26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Penerapan Aplikasi Akibat Subsidi Dibatasi oleh Ruri Retianty


Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

 Rencana penerapan aplikasi seperti MyPertamina untuk membeli BBM jenis pertalite, juga PeduliLindungi untuk membeli migor curah menuai penolakan, karena dinilai menyulitkan masyarakat. Awalnya, kebijakan tersebut dibuat agar pemberian subsidi tepat sasaran, selain supaya kuota yang disediakan bisa mencukupi.

 Sebagian wilayah di Kabupaten Bandung, masyarakat sudah mulai diminta menyertakan aplikasi apabila hendak membeli pertalite dan migor curah. Pengawas SPBU Jalan Raya Cinunuk Kabupaten Bandung, Pam-pam menyampaikan bahwa penerapan aplikasi tersebut walau belum dimulai tetapi sudah tersosialisasi. Adapun teknis penerapannya menunggu hasil rapat yang akan dilaksanakan tanggal 30 Juli 2022. (Kompas.com  28/07/2022). 

  Selama dua pekan masa transisi, masyarakat dipersilahkan memakai NIK (Nomor Induk Kependudukan) untuk membeli migor curah dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp. 14.000 per liter atau Rp. 15.000 per kg. Namun, pembelian per NIK dibatasi hanya 10 kilogram per hari. Jumlah tersebut dianggap pemerintah cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan pengusaha kecil.

Jika masa transisi habis, maka masyarakat harus siap dengan penggunaan aplikasi. Tidak sedikit masyarakat yang sudah membayangkan rumitnya mendapatkan pertalite ataupun migor curah melalui aplikasi. Alasan di antaranya; tidak semua orang  memiliki HP, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Kalaupun ada hp belum tentu punya kuota. Jika penggunaan aplikasi biar tepat sasaran, justru akan menuai masalah baru. Yang ada malah dibatasi dan dipersulit. Pada akhirnya secara terpaksa, kalau kebutuhan sudah mendesak membeli pertamax karena lebih mudah didapatkan.

Indonesia merupakan negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, seharusnya masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan hidupnya terutama pertalite dan migor dengan mudah. Kenyataannya tidak, karena rakyat harus membelinya dengan harga yang terus merangkak naik sementara kemampuan yang dimiliki  terbatas, ditambah lagi dengan teknis pembelian yang rumit.

Akibat pengelolaan SDA berkiblat pada kapitalisme sekular, melimpah tapi jauh dari berkah. Melimpah tapi masyarakat dipersulit untuk mendapatkannya. Pengelolaan SDA dalam kapitalisme diserahkan kepada pengusaha. Orientasi pengusaha tentunya adalah keuntungan. Jika masyarakat hendak mendapatkan harga murah harus disertai subsidi. Subsidi yang disediakan pemerintah sifatnya terbatas. Utang yang menggunung meniscayakan kemampuan negara minim.

 Selain itu subsidi dianggap sebagai bentuk intervensi pemerintah yang bisa mengancam mekanisme pasar. Oleh karena itu BBM murah yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat semakin dibatasi melalui proses administratif yang rumit.

BBM dan migor merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Dalam Islam negara tidak akan membiarkan kedua komoditas tersebut sulit didapat. Sebagai pelayan umat, Islam mewajibkan seorang penguasa mengurusi seluruh kebutuhan rakyatnya. Bukan hanya tersedia, juga mudah diakses.

 Islam sebagai ajaran sempurna yang berasal dari Allah Swt. Tuhan Semesta Alam, telah menetapkan aturan tata kelola sumber daya alam yang menjadi hajat hidup orang banyak. Minyak dan gas dalam pandangan Islam merupakan harta milik umum yang berhak dinikmati oleh seluruh umat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, rumput, dan api”. (HR Abu Daud dan Ahmad)

 Yang dimaksud api, diantaranya adalah BBM dan migor. Negara akan menempuh kebijakan dalam memenuhi konsumsi dalam negeri, yaitu: Pertama, mendistribusikan BBM dan migor kepada rakyat secara gratis, atau dengan harga yang semurah-murahnya. Kedua, keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya.
 Oleh karena itu selama pengelolaannya mengikuti sistem ekonomi kapitalistik, maka kebijakan yang diberlakukan tidak akan berpihak kepada rakyat. Mewujudkan swasembada energi akan sulit dicapai. Padahal hasil pengelolaan energi akan membawa kemakmuran bagi rakyatnya serta menjadi kekuatan bagi negara.
 Hanya sistem Islam lah yang mampu mewujudkannya.

Wallahu ‘alam Bishshawab.

About Post Author