26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Insiden Salman Rushdie dan Ghirah Umat Islam


Oleh : Bunda Hanif

Penulis Salman Rushdie ditikam di leher dan dada (12/08/2022) saat memberikan ceramah soal kebebasan artistic di Institusi Chautauqua, New York, Amerika Serikat, waktu setempat. Akibat kejadian tersebut, tokoh sastra Inggris itu terancam kehilangan satu matanya. Adapun pelaku serangan tersebut adalah Hadi Matar, seorang pria berusia 24 tahun yang berasal dari Fairview, New Jersey. (Muslimah.news.com, 19/8/2022)

Rushdie adalah penulis kontroversial yang paling dicari oleh Pemerintah Iran, karena novelnya yang terbit pada tahun 1988, The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Akibat tulisannya, ia sempat dikejar-kejar Pemerintah Iran. Pemerintah tertinggi Iran pada saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 bahkan sempat mengeluarkan fatwa yang menyerukan kematian terhadap Rushdie. Rushdie pun akhirnya bersembunyi dan kembali muncul setelah 9 tahun.

Rushdie lahir di India dari keluarga muslim liberal. Namun ia menyatakan dirinya adalah manusia sekuler dan atheis garis keras. Ia kerap kali bersembunyi hingga berpindah-pindah tempat tinggal dikarenakan berbagai upaya pembunuhan terhadap dirinya. Ia bahkan tidak memberitahukan anak-anaknya di mana tempat tinggalnya. Selama hampir satu dekade ia bersembunyi dan sempat memperoleh perlindungan polisi dari pemerintahan Inggris. Saat ini ia diketahui tinggal di New York, Amerika Serikat.

Rushdie adalah seorang penganjur kebebasan berbicara. Bahkan ia pernah membela majalah Perancis Charlie Hebdo, yang pada tahun 2015 memuat karikatur Nabi Muhammad saw sehingga membuat umat Islam di seluruh dunia marah.

Sekalipun Rushdie kerap menista Islam menghina Rasulullah saw, namun ia tidak dapat dipidana. Atas nama kebebasan berbicara dan berekspresi, Rushdie justru diberi perlindungan. Hal ini nampak jelas, Barat memberikan fasilitas dan dukungan untuk menista Islam.

Penistaan agama sering kali terjadi. Pelakunya tidak hanya Rushdie. Di Belanda, penistaan terhadap Rasulullah pernah dilakukan oleh Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda sekaligus pendiri Partai untuk Kebebasan yang merupakan partai ketiga terbesar di Belanda. Di India juga terjadi penghinaan terhadap Rasulullah saw oleh Nupur Sharma, politisi Partai Bharatiya Janata (BJP). Di Denmark, Jyllands – Posten, harian lokal Denmark menyebarluaskan 12 karikatur Nabi Muhammad saw. Kejadian tersebut didukung oleh Swedia dan Norwegia.

Bagi Barat, semua kejadian ini adalah bagian dari hak asasi yaitu bagian dari kebebasan bertingkah laku dan berpendapat. Namun kebebasan bertingkah laku ini hanya memihak mereka, Islam selalu berada dalam kondisi terhina dan direndahkan. Saat Islam melakukan perlawanan, mereka akan dianggap radikal atau Islam garis keras. Keadaan semakin parah dengan makin derasnya arus Islamophobia yang bahkan sudah menjangkiti negeri-negeri muslim.

Kasus penistaan yang seringkali terjadi seharusnya memunculkan ghirah umat. Islam adalah agama yang mulia, sangat tidak pantas adanya penghinaan terhadap Islam. Seperti sabda Rasulullah saw, “Islam itu agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam,” (HR Baihaqi)

Barat telah memfasilitasi penistaan terhadap Islam, karena mereka adalah para penjahat agama yang telah dan tengah mengkampanyekan kesesatannya. Penjahat agama ini muncul karena adanya sistem sekulerisme, dan mereka sangat pantas dihukum,

Namun sayangnya umat Islam telah diracuni pemikirannya oleh sistem liberalisme kapitalisme. Ghirah dalam membela agamanya semakin pudar. Mereka seolah larut dalam kehidupan duniawi yang melenakan. Islamophobia yang terus dihembuskan ke negara-negara muslim telah berhasil membuat umat kehilangan semangat dalam membela agamanya.

Adapun umat Islam yang masih berpegang teguh terhadap agamanya, harus rela mendapatkan label buruk ataupun perlakuan yang menyakitkan. Namun Allah akan selalu menolong orang yang membela agamaNya. Allah akan menetapkan kebinasaan bagi orang yang menistakan Islam dan RasulNya, sebagaimana firmanNya, “Sesungguhnya, orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS Al-Kautsar; 3)

Sungguh, kemuliaan hanya untuk Islam dan kaum muslim selama mereka bersedia membela Allah dan RasulNya. Semoga kita termasuk orang yang mengambil bagian untuk memperjuangkan Islam bukan justru menjadi penistanya.

Wallahu ‘alam bisshowab.

About Post Author