04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

SELAMATKAN GENERASI DENGAN ISLAM


Oleh : Tari
Ibu Rumah Tangga dan Pengiat Dakwah

Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian dan viral di masyarakat akhir – akhir adalah Citayam Fashion Week (CFW). Aktifitas ini menarik perhatian karena peragaan busananya dilakukan di tempat umum seperti trotoar dan zebra cross dan pelakunya para remaja yang terbiasa nongkrong di salah satu kawasan bisnis di Jakarta. Walaupun aksi mereka ini memakai fasilitas umum dan mengganggu ketertiban tapi tak sedikit yang menyebutnya sebagai kreativitas. Sehingga ada beberapa kalangan yang memberikan apresiasi berupa beasiswa pendidikan penuh, serta menawarkan area depan kantornya sebagai ajang fashion show. Padahal kondisi sebagian mereka tidak bersekolah, jarang pulang kerumah, tidur di mana saja, kalau ia seorang Muslim entah ingat sholat atau tidak. Namun sikap ini justru berkebalikan terhadap sejumlah remaja yang melakukan tilawah al- Quran di beberapa tempat umum, tidak ada pejabat yang mendukung apalagi memuji dan mengapresiasi.

Salah satu potensi yang di miliki Indonesia yaitu berlimpahnya usia muda dan produktif. Ada sekitar 60 juta lebih jumlah penduduk usia muda dengan rentang usia 15-34 tahun. Harusnya bonus demografi ini dapat memunculkan generasi penerus yang berkualitas. Namun sayangnya, kebanyakan mereka justru terjerat kemiskinan, putus sekolah, terlibat kriminalitas, hedonis dan tidak punya tujuan hidup. UNICEF menyebutkan selama masa pandemi pada tahun 2022 ada sekitar 4,3 juta pelajar di Indonesia putus sekolah. Sedangkan Laporan Statistik Pendidikan Tinggi tahun 2020 menunjukkan ada lebih dari satu juta anak muda Indonesia drop out dari bangku kuliah, baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Di samping itu, remaja Indonesia juga banyak teracuni budaya hedonisme, memburu kesenangan fisik, hiburan, mencari materi dan popularitas. Fenomena CFW adalah gambaran para remaja yang mencari kesenangan dan popularitas. Bahkan sikap hedonis menjadikan sebagian anak muda Indonesia juga tidak takut berhubungan seks sebelum nikah. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia tahun 2019 terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan 33 persen remaja pernah berhubungan di luar nikah. Di antara mereka ada yang berzina karena semata – mata mencari kesenangan dan sebagian lagi karena terjun ke dunia prostitusi.

Sementara itu kondisi ibadah sebagian anak muda Indonesia begitu memprihatinkan. Menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI) ada 65% Muslim di Indonesia tidak bisa membaca al Quran, termasuk penduduk usia muda. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya kampanye kontra radikalisme dan terorisme, terutama di dunia pendidikan sekolah maupun kampus. Tuduhan bahwa rohis sekolah adalah sarang perekrutan para teroris mengakibatkan pengajian di sekolah maupun kampus semakin dijauhi anak-anak muda. Sungguh ironi, apakah kita ingin anak-anak kita tersesat dari jalan Allah, malas beribadah dan rusak moralnya? Siapapun yang peduli dengan nasib umat dan negeri ini harus berpikir dan berusaha menyelamatkan para pemuda. Mereka adalah harapan umat pada masa depan. Syaikh Mustafa al Ghalayaini, seorang pujangga Mesir, berkata, “Sungguh di tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat.”

Tidak ada perubahan tanpa melibatkan dan tanpa dilakukan anak – anak muda. Itu karena mereka adalah kelompok manusia yang cerdas dan lebih mudah menerima petunjuk ketimbang orang yang sudah tua. Untuk itu ada sejumlah langkah yang harus dilakukan orang tua dan kaum Muslim untuk menyelamatkan para pemuda dari ideologi sesat dan rusak yaitu sekulerisme- kapitalisme, sekaligus mencetak mereka agar cerdas dan bermental pejuang.
Pertama: Mengokohkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dunia dan akhirat. Para pemuda disadarkan bahwa mereka adalah ciptaan Allah SWT dan kelak akan kembali kepada-Nya. Dengan kuatnya akidah, anak- anak muda akan sadar kalau hidup mati mereka adalah semata untuk Allah SWT.
Kedua : Memahamkan para pemuda bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah mendapatkan ridha Allah. Caranya dengan menaati aturan – aturan- Nya dan memperjuangkan agama – Nya.
Ketiga : Membimbing para pemuda untuk membangun habit/kebiasaan Islami sejak awal, manaati Allah SWT dan meninggalkan kemaksiatan.
Mereka didorong agar giat beribadah, berbakti pada orangtua, rajin menuntut ilmu dan mengerjakan amal shalih. Selain itu, para pemuda harus ditempa agar tidak memperturutkan hawa nafsu seperti memakai narkoba, haus popularitas, bergaul bebas dengan lawan jenis, dll.
Keempat : mendorong para pemuda memiliki kepedulian terhadap kondisi umat, serta menjadikan mereka pengemban dakwah yang akan memperjuangkan tegaknya agama Allah SWT.
Wahai kaum Muslim, mari selamatkan anak-anak kita dan para pemuda Muslim dari ideologi sekulerisme – kapitalisme dan para pengusungnya. Jadikanlah mereka para pemuda cerdas dan bermental pejuang agama Allah. Jangan sampai kita meninggalkan generasi pengganti yang buruk akhlaknya, bodoh dan menjadi tersesat.
WalLahu a’lam bi ash-shawwab.

About Post Author