26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Non-biner Unjuk Gigi, Bukti Berhasilnya Liberalisasi

Oleh A. Maleeka
(Pelajar/Homeschooler)

Liberalisasi ialah pemahaman yang bertujuan untuk menerapkan paham liberal (mendewakan kebebasan) dalam kehidupan. Sangat mengkhawatirkan melihat fakta bahwa berhasilnya liberalisasi pasti akan diiringi dengan rusaknya sebuah generasi.

Baru-baru ini seorang mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar viral di media sosial akibat pengakuannya sebagai non-biner. Oleh karena perbuatannya tersebut, ia dikeluarkan oleh dosen pada masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Mengutip dari visa.co.id (22/7/2022) – Ketika ditanya oleh dosen mengenai jenis kelamin, mahasiswa baru yang diketahui berinisial NA mengakui bahwa dirinya netral gender (non-biner) tidak memilih laki-laki atau perempuan. Dosen tersebut mengungkap hanya ada dua jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan, kemudian meminta panitia untuk mengeluarkan mahasiswa baru tersebut dari ruangan.

Non-biner adalah pilihan gender dari kalangan eljibitiqi yang saat ini makin berani unjuk gigi alias menampakkan eksistensi. Kehidupan masyarakat sekarang semakin bebas dan sulit terkendali. Aneh tetapi nyata, orang-orang dengan entengnya memutuskan tidak menjadi laki-laki atau perempuan sesuka hatinya saja.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal ….” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kebebasan berujung kebablasan yang dilakukan manusia hari ini adalah akibat dari buah busuk liberalisme yang diciptakan oleh pemahaman sekuler , sistem yang tak ingin agama turut campur untuk mengatur kehidupan. Penyimpangan yang kian menyebar disebabkan karena manusia sebagai pemimpin di muka bumi tidak tegas menolak dan memberi efek jera yang nyata bagi para perilaku eljibitiqi yang kian merusak.

Mengutip dari fajar.co.id (21/8/2022) – Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan pihak kampus harus bertindak tegas mengenai jika adanya indikasi LGBT. “Kalau pelaku menyebut diri non-biner dalam perkara orientasi seksual pribadi yang menyimpang, baik secara pemahaman maupun perilaku, maka pihak kampus harus bertindak hingga memberi sanksi. Ini bisa menjadi kampanye LGBT. Pihak kampus untuk melawan dengan sanksi serta menetapkan kebijakan sehingga kejadian serupa tidak terjadi,” tegasnya.

Adanya ketegasan gubernur setempat sepatutnya ditindaklanjuti dengan kebijakan yang dapat menghapus beragam regulasi kampus seluruh negeri dari pengaruh nilai akomodatif atau bersifat menyesuaikan diri terhadap perilaku menyimpang eljibitiqi. Berbagai pemikiran merangsek pada pola pikir mahasiswa di kampus, maka perlu disaring dengan benar agar para pemelajar tidak ikut larut dalam pemikiran serba permisif dan liberal.

Seharusnya ada ruang khusus bagi mahasiswa untuk terbiasa berdiskusi tentang nalar kritis dan berpikir positif, serta banyak mengontribusikan diri dengan memiliki kegiatan bermanfaat pun bermoral, baik untuk kemajuan kampus maupun masyarakat. Kurangnya kegiatan keagamaan karena kerap dilabeli dengan terosis, radikalis, dan sebagainya, mengakibatkan merebaknya eljibitiqi akibat lemahnya iman dan takwa kepada Allah Swt., lupa dengan aturan syariat yang harus ditaati dengan sepenuh hati.

Dalam syariat Islam, eljibitiqi adalah perilaku yang melampaui batas, Allah Swt. berfirman:

“Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”” (QS. Al-A’raf: 81)

Islam sejatinya sangat melawan perilaku eljibitiqi, pun memahamkan pada umat bahwa perilaku tersebut adalah menyimpang dan mengundang azab Allah. Islam bukan hanya agama ritual, oleh sebab itulah Islam memiliki aturan dalam tatanan negara yang menerapkan ideologi Islam dengan syariat Islam yang menyeluruh (kafah) salah satunya memiliki sanksi tegas bagi para pelaku eljibitiqi yang dapat membuat efek jera.

Hari ini, liberalisme yang diusung oleh Barat sang musuh Islam tak luput untuk mengikut sertakan istilah Hak Asasi Manusia (HAM), telah berhasil memberi ruang khusus bagi para perilaku menyimpang seksual baik di dunia maya maupun dunia nyata. Barat ternyata juga berhasil dalam membuat generasi muslim lupa dengan identitas sehingga tak mengenali jati dirinya.

Maka, eljibitiqi tidak cukup jika dilawan oleh gerakan individual saja, negara perlu turut campur dan hadir di garis terdepan dalam melindungi generasi dari kehancuran. Jika negara tak tegas dan cenderung membiarkan eljibitiqi bersarang di mana-mana, maka Negeri Ibu Pertiwi telah kehilangan harapan untuk membangun bangsa yang bermoral.

Eljibitiqi telah sangat menyalahi fitrah manusia. Maka dari itu, hanya sistem Islam yang dapat menyelamatkan generasi dari bahaya kehancuran, hanya dengan sistem Islam perilaku menyimpang seksual bisa dicabut dari akar-akarnya melalui hukuman yang membuat efek jera.

Wallahualam bissawab.

About Post Author