06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pembiasaan Hijab, Seperti Bulliying?

Oleh Intan A.L
Pemerhati Masalah Remaja

Kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah telah berjalan seperti biasa. Meski demikian, sebuah sekolah di daerah Bantul, Yogyakarta telah dilaporkan karena ada siswinya yang merasa dipaksa untuk mengenakan hijab selama mengikuti kegiatan mpls sekolah. Bahkan dikatakan bahwa hal tersebut berdampak secara psikologis hingga siswi tersebut merasa depresi (cnnindonesia.com) . Hal ini menjadi perhatian beberapa pihak yang menganggap bahwa hijab adalah pilihan yang tidak boleh dicampuri oleh institusi pendidikan. Bahkan ada yang menyamakan tindak pembiasaan hijab sebagai bentuk bulliying (kumparan.com). Fenomena seperti ini sebetulnya bukan hal yang baru. Penyelesaian masalahnya pun tidak jauh berbeda. Himbauan toleransi dan menghormati pilihan selalu kembali digaungkan. Dampaknya pembiasaan hijab jadi berkonotasi negatif sebab dianggap merampas hak dan kebebasan seseorang bahkan seorang pejabat menyamakannya dengan bulliying.

Hal ini tak mengherankan sebab penerapan sistem sekuler liberal menggiring pemikiran manusia pada kebahagiaan yang semu. Salah satunya adalah kebebasan dalam berperilaku. Meski dirinya adalah seorang muslimah yang telah baligh dan mendapat taklif hukum untuk menutup aurat dengan sempurna. Dalih kebebasan dapat mematahkan kewajiban itu dan dianggap lebih tinggi dari seruan Asy-Syari’. Penerapan sistem sekuler liberal telah merusak kepribadian seorang muslim. Ia merasa asing dan risih terhadap penerapan syariat. Dan menganggap bahwa masalah agama adalah area privasi yang tidak boleh ada campur tangan pihak ke tiga.

Sekularisme mengarahkan sikap alergi pada implementasi syariat terutama jika itu berlainan dengan kehendak manusia. Hal ini berbahaya sebab murid yang dididik bisa jadi cerdas secara intelektual tapi jauh dari nilai agama. Kita bisa tengok beberapa negara lain seperti Korea Selatan dan Jepang, dimana murid-muridnya beretos belajar tinggi namun kehilangan fitrahnya sebagai hamba dari Pencipta. Akibatnya tidak sedikit para pelajar melakukan bunuh diri, kehilangan motivasi hidup, sebab tidak adanya pondasi yang membangun fitrahnya sebagai manusia lemah yang butuh kepada yang Mahakuat yakni Allah Swt. 

Berbeda dengan Islam yang tatanan pendidikannya memiliki mekanisme dalam mendidik manusia agar mewujudkan pemikiran dan pola sikap Islam. Dari sanalah akan terbentuk kepribadian Islami yang mengejar kebahagiaan hakiki yakni rida Allah Swt. Maka tidak akan ada sikap fobia pada syariat bahkan ia akan melaksanakannya dengan penuh kesungguhan dan semangat demi dicintai oleh Allah Swt. Kecerdasannya akan diberdayakan guna beribadah kepada-Nya sebanyak mungkin. Seperti tidak ragu untuk membantu kemajuan hidup masyarakat tanpa motif materialistik, sebab mengutamakan kebermanfaatan dan kemajuan manusia demi perkembangan Islam yang rahmatan lil alamin.

 Jelaslah dinamika dunia pendidikan dalam sistem sekuler liberal malah makin menjauhkan identitas keislaman para siswa. Jauh berbeda dengan sistem Islam yang menjadikan aqidah sebagai landasan pendidikan. Lalu mewujudkannya dalam aturan yang secara terus menerus membentuk pembiasaan untuk terikat hukum syara’ dengan keimanan tanpa paksaan. Hanya dalam sistem Islam yakni khilafah yang akan mampu menerapkan sistem pendidikan Islam yang sahih. Selanjutnya menjadikan proses pembentukan kepribadian Islam lebih mudah dan alami.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author