus bangsa.

Mengutip bobo.grid.id (17/6/2022) – Tahun ini, tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” kembali digunakan untuk perayaan Hari Anak Nasional. Sebelumnya, tema tersebut sudah pernah dipakai pada perayaan HAN tahun 2020 lalu.

Dukungan dan perlindungan secara simbolik senantiasa diberikan. Mulai dari ucapan-ucapan, atau artikel yang berisi dukungan. Akan tetapi, meski beberapa perayaan HAN telah berlalu, kondisi anak di negeri ini masih mengkhawatirkan.

Anak-anak di negeri ini, amat jauh dari kata “terlindungi”. Begitu mudah ditemukan kasus menyedihkan yang menimpa anak. Entah menyoal kemiskinan hingga kelaparan, atau pergaulan hingga perundungan, dan bahkan menjadi korban kekerasan seksual.

Kebijakan negara dengan menaikkan harga kebutuhan pokok, berimbas pada tidak stabilnya ekonomi keluarga. Sehingga menjadikan anak turut menanggung beban, anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan layak, tak sulit untuk menemukan mereka yang berakhir putus sekolah dan mencari uang di jalanan sana.

Pun dengan perundungan yang marak terjadi, teman-teman yang seharusnya baik hati menemani, berubah bentuk menjadi energi negatif yang pandai mengintimidasi. Betulkah Indonesia memiliki “anak terlindungi”? Buktinya, anak-anak masih terbiasa menyaksikan kekerasan sebagai bentuk dari solusi.

Bahkan, kekerasan seksual yang terjadi pada anak, negara tak memberikan hukuman tegas yang benar-benar dapat membuat efek jera bagi para pelaku, serta menjadi pencegah orang lain dari melakukan pelanggaran serupa.

Apakah perayaan Hari Anak Nasional adalah bentuk perlindungan yang nyata? Mengapa terlihat hanya seperti seremonial belaka? Fakta yang ada memperlihatkan bahwa yang layak bertanggung jawab dalam kesengsaraan yang dialami anak justru adalah negara.

Sesungguhnya, Islam memiliki aturan yang menyelamatkan. Dalam Islam, anak-anak berhak mendapatkan berlimpah kasih sayang. Keluarga memiliki peran besar untuk memberikan mereka kehangatan, mendampingi tumbuh kembang, lalu mengenalkan dasar keimanan.

Masyarakat luar memiliki peran mendukung perkembangan anak dengan menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Islam mengajarkan tentang hak pada sesama: Saling memberi bantuan, tak boleh mengusik dan mengejek.

Adanya keluarga yang hangat dan masyarakat yang sehat, diperlukan negara yang mengayomi rakyat dengan memenuhi kebutuhan mereka secara utuh dan menyeluruh, serta memastikan keselamatan jiwa dari setiap individu, pun dengan memberikan sanksi yang tegas terhadap pelaku kekerasan.

Sehingga, ikatan antara keluarga, masyarakat, dan negara bisa terjalin dan memberikan perlindungan nyata bagi anak. Islam dapat menjalankan gerak hakiki mewujudkan “anak terlindungi”.

Wallahualam bissawab

About Post Author