06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Derita Guru Honorer di Sistem Sekuler

Oleh Sriyanti
Ibu Rumah Tangga Pegiat Literasi

Karut-marut sistem pendidikan nasional terlihat jelas, setiap sisinya diwarnai dengan berbagai masalah. Termasuk ketidakadilan yang dialami para guru dan pekerja yang tidak berstatus PNS atau honorer.

Ashari Jamaludin misalnya, ia adalah seorang tenaga operator di SMP swasta STMC di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang mengaku sudah 8 bulan tak mendapatkan gaji, padahal ia sudah bekerja sesuai dengan tugas dan kewajibannya.

Tak hanya Ashari, beberapa guru pun bernasib sama, mereka sudah mencoba mempertanyakan haknya pada pihak sekolah, namun kepala sekolah mengatakan bahwa sekolah tidak mempunyai dana untuk membayarnya. Ashari dan beberapa rekannya hanya bisa menelan kecewa dan berharap agar Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung bisa membantunya dan memperhatikan nasib mereka kedepannya. (Klikjabar.id, Rabu, 13/07/2022)

Permasalahan di atas merupakan salah satu dari ratusan bahkan ribuan kasus yang terekspos, bagai mengurai benang kusut permasalahan ini tak pernah selesai, padahal tidak turunnya gaji bagi para pekerja merupakan sebuah kezaliman. Bagaimana tidak, di tengah kondisi seperti ini dengan harga kebutuhan pokok yang mahal dan kesulitan hidup lainnya, penghasilan yang menjadi harapan untuk bisa menyambung hidup malah tidak didapatkan. Terlebih bila ia seorang kepala keluarga yang harus menafkahi anak isterinya. Inilah kegetiran hidup yang harus dialami para guru honorer di negeri kaya raya tapi jauh dari kata sejahtera. Meski demikian tidak sedikit dari mereka yang tetap ikhlas menjalani profesi guru, walau kerap dikecewakan. Padahal tugas dan tanggung jawabnya sama saja dengan mereka yang sudah berstatus PNS.

Untuk masalah ini, seharusnya negara memberi tindakan tegas pada sekolah-sekolah swasta yang tidak membayar gaji guru dan karyawannya. Selain itu, pemerintah juga wajib memberikan support dan bantuan, agar sekolah swasta tetap menyelenggarakan kegiatan pendidikan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Karena pada dasarnya tanggung jawab dunia pendidikan ada di tangan negara. Pemerintah memang telah menganggarkan subsidi bagi para tenaga pendidik honorer, namun faktanya bantuan tersebut tidak bisa diterima secara merata karena terkendala data dan birokrasi yang rumit.

Jika ditelaah lebih mendalam, derita yang dialami guru honorer tersebut erat kaitannya dengan paradigma kapitalis sekuler. Kapitalisme yang mengedepankan materi, membuat negara mempertimbangkan untung rugi ketika memberikan layanan pendidikan. Dengan dalih kemitraan, pemberdayaan dan lain sebagainya proses penyelenggaraannya pun melibatkan pihak swasta. Namun ketika sekolah-sekolah swasta mengalami kendala, pemerintah memandang mereka seakan tidak bisa memberikan pelayanan yang baik. Hingga berimbas pada terhambatnya bantuan dana operasional karena dianggap sebagai pemborosan. Hidup dalam naungan sekuler kapitalisme telah menjadikan manusia sengsara dan semakin hina, karena sistem ini telah menihilkan peran agama dalam mengatur kehidupan, untuk aturan hidup mereka membuatnya sendiri sesuai dengan kehendaknya. Karena itulah peran guru yang begitu mulia dan istimewa tidak dihargai bahkan diremehkan.

Hai ini sangat berbanding terbalik dengan pandangan Islam terhadap para guru. Dalam sistem Islam, guru mendapatkan penghormatan yang luar biasa baik secara akhlak maupun materi, karena menyadari betul bahwa terbentuknya generasi yang unggul bermula dari proses pendidikan yang tidak lepas dari peran seorang guru. Kesejahteraan mereka terjamin melebihi kebutuhannya. Dengan begitu, para guru tidak akan terbebani urusan nafkah keluarga, ia akan memberikan perhatian dan pengajaran terbaik bagi anak didiknya. Negara memberikan penghargaan tinggi termasuk memberi gaji lebih dari cukup. Masa Khalifah Umar bin Khaththab misalnya, ia pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah sebanyak 15 dinar atau setara dengan 51 juta per bulan. Dalam sistem ini guru tidak didiskriminasikan, mereka mendapatkan status yang sama. Selain itu negara juga akan menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan yang memadai secara kualitas dan kuantitas.

Ketika sistem pemerintahan Islam tegak, lahir darinya generasi cemerlang yang berkepribadian Islam dan unggul di berbagai bidang ilmu, seperti tsaqafah, sains dan teknologi, yang hasil karyanya menjadi rujukan sepanjang masa. Dapat dipastikan dalam periayahan sistem ini, tidak akan dijumpai guru yang hidupnya tidak sejahtera apalagi gajinya tidak dibayarkan. Rasulullah saw. bersabda:

“Berikanlah upah pada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam adalah satu-satunya solusi agar nasib guru benar-benar sejahtera dengan sistem Islam, pendidikan yang berbasis akidah Islam, individunya bersyakhsiyah Islam, outputnya menjadikan generasi yang produktif, taat syariat, dan menjadi umat terbaik di sepanjang peradaban Islam.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al Imran : 3 : 110)

Wallahu alam bi ash-shawab

About Post Author