04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Dibalik Upaya Melindungi Pendidikan dari Radikalisme


Oleh : Ummu Najah

Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mengatakan memasuki tahun ajaran baru, dunia pendidikan khususnya pendidikan tingkat Perguruan Tinggi harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham dan gerakan kekerasan, terutama yang ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dengan legitimasi yang didasarkan pada pemahaman keagamaan yang salah. Paham dan gerakan tersebut adalah radikalisme, ekstrimisme, intoleransi dan terorisme. Gatot menyebutkan berdasarkan Catatan Global Terrorism Index sepanjang tahun 2021 terdapat kasus 5.226 aksi terorisme di seluruh dunia, dan korban meninggal hingga 7.142 jiwa. (beritaind.com. 12/08/22)

Sejumlah kampus melakukan mitigasi masuknya paham-paham tersebut ke lingkungan kampus. Namun masyarakat masih mempertanyakan benarkah kampus atau mahasiswa terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstrimisme hingga terorisme. Apakah definisi dari radikalisme dan terorisme dan bagaimana ciri-cirinya, karena definisi tersebut masih absurd di pandangan masyarakat.

Jika yang dimaksud radikalisme adalah terorisme dengan berbagai tindakan teror dan aksi kekerasan yang membahayakan masyarakat hingga pembunuhan tentu semua sepakat aksi tersebut harus dilawan. Namun radikalisme ternyata didasarkan kepada persetujuan mahasiswa terhadap ajaran jihad dan sistem Islam atau Khilafah Islamiyah. Radikalisme sering dialamatkan kepada mereka yang memiliki pemahaman Islam yang lurus. Padahal jihad dan khilafah merupakan ajaran Islam, yang dari dulu sudah terdapat dalam kitab muktabar salafus shalih. Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam. Khilafah merupakan mahkota kewajiban yang menjadikan umat Islam bisa menjalankan syariat Islam secara kaffah yang telah difardhukan oleh Allah SWT. Apakah itu yang dituduh akan menggulingkan pemerintahan yang sah.

Penerapan Syariat Islam secara kaffah sejatinya merupakan solusi permasalahan yang dihadapi negeri ini. Kaum Muslimin pernah memimpin dunia, mencapai kejayaan di berbagai bidang. Pernah menyandang predikat sebagai khairu ummah atau umat terbaik pada saat khilafah tegak. Keamanan, keadilan dan kesejahteraan benar-benar terwujud dan dirasakan oleh seluruh individu masyarakat.

Adanya isu kampus terpapar radikalisme sejatinya merupakan upaya pengkerdilan kampus sebagai produsen para pemikir. Dan memandulkan fungsi kritis mahasiswa dan dosen terhadap kebijakan pemerintah. Dengan fleming kampus terpapar radikalisme membuat dosen dan mahasiswa bungkam terhadap kebenaran. Padahal wujud pengabdian intelektual adalah menyuarakan kebenaran.

Saat ini dunia termasuk Indonesia berada dalam cengkraman kapitalisme global. Radikalisme sejatinya merupakan proyek untuk menjaga kepentingan barat agar tetap bisa menguasai dunia dengan ideologi kapitalis sekuler. Proyek ini sengaja memunculkan Islamophobia terhadap masyarakat dan umat Islam sendiri. Ajaran Islam terutama jihad dan khilafah dimonetisasi sedemikian rupa, sehingga umat Islam pun ikut memusuhinya. Tujuannya adalah untuk menghadang kebangkitan Islam. Karena hanya tegaknya khilafah Islamlah yang mampu mengakhiri hegemoni barat atas dunia Islam saat ini. Radikalisme menjadikan islamophobia untuk melenyapkan ideologi Islam.

Problem mendasar negeri ini sejatinya bukanlah radikalisme, tetapi karena tidak mau taat kepada Allah SWT dengan menerapkan SyariatNya. Tetapi malah menerapkannya sistem kapitalisme sekuler buatan manusia yang rusak dan merusak semua aspek kehidupan dan. Di bidang ekonomi kapitalisme sekuler menjadikan kepemilikan umum dijarah oleh segelintir kapitalis untuk kepentingan pribadi. Dibidang sosial, kapitalisme membenarkan kebebasan berekspresi sehingga melahirkan kerusakan masyarakat termasuk generasi. Kasus-kasus fresex, lgbt, aborsi, miras, narkoba dan kerusakan lainnya semakin meningkat. Di bidang politik kapitalisme dengan sistem demokrasinya berbiaya tinggi, sehingga merebahlah kasus-kasus korupsi dan kolusi. Demokrasi juga menjadikankan manusia sebagai pembuat aturan atau hukum, hukum bisa berubah sesuai kepentingan, hukum bisa dijual belikan.

Karena itu solusi tuntas negeri ini adalah kembali kepada ketaatan kepada Allah, dengan menerapkan Syariat Islam secara kaffah. Allah SWT berfirman artinya “Apakah kamu beriman kepada sebagian al Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain, tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat pedih. Allah tidak lengah dari yang kamu perbuat. “ ( TQS. Al Baqarah : 85)

Wallahu a’lam bi ash-showab

About Post Author