04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Keberanian Israel Buah dari Normalisasi

Oleh : Desi Anggraeni Putri (Aktivis Dakwah Subang)

Lagi dan lagi terjadi, serangan yang dilakukan Israel kepada kaum Muslimin di Palestina, pada beberapa hari yang lalu, selama tiga hari telah menewaskan 44 warga Palestina, termasuk 15 anak-anak, dan sedikitnya 350 warga sipil terluka, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina.

Membuat para negeri-negeri muslim merasakan prihatin dan bahkan sampai mengecam, seperti yang dilakukan oleh Aqsa Working Group mengecam keras langka Zionis Israel yang dilansir oleh Republik.co.id pada Ahad, 07/08/2022.

Para pemimpin dunia dan seluruh komunitas internasional dituntut untuk merespons kedzaliman ini dengan nyata. Tidak sekedar gimmick diplomatik apalagi standar ganda, memberikan kecaman tapi terus menjalin hubungan mesra dengan Zionis. Atau mengutuk, memberi sanksi, dan memboikot Rusia atas invasi ke Ukraina tapi membiarkan kedzaliman Zionis di Palestina.

Kepada pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, AWG menyerukan untuk terus memperkuat bantuan dan dukungan kepada rakyat Palestina dan menghindari sejauh-jauhnya hubungan dengan Zionis Israel. Termasuk menolak keikutsertaan Timnas U-19 Israel pada Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun depan. Karena penolakan itu sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 Alinea Pertama, juga seruan Presiden Joko Widodo pada Konferensi OKI tahun 2016 untuk boikot Israel.

Namun hal itu sudah nampak jelas, bahwa rasa prihatin dan mengecam tidak memberikan solusi yang sampai pada akar-akarnya. Apalagi dengan adanya hubungan baik dan normalisasi terhadap Israel yang telah dilakukan oleh negara-negara Arab, telah membuat daya tawar Israel di kawasan makin tinggi.

Bahkan dapat didefinisikan sebagai mengejar kebijakan atau tindakan yang memperlakukan Israel sebagai bagian yang ”normal” dari Timur Tengah, sehingga normalisasi tidak meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.

Israel sendiri telah memaksakan diri menguasai tanah Palestina melalui perang berturut-turut, superioritas militer, dan senjata nuklir, tetapi fakta-fakta ini tidak menghasilkan pengakuan atau legitimasi untuk pendudukannya atas Palestina, juga tidak memungkinkannya untuk membuka jalan ke wilayah Arab.

Karena bagi Israel, “normalisasi” berarti negara-negara lain menerima pendudukan mereka atas Palestina dan narasi Zionis mereka mengenai tanah dan orang-orang Israel sambil menyangkal narasi lain yang menentang mereka.

Untuk itu, kaum muslim harus mencegah, bahkan mengutuk penguasa mereka yang telah membangun hubungan apa pun dengan Israel, termasuk menormalisasi hubungan karena akan membahayakan masa depan rakyat Palestina sehingga akan menjadi periode panjang kekejaman Israel atas Palestina.

Hal ini akibat tidak ada kesatuannya kepemimpinan umat Islam dalam satu wadah, akibat adanya ikatan Nasionalisme sehingga membuat kaum muslimin tersekat dan tidak ada kekuatan global yang berpihak pada Islam termasuk umat Islam yang akan menyelesaikan konflik tersebut. Kekuatan politik Islamlah yang siap mengusir Israel dari tanah Palestina dan menggentarkan aliansi Israel dan Amerika yang selama ini memberi dukungan pada Israel.

Oleh karena itu, kita sebagai seorang Muslim, setelah mengetahui fakta yang ada, wajib untuk mengingatkan melalui dakwah bahwa kita umat Muslim mesti bersatu dalam wadah yang sama, untuk melindungi tanah dan nyawa suci umat Islam yang sangat begitu berharga.

About Post Author