28/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Rektor Koruptor, Mengapa?

Oleh Ranti Nuarita, S.Sos.
(Aktivis Muslimah)

Korupsi seakan-akan menjadi masalah negeri yang tak kunjung usai dan semakin menjadi-jadi, yang paling anyar tim penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Karomani dalam operasi tangkap tangan (OTT), Jumat (19/8/2022) waktu setempat.

Dikutip dari Detiknews, Sabtu (20/8/2022). Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Karomani terkena operasi tanggap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebelum kena OTT KPK, Karomani mengikuti acara pembentukan karakter (Character Building).

Kasus ditangkapnya rektor Unila tersebut menjadi perhatian publik, pasalnya Karomani juga terkenal sebagai tokoh yang mempropagandakan kampus bebas dari radikalisme, sebab menurutnya radikalisme adalah ancaman yang saat ini paling membahayakan di lingkungan kampus. Akan tetapi, pada faktanya Karomani yang selama ini tegas menangkal radikalisme di kampus, ternyata ia sendiri yang justru radikal dalam aspek kriminal.

Tertangkapnya rektor Unila menjadi bukti tak terbantahkan bahwa revolusi mental yang digadang-gadang penguasa negeri ini tampaknya gagal total. Character building yang selalu menjadi gagasan dan slogan seakan hanya omong kosong belaka, seiring penangkapan rektor Unila juga deretan kasus-kasus korupsi dan moralitas kekuasaan saat ini.

Bukan tanpa alasan, rusaknya karakter hari ini sebenarnya bermula dari kerusakan sistem sekularisme. Sistem sekularisme ini faktanya gagal membentuk karakter yang baik, mulai dari tingkat generasi muda hingga pejabat negara. Hampir di semua wilayah dari pusat hingga daerah menyemai bibit korupsi. Lembaga pemerintahan, bahkan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat lahirnya para intelektual serta dipercaya sebagai pusat peradaban manusia, ternyata tidak ada yang bebas dari masalah korupsi.

Menjadikan karakter generasi antikorupsi tidak cukup hanya dengan dibangun dari kegiatan pelatihan berbasis sekuler, tetapi perlu diiringi dengan perubahan sistem secara komprehensif. Ada tiga aspek yang harus berdiri kokoh untuk memberantas kasus korupsi di negeri ini. Pertama, ketakwaan individu, rakyat, maupun pejabat. Kedua, kontrol baik oleh masyarakat, kelompok, terhadap kemungkaran yang terjadi di tengah masyarakat. Ketiga, penegakan hukum oleh negara. Jika ketiga aspek ini tegak maka praktik penyimpangan sekecil apa pun bisa diatasi.

Hanya sistem Islam yang memiliki solusi komprehensif tersebut. Islam di level pertama akan membentuk ketakwaan individu dimulai dari yang paling dasar yakni keluarga. Keluarga dalam sistem Islam memahami urgensi membentuk kepribadian Islam kepada anak. Keluarga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai akidah Islam (taat hanya kepada Allah dan rasul-Nya), mengajarkan standar benar dan salah sesuai hukum syarak. Penanaman akidah Islam serta pembiasaan taat dengan syariat akan membentuk generasi dengan karakter anak yang saleh, salihah.

Kedua, di level masyarakat atau lingkungan yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh akan berperan sebagai kontrol sosial mengingatkan dengan berdakwah amar makruf nahi mungkar. Masyarakat pun tidak akan ragu untuk melaporkan setiap kemungkaran dan kemaksiatan yang terjadi kepada pihak berwenang.

Ketiga di level negara pemegang super power tertinggi akan memberlakukan pengawasan ketat yang akan dilakukan oleh badan pengawasan/pemeriksa keuangan terhadap para pegawai, penguasa, juga pejabat. Jika terdapat pegawai, pejabat, atau penguasa yang melakukan korupsi negara dalam sistem Islam tidak akan ragu memberikan sanksi yang bisa melahirkan efek jera bagi pelaku yang ditetapkan oleh khalifah.

Tidak hanya itu, negara yang menerapkan sistem Islam secara kafah juga akan menerapkan sistem pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah Islam. Sehingga baik individu, rakyat, pejabat, bahkan penguasa akan terdidik sesuai dengan tsaqafah dan pemahaman Islam, yang akhirnya akan tercermin dari pola pikir juga sikapnya.
Sejarah mencatat selama 13 abad ketika generasi menggenggam Islam, tidak diragukan telah menciptakan generasi-generasi muda yang mumpuni, menjadi penopang tegaknya peradaban.

Hanya sistem Islam yang diterapkan di dalam wadah institusi negara yang dapat menjadi solusi tuntas atasi masalah korupsi, maka sudah saatnya kaum muslim mengusahakan sistem Islam segera terwujud di muka bumi, menggantikan sistem sekuler demokrasi yang telah terbukti menyuburkan praktik korupsi.

Wallahualam bissawab.

About Post Author