26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sekularisasi Kurikulum Pendidikan, Bencana bagi Generasi

Oleh Irma Faryanti
Ibu Rumah Tangga & Member Akademi Menulis Kreatif

Anjelina Yulianti, seorang siswa SMAs St. Familia Wae Nakeng di Nusa Tenggara Timur mengungkapkan kegundahannya atas kurikulum pendidikan di Indonesia yang terus berganti. Di depan anggota DPR dari komisi X, Andreas Hugo Pareira, Anjelina menyerukan aspirasinya. Menurutnya, perubahan ini seolah telah menjadi semacam tren bergantinya kepemimpinan dan sebagai ajang uji coba. Ia pun menduga hal ini menjadi penyebab sistem pendidikan di Indonesia tidak mengalami kemajuan. Karena perubahan tersebut hanya membuat guru dan siswa kewalahan. (Info Temanggung.com 22 Mei 2022)

Memang, terhitung dari semenjak negeri ini merdeka hingga saat ini, Indonesia telah mengalami pergantian kurikulum sebanyak 11 kali, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013 dan 2015. Namun dari banyaknya jumlah perubahan yang terjadi, tidak sedikit pun membuat dunia pendidikan berubah lebih baik.

Pergantian itu pun saat ini kembali dilakukan, Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan program Kurikulum Merdeka. Mendikbudristek, Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa kurikulum yang sebelumnya dikenal dengan Kurikulum Prototipe ini telah diimplementasikan di hampir 2500 sekolah sejak 2021/2022. Dan mulai tahun ini dapat diterapkan di berbagai satuan pendidikan mulai dari TK-B, SDLB kelas I dan IV, SMP dan SMPLB kelas VII, SMA dan SMALB juga SMK kelas X.

Kurikulum merdeka adalah sistem pembelajaran intrakurikuler yang beragam, di mana siswa memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan potensi, sementara guru lebih leluasa memilih perangkat mengajar sehingga bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan dan minat belajar peserta didik. Projek ini dibuat untuk pencapaian profil pelajar pancasila dan diarahkan untuk memperoleh target capaian pembelajaran tertentu yang terikat dengan konten mata pelajaran.

Indonesia telah mengalami “learning crisis” (krisis pembelajaran) yang cukup lama. Tidak sedikit anak-anak Indonesia yang tidak dapat memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar. Untuk itu pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek menganggap perlu adanya perubahan sistemik melalui kurikulum merdeka sebagai upaya untuk memulihkan pembelajaran dari krisis yang selama ini terjadi.

Adapun kurikulum merdeka yang tengah digaungkan adalah kurikulum berbasis proyek pengembangan soft skills dan karakternya. Sistem ini dibuat menurut paradigma kapitalistik, untuk meningkatkan mutu pendidikan pada penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) untuk mengejar target literasi dan numerasi.

Sistem pembelajaran tersebut bertujuan ingin menciptakan profil pelajar pancasila yang liberal. Karena titik kritis dari kurikulum ini adalah diterapkannya ide kebebasan di tengah pelajar. Siswa bebas menentukan minat dan guru juga diberi keleluasaan mengelola pembelajaran.Pada tahun 2015 Kemenag telah mengirimkan 82 orang dosen di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) ke luar negeri, dengan dominasi ke perguruan tinggi Eropa dari pada ke perguruan tinggi Islam Timur Tengah.

Maka tidak heran jika Mendikbudristek dan Kemenag bekerjasama menyusun materi kurikulum moderasi beragama untuk disisipkan dalam kurikulum Program Sekolah Penggerak (2021).

Upaya pengarusan moderasi beragama di dunia pendidikan digarap dengan serius. Kemenag telah membuat empat modul moderasi beragama untuk diimplementasikan pada satuan pendidikan (2021). Buku ini khususnya akan digunakan oleh guru PAI di sekolah. Bukan hanya sekolah, pesantren pun tidak luput dari program moderasi beragama yang dimasukkan ke dalam UU Pesantren. Rezim membidik pesantren agar bisa mencetak ulama yang moderat.

Di perguruan tinggi, moderasi beragama juga sangat massif. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus menjadikan moderasi beragama sebagai salah satu isu utama dalam KBM, riset, dan pengabdian masyarakat, dengan fokus pada kajian keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Ilmu pengetahuan (pendidikan) merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia, karena menjadi ukuran kedudukan mulia atau tidaknya manusia dibandingkan makhluk yang lain. Keharusan menuntut ilmu tercantum dengan jelas dalam QS. al Mujadalah (58) ayat 11, yang artinya:
“Allah mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.”
Juga dalam HR. Ibnu Adi dan Baihaqi, Rasulullah saw. bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”

Pendidikan dalam Islam adalah upaya mengubah manusia dengan pengetahuan agar pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) sesuai dengan kerangka ideologi Islam. Selanjutnya dengan pendidikan tersebut mampu mengatur dunia dengan Islam. Pendidikan Islam ditujukan untuk menyiapkan generasi agar siap mengemban misi sebagai hamba Allah. Oleh karena itu asas, tujuan, subjek yang diajarkan, isi pelajaran, kurikulum dan pengaturan sekolah harus berlandaskan akidah Islam sebagai satu-satunya landasan kehidupan kaum muslim.

Adapun urgensi pendidikan dalam Islam adalah untuk menjaga ideologi dan tsaqafah umat. Karena keduanya merupakan tulang punggung keberlangsungan kaum muslim, bahkan berpengaruh pada sirnanya eksistensi dan jati diri umat. Terlaksananya pendidikan Islam juga dapat meniadakan dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan.

Negara berpengaruh besar dalam terlaksananya sistem pendidikan, yaitu dengan menyediakan semua instrumen baik berupa kebijakan, sarana juga pembiayaan yang dibutuhkan. Untuk keperluan biaya pelaksanaan pendidikan semuanya ditanggung oleh Baitul Mal dari pos Fai’, Kharaj dan Milkiyah Ammah.

Pentingnya dunia pendidikan dalam pandangan Islam bisa tergambar dari tindakan Rasulullah saat membebaskan tawanan perang Badar dengan menuntut masing-masing dari mereka untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada 10 orang kaum muslimin. Begitu pula yang terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab yang menetapkan gaji bulanan seorang guru sebesar 15 dinar atau setara dengan 60,75 gram emas.

Kegemilangan pendidikan pun tampak dari berdirinya sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi yang beberapa diantaranya masih bertahan hingga saat ini, seperti: Nizhamiyah di Baghdad (1067-1401 M), al Azhar di Mesir (1975-sekarang), al Qarawiyyun di Maroko (859 M- sekarang) dan Sankore di Afrika (989- sekarang).

Begitu pula dalam bidang literasi, sejarah mencatat bahwa kekhilafahan Islam lebih maju dari Eropa. Beberapa diantaranya adalah perpustakaan umum Cordova di Andalusia yang memiliki 400 ribu buku, al Hakim (Andalusia) yang memiliki 40 ruangan yang didalamnya terdapat 18 ribu judul buku. Selain itu juga ada perpustakaan Darul Hikmah di Mesir dengan koleksi sebanyak 2 juta buku, dan di Tripoli (Syam) yang memiliki 3 juta buku.

Dengan pengaturan yang benar sesuai syariat Islam, dunia pendidikan pun meraih kegemilangannya. Lahirlah generasi berkualitas, sosok para ulama yang berhasil mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dengan kesadaran akan perintah Allah Swt. Beberapa diantaranya cukup terkenal di bidangnya, seperti: Ibnu Sina, az Zahrawi dan Ibnu Rusyd yang ahli dalam ilmu kedokteran, al Khawarizmi yang merupakan pakar matematika, dia lah penggagas angka nol dan algoritma. Ada juga Al Idris yang menguasai ilmu geografi, al Zarkalli sebagai ahli ilmu Astronomi, Ibnu al Haitsam dan al Kindi yang menjadi pakar fisika, Jabir Ibnu Hayyan yang ahli dalam kimia, dan masih banyak lagi sosok ilmuwan lainnya.

Demikianlah gambaran sistem pendidikan di masa kekhilafahan Islam, sangat jauh berbeda dengan pendidikan kapitalis yang rusak lagi merusakkan. Kesempurnaan pelaksanaan kurikulum berbasis Islam hanya akan bisa diterapkan saat syariat Allah diwujudkan di bawah naungan kepemimpinan Islam.

Wallahu a’lam Bishawwab

About Post Author